Oleh: Moh Sa’dullah
Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan moral masyarakat.
Pada awalnya, pesantren dikenal sebagai lembaga pendidikan tradisional yang berfokus pada pengajaran ilmu-ilmu keagamaan. Namun, seiring perkembangan zaman dan tuntutan masyarakat modern, pesantren mengalami transformasi yang signifikan.
Transformasi ini menjadikan pesantren tidak hanya sebagai pusat pendidikan agama, tetapi juga sebagai lembaga pengembangan sumber daya manusia yang adaptif terhadap perubahan sosial, budaya, dan teknologi.
BACA JUGA: Peringati Haul Gus Dur ke-16, IKA PMII Jepara Hidupkan Spirit Kemanusiaan dan Keilmuan
Di era modern yang ditandai dengan kemajuan teknologi dan globalisasi, pesantren dituntut untuk tetap menjaga nilai-nilai dasar seperti adab, kedisiplinan, dan spiritualitas, sekaligus terbuka terhadap inovasi.
Perpaduan antara ilmu agama dan ilmu umum menjadi langkah strategis agar lulusan pesantren mampu menghadapi tantangan global tanpa kehilangan identitas keislaman dan kebangsaan.
Dengan karakter tersebut, pesantren berpotensi menjadi pilar penting dalam membangun masyarakat yang berilmu, berakhlak, dan berdaya saing di era digital.
Dalam proses transformasi tersebut, peran kiai menempati posisi yang sangat sentral. Kiai tidak hanya berfungsi sebagai pengajar kitab kuning dan pembimbing spiritual santri, tetapi juga sebagai pemimpin moral dan sosial di tengah masyarakat.
BACA JUGA: Jelang Nataru, UMKM Mitra Binaan PLN UIK Tanjung Jati B Borong Juara Lomba Produk Kopi Olahan Petani Kabupaten Jepara
Di tengah arus modernisasi yang sering kali mengikis nilai-nilai etika, kiai dituntut mampu memberikan panduan keagamaan yang relevan dengan persoalan-persoalan kontemporer, seperti penggunaan media sosial, radikalisme, ekonomi umat, hingga etika pemanfaatan teknologi.
Gus Baha (KH. Ahmad Bahauddin Nursalim) menegaskan bahwa agama itu hadir untuk menjaga manusia agar tetap waras dan berakhlak, bukan untuk memberatkan kehidupan. Pernyataan ini menunjukkan bahwa peran kiai sangat penting dalam menghadirkan wajah Islam yang moderat, bijak, dan kontekstual.
Selain kiai, santri juga memiliki peran strategis dalam mendorong transformasi pesantren. Santri masa kini tidak hanya dituntut menguasai ilmu-ilmu keagamaan, tetapi juga diharapkan memiliki kemampuan teknologi, kreativitas, serta wawasan pengetahuan umum.
Dengan bekal tersebut, santri dapat berperan aktif di berbagai sektor kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya. Gus Baha juga mengingatkan bahwa santri itu harus kuat ilmunya, luas wawasannya, dan lembut akhlaknya.Nilai-nilai inilah yang menjadikan santri tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga mampu menjadi teladan moral di tengah masyarakat.
BACA JUGA: Resmi, Rumah Dinas Bupati Jepara Beralih Jadi Museum R.A Kartini
Untuk memperkuat perannya di era modern, pesantren perlu terus mengembangkan kurikulum terpadu yang mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum, membangun kemandirian ekonomi pesantren, serta membuka kerja sama dengan lembaga pendidikan dan dunia industri.
Di samping itu, pemanfaatan teknologi informasi harus dilakukan secara bijak sebagai sarana pendidikan dan dakwah, tanpa menghilangkan tradisi keilmuan pesantren yang telah mengakar kuat.
Gus Baha menekankan bahwa tradisi keilmuan ulama terdahulu justru mengajarkan keterbukaan, selama tidak merusak akidah dan adab. Hal ini menunjukkan bahwa inovasi dan tradisi bukanlah dua hal yang saling bertentangan.
Dengan dukungan kiai dan santri, pesantren memiliki posisi strategis dalam menjaga moral bangsa sekaligus menjadi motor perubahan sosial.
Transformasi pesantren yang berlandaskan nilai-nilai keislaman dan responsif terhadap perkembangan zaman akan menjadikan pesantren sebagai pilar peradaban. Dengan demikian, pesantren dapat berkontribusi secara nyata dalam membangun masyarakat modern yang beradab, berakhlak, dan berilmu
Moh Sa’dullah, Mahasiswa Unisnu Jepara Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam