Terpilih Ketua PAC Muslimat NU Bangsri, Inilah Profil Hj. Nur Istiqlaliyah

JEPARA | GISTARA. COM – Hj. Nur Istiqlaliyah atau yang akrab disapa bu Nuris adalah putri pertama pasangan H. Ali Hamim dan Hj. Latifah Fauzan. Dilahirkan di Banjaragung pada 15 November 1965 dalam suasana keluarga sederhana yang menanamkan nilai agama dan kerja keras sejak dini.

Masa kecilnya diwarnai suasana pedesaan yang akrab dengan lantunan mengaji, kerja di ladang, pasar, dan kebersamaan warga. Dari lingkungan itulah tumbuh karakter tangguh, sabar, dan penuh kepedulian terhadap sesama. Pendidikan karakter dari kedua orangtuanya berpengaruh besar dalam perjalanan hidupnya.

Pendidikan formalnya ditempuh di MTs dan MA Matholiul Falah kajen, Pati selama enam tahun. Pada usia yang relatif muda, ia dipercaya menjadi Ketua Pondok PPAI di bawah asuhan (alm.) KH. Rifa’i Nasuha Kajen pada tahun 1981–1983. Amanah itu dijalani dengan penuh tanggung jawab, meski harus membagi waktu antara belajar dan mengabdi.

BACA JUGA: Kolaborasi Lintas Instansi, PLN Kebut Pemulihan Kelistrikan Aceh

Setamat dari Mathole’ tahun 1984, beliau mulai mengabdikan diri. Yang pertama adalah menjadi pengajar di Taman Kanak-Kanak (TK) pada tahun 1985. Lembaga tersebut dirintis oleh Hj. Latifah Fauzan, ibunya. Profesi sebagai pengajar TK ia tekuni dengan penuh kesabaran hingga tahun 2025—empat puluh tahun lebih mendidik generasi demi generasi.

Selain itu, ia juga mengajar di Madrasah Ibtida’iyah (MI) Matholiul Ulum tahun 1986 dan juga di MTs Matholiul Ulum pada tahun yang sama. “Bersamaan dengan dibukanya MTs, mulai ada anak-anak (santri- red) yang ikut ngaji di rumah,” jelasnya.

Tahun 1984 di Banjaran (baca:Banjaragung) beliau adalah perempuan pertama yang menyelesaikan pendidikan tingkat madrasah aliyah (MA). Diketahui, Hj. Nur Istiqlaliyah adalah salah satu lulusan terbaik dari mathole’

Ujian Ekonomi
Dalam perjalanan hidupnya, Hj. Nur Istiqlaliyah juga merasakan pahit-manis dunia usaha. Bersama dengan suaminya, H.M. Sobri berbagai usaha sebagai penopang ekonomi keluarga pernah dijalani.

Tahun 1987, ia membuka toko kelontong dan menjual minyak tanah, melayani kebutuhan warga sekitar. Usaha ini relatif bertahan lama.

BACA JUGA: Peringati Haul Gus Dur ke-16, IKA PMII Jepara Hidupkan Spirit Kemanusiaan dan Keilmuan

Ia juga pernah menjalani usaha mindring pada tahun 1992. Usaha ini relatif berhasil untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk empat putra-putrinya.

Kemudian mencoba peruntungan dalam usaha wallet pada tahun 1994. Namun usaha itu harus berakhir dengan kebangkrutan.

Alih-alih menyerah, ia bangkit kembali dengan membuka usaha tratak pada tahun 1996, disusul usaha mebel pada tahun 1999.

Setiap kegagalan diterimanya sebagai pelajaran hidup. Baginya, jatuh bukan untuk disesali, melainkan untuk dikuatkan.

Aktif Berorganisasi
Sejak tahun 1986, Hj. Nur Istiqlaliyah aktif di Fatayat NU hingga tahun 1999. Ia menempa diri dalam dunia organisasi perempuan muda NU. Pengalaman panjang itu menjadi bekal berharga ketika ia dipercaya memimpin.

Pernah juga aktif dalam dunia politik tahun 1990-an. Puncaknya, ia terpilih sebagai Ketua Muslimat NU Bangsri dan mengemban amanah tersebut selama dua periode, (2020–2030).

Kepemimpinannya dikenal tenang, mengayomi, dan penuh pertimbangan. Ia lebih suka bekerja dalam diam, membangun program yang menyentuh kebutuhan nyata anggota.

Tahun 2025 ini, beliau telah purna tugas di TK tempat pengabdiannya. Meski begitu beliau masih aktif dalam kegiatan organisasi dan pengajaran. Ia menjadi pengasuh para santri di rumahnya dan rutin mengisi berbagai kajian keagamaan. Dari mushala kecil hingga majelis taklim desa, suaranya yang khas menjadi penyejuk, nasihatnya sederhana namun membumi, mudah dipahami oleh masyarakat desa.(KA/MD)

Related posts

MA NU Mindahan Batealit Gelar Serasehan Remaja Peringati Isra’ Mi’raj, Tekankan Pembentukan Karakter dan Akhlak Mulia

Jateng Miliki 327 Desa Antikorupsi, Upaya Wujudkan Tata Kelola Pemerintah Desa yang Baik

86 Warga Karimunjawa Terdampak Musim Baratan Terima Bantuan dari BAZNAS Jepara