Strategi Indonesia Hadapi Ketidakpastian Ekonomi Global 

Oleh: Ahmad Syaikhu Mubarok

Globalisasi terus membentuk wajah perekonomian dunia melalui transformasi dalam pola perdagangan, investasi, dan pergerakan modal. Memasuki periode 2026, ketidakpastian global kembali meningkat seiring dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia yang diproyeksikan berada di bawah rata-rata historis.

Dana Moneter Internasional (IMF) mencatat bahwa momentum pemulihan masih tertahan oleh konflik geopolitik, fragmentasi perdagangan, serta kebijakan moneter ketat di berbagai negara maju.

Di tengah tekanan global tersebut, Indonesia berhasil mencatatkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen sepanjang tahun 2025, ditopang oleh ketahanan konsumsi domestik dan belanja pemerintah.

Meskipun demikian, kinerja positif ini tidak lepas dari berbagai tekanan eksternal, seperti pelemahan permintaan ekspor, fluktuasi harga komoditas, dan ketidakstabilan arus investasi asing langsung.

BACA JUGA: Kolaborasi Lintas Instansi, PLN Kebut Pemulihan Kelistrikan Aceh

Volatilitas pasar keuangan global serta gangguan pada rantai pasok juga menjadi tantangan serius dalam menjaga stabilitas makroekonomi. Situasi ini semakin menegaskan bahwa perekonomian nasional tetap terpaut erat pada dinamika persaingan global yang kian kompleks dan kompetitif.

Pemerintah menyadari terjadinya pergeseran tantangan ekonomi yang ditandai oleh perubahan struktur global dan perilaku konsumsi masyarakat yang kian selektif serta berorientasi digital. Di sisi lain, meskipun kontribusi ekonomi nasional terhadap produk domestik bruto (PDB) dunia terus meningkat, upaya mendorong pertumbuhan justru menghadapi kompleksitas yang lebih besar.

Persoalan utama bagi negara berekonomi terbuka seperti Indonesia adalah tingginya ketergantungan pada pasar global. Fluktuasi ekonomi dunia, volatilitas harga komoditas, dan tekanan kompetitif dari negara lain secara langsung berdampak pada stabilitas perekonomian dalam negeri.

Keterbukaan ekonomi memang membuka akses terhadap pasar, investasi, dan alih teknologi, tetapi di saat bersamaan juga meningkatkan kerentanan terhadap guncangan eksternal.

BACA JUGA: Konfercab ke-XXV PMII Jepara, Nur Fazari Terpilih Sebagai Ketua

Berbagai kajian ilmiah mengonfirmasi bahwa tanpa penguatan fundamental sektor domestik dan diversifikasi ekonomi, dampak negatif globalisasi berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi nasional.

Oleh karena itu, strategi kebijakan yang adaptif dan forward-looking mutlak diperlukan untuk menyeimbangkan integrasi global dengan pembangunan ketahanan ekonomi domestik yang berkelanjutan.

Globalisasi telah mempererat interdependensi ekonomi antarbangsa melalui kanal perdagangan bebas, investasi asing, dan aliran teknologi. Secara teoretis, sebagaimana dinyatakan dalam berbagai literatur, keterbukaan ekonomi dan integrasi global memang dapat menjadi mesin pertumbuhan melalui perluasan pasar dan peningkatan efisiensi.

Namun, realitas kerap kali lebih kompleks. Sebagaimana dikritik oleh peraih Nobel Joseph Stiglitz, integrasi atau keterbukaan ekonomi tanpa didukung kesiapan dan kelembagaan domestik yang memadai justru berpotensi memperdalam ketimpangan dan memperbesar kerentanan ekonomi.

Dalam konteks Indonesia, paradoks ini tampak jelas. Di satu sisi, Indonesia menikmati manfaat dari peningkatan volume ekspor dan arus investasi asing.

BACA JUGA: Lewat TATAH, IFEX, hingga INDEX Dubai 2026, Bupati Jepara: Buka Jejaring Pasar Baru dan Tarik Investor ke Jepara

Di sisi lain, perekonomian domestik sekaligus menghadapi tekanan persaingan yang tinggi akibat membanjirnya produk impor dengan harga yang sangat kompetitif.

Kerentanan struktural pun semakin nyata. Berbagai studi, termasuk dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), menegaskan bahwa ketergantungan yang tinggi pada ekspor komoditas primer seperti minyak sawit, batu bara, dan nikel membuat perekonomian nasional sangat rentan terhadap gejolak harga di pasar komoditas global.

Penelitian Savilia dkk. (2023) juga menggarisbawahi bahwa tanpa upaya serius dalam penguatan basis industri manufaktur dan peningkatan kualitas sumber daya manusia, arus globalisasi justru berisiko melemahkan struktur industri dalam negeri.

Bukti empirisnya dapat disimak pada sektor manufaktur padat karya, seperti tekstil dan garmen, yang kian tertekan oleh dominasi produk impor. Fenomena ini jika dibiarkan berlarut-larut berpotensi memicu risiko deindustrialisasi dini.

Oleh karena itu, jalan tengah yang strategis mutlak diperlukan. Penguatan daya saing domestik yang berfondasikan inovasi, transformasi industri menuju lini produk bernilai tambah tinggi, serta penerapan kebijakan perdagangan yang selektif dan protektif secara cerdas menjadi kunci mendasar. Dengan strategi ini, globalisasi dapat diarahkan untuk memperkuat, bukan melemahkan, ketahanan ekonomi nasional jangka panjang.

Dalam menghadapi persaingan global yang semakin intens, Indonesia wajib menjadikan ketahanan ekonomi nasional sebagai prioritas utama pembangunan. Keterbukaan ekonomi harus diimbangi dengan fondasi domestik yang kokoh, memastikan manfaat globalisasi tidak berubah menjadi ketergantungan dan kerentanan struktural jangka panjang.

Pemerintah perlu secara konsisten mendorong tiga pilar utama: peningkatan kualitas sumber daya manusia yang kompetitif, penguatan industri bernilai tambah tinggi, serta pengembangan inovasi dan teknologi yang berbasis pada keunggulan dan potensi nasional.

Kebijakan perdagangan dan investasi juga harus dirancang secara selektif, adaptif, dan berorientasi strategis. Tujuannya, untuk melindungi sektor-sektor industri padat karya dan strategis sekaligus menciptakan efek pengganda (multiplier effect) yang maksimal bagi perekonomian dalam negeri.

Pada akhirnya, kesuksesan strategi ini bergantung pada sinergi yang kuat antara empat pilar bangsa: Pemerintah, dunia usaha (pelaku bisnis), akademisi/lembaga riset, dan masyarakat luas (quadruple helix). Kolaborasi ini sangat penting untuk membangun ekosistem ekonomi yang inklusif, berdaya tahan, dan berdaya saing tinggi.

Dengan komitmen pada arah kebijakan yang tepat, konsisten, dan berkelanjutan, Indonesia dapat mentransformasi tantangan global menjadi peluang strategis. (KA)

Ahmad Syaikhu Mubarok, Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam Unisnu Jepara

Related posts

Peran Kyai dan Santri Dalam Mendorong Transformasi Pesantren di Era Modern

Menghidupkan Kembali Semangat Ukhuwah Islamiyah di Media Sosial,  Perspektif Etika Media

Menangkal Intoleransi di Lingkungan Sekolah melalui Sinergi Guru, Orang Tua, dan Tokoh Agama