Ngaji Minahussaniyah, Kiai Rusydi Ajak Tebar Kasih Sayang dan Jaga Asupan Halal

Jatman MWC NU Tahunan gelar Ngaji Minahussaniyah

JEPARA  | GISTARA. COM – Bertempat di masjid Jami’ Hidayatullah Platar Tahunan, Jamiyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh ( Jatman) hari ini Sabtu, 24 Januari 2026 kembali menggelar pengajian rutin Kitab Minahussaniyah karya Syaikh Abdul Wahab Asy- Sya’roni yang dibaca oleh Kiai Moh. Rusydi, Pengasuh Ponpes Al Huda Demangan Jepara.

Hadir dalam pengajian rutin selapanan tersebut Pengurus Idaroh Ghusniyah Jatman Kecamatan Tahunan, Kiai Roshif Arwani dan Kiai Mundzirin. Dari sesepuh masjid Jami Hidayatullah Platar tampak hadir Kiai Ruslan Abdul Ghoni, dan sejumlah Pengurus MWC NU Tahunan beserta jamaah pengajian.

Dalam pertemuan kali ini, jamaah diajak untuk kembali merenungi pentingnya menebar kasih sayang dan menjaga kesucian asupan makanan sebagai kunci kedekatan kepada Allah SWT.

BACA JUGA: Harlah NU ke-103, Mas Wiwit Apresiasi Peran Besar NU untuk Bangsa 

​Dalam tausiyahnya, Kiai Rusydi menekankan bahwa ada dua penghalang besar yang membuat seorang hamba sulit melihat keagungan alam malakut dan merasa jauh dari Sang Pencipta.

Pertama, terkait asupan makanan.Mengutip kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, Kiai Rusydi menegaskan bahwa makanan haram menjadi penghalang utama diterimanya ibadah sholat, baik fardu maupun sunah.

Kiai Rusydi mengingatkan kepada para orang tua bahwa makanan haram yang diberikan kepada anak-anak dapat berdampak buruk pada pembentukan karakter mereka, sehingga menjadi pribadi yang sulit diajak kepada jalan kebaikan.

Kedua, adalah perilaku menyakiti sesama. Di era digital, menyakiti orang lain tidak lagi hanya secara fisik atau lisan secara langsung, melainkan juga melalui gawai di media sosial. Hal ini menjadi “hijab” yang menutup hati dari cahaya ketuhanan.

​Sebagai solusi spiritual, Kiai Rusydi menyebutkan tujuh fondasi utama bagi setiap Muslim yang ingin meraih derajat makrifat (mengenal Allah secara mendalam)

BACA JUGA: Kolaborasi Lintas Instansi, PLN Kebut Pemulihan Kelistrikan Aceh

Tujuh hal tersebut adalah, pertama,  ​teguh berpedoman pada Al-Qur’an, menjadikan kitab suci sebagai pedoman hidup utama. Kedua,
​meneladani Rasulullah, mengikuti setiap sunah dan perilaku Nabi Muhammad SAW. Ketiga,
​konsumsi halal, memastikan setiap butir nasi yang masuk ke tubuh berasal dari sumber yang bersih. Keempat, menjauhi Maksiat. Kelima, menghindari segala larangan Allah secara lahir dan batin. Keenam, memperbanyak taubat, minimal membaca istighfar 100 kali sehari untuk pembersihan jiwa. Ketujuh, menunaikan kewajiban, disiplin dalam menjalankan beban tugas sebagai hamba Allah.

Hal senada disampaikan oleh Kiai Roshif Arwani, Rois Idaroh Ghusniyah Jatman Kecamatan Tahunan. Mengutip pendapat Imam Sahl, Kiai Roshif mengatakan bahwa kunci sukses dekat (taqarrub) kepada Allah adalah berbuat baik kepada orang lain, kasih sayang kepada sesama makhluk, dan makanannya halal. Di antara bentuk kasih sayang adalah tidak Berprasangka buruk terhadap sesama, utamanya kepada para guru, para Kiai, dan kepada para penghafal Al Qur’an.

​Acara yang berlangsung khidmat dan disiarkan lewat live streaming ini ditutup dengan doa bersama, berharap agar masyarakat, khususnya di wilayah Tahunan, dapat mengamalkan ajaran ini demi terciptanya tatanan sosial yang penuh kasih sayang dan keberkahan. ( Sub/KA)

Related posts

Prihatin Radikalisme Pelajar, Hindun Anisah Sampaikan Paham Aswaja Annahdliyah dalam FGD Kurikulum CInta di Jepara

Musran NU Wonorejo Tetapkan K. Faizin dan Ustad Ahmad Muzayyin 

K. Ahmad Efendhi  dan Ustadz Abdus Su’ud Nahkodai PR NU Bangsri 1 Periode 2026-2031