JEPARA | GISTARA. COM – Miftahul Amin, seorang tokoh Nahdlatul Ulama asal Kedawung, Desa Somosari, Kecamatan Batealit, Jepara, yang lahir pada 31 Oktober 1989, sejak kecil telah menapaki kehidupan yang lekat dengan dunia pesantren dan pengabdian.
Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, ia tumbuh dalam lingkungan desa yang sederhana namun kaya nilai keagamaan, tempat agama tidak hanya diajarkan, tetapi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Masa kecilnya dihabiskan di TK Kedawung, lalu melanjutkan pendidikan dasar di SDN 03 Kedawung yang diselesaikannya pada tahun 2002. Sore hari bukan diisi dengan aktivitas bermain semata, tetapi dengan mengaji di Madrasah Radlatul Falah sejak 2003. Kebiasaan inilah yang kelak menjadi fondasi kuat perjalanan hidupnya, membentuk karakter, disiplin, dan kecintaan pada ilmu agama.
BACA JUGA: Evaluasi Kabupaten Sehat 2025, Bupati Jepara Ajak Perkuat Kolaborasi Tingkatkan Kualitas Kesehatan Masyarakat.
Usai lulus SD, ia langsung mondok di Pondok Pesantren Al-Mabar Geneng. Perjalanan itu bukan perjalanan singkat—sekitar tujuh belas tahun hidupnya diabdikan di pesantren hingga akhirnya boyong pada tahun 2021.
Lingkungan pesantren menjadi pintu awal perkenalannya dengan Nahdlatul Ulama. NU tidak ia kenal melalui struktur organisasi atau atribut formal, melainkan lewat keteladanan para kiai dan tradisi pesantren. “Nderek kyai,” tuturnya singkat, menggambarkan bahwa NU baginya adalah jalan nilai dan adab, bukan sekadar identitas kelembagaan. Namun, langkah untuk berkhidmah secara resmi baru dimulai pada tahun 2022, ketika ia bergabung dengan Ansor Somosari sebagai bentuk pengabdian nyata di tengah masyarakat.
Keputusannya bertahan di NU bukan tanpa dasar. Sebagai lulusan pesantren, ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk meneruskan ilmu, nilai, dan tradisi yang telah ia peroleh.
Baginya, khidmah di NU bukan hanya perjuangan keagamaan, tetapi juga pengabdian sosial menjaga harmoni masyarakat, merawat tradisi keislaman, dan menghidupkan nilai-nilai keagamaan di ruang-ruang kehidupan desa.
Seiring waktu, berbagai amanah ia emban. Ia dipercaya sebagai Ketua Rijalul Ansor, memimpin Asyurahan Rabu Wage berupa ngaji kitab kuning setiap lima minggu sekali, mengajar di Madrasah Radlatul Falah, mengisi berbagai kegiatan keagamaan di masjid, serta memimpin manaqiban rutin selapanan.
Semua itu dijalani dengan kesadaran bahwa pengabdian tidak selalu hadir dalam sorotan, tidak selalu terlihat, tetapi harus terus dihidupkan dengan keikhlasan dan konsistensi.
Dari sekian pengalaman, masa pemilu dan pilkada menjadi momen yang paling berkesan. Pada masa itu, ia memilih mem-pending seluruh kegiatan Ansor. Keputusan tersebut bukan tanpa risiko, namun ia ingin menjaga marwah NU agar tidak terkontaminasi kepentingan politik praktis.
Miftahul Amin memberikan pengajian dalam kegiatan Rijalul Ansor
Baginya, NU harus tetap menjadi rumah bersama yang meneduhkan, ruang aman bagi semua kalangan, dan tidak terjebak dalam kepentingan sesaat.
Tantangan dalam dakwah tentu selalu ada. Kehadiran organisasi lain seperti LDII dan Jamaah Tabligh dengan sistem yang berbeda menjadi dinamika tersendiri di tengah masyarakat. “Di NU ada manaqiban, di sana tidak. Pendirinya pun beda,” ujarnya. (2/2/26).
Namun perbedaan itu tidak ia jadikan alasan untuk konflik, melainkan sebagai pengingat bahwa dakwah membutuhkan kebijaksanaan, kelapangan dada, dan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan.
BACA JUGA: Pastikan Harga dan Stok Sembako, Satgas Pangan Polres Jepara Sidak Pedagang
Untuk menjaga keistiqamahan, ia memegang satu prinsip sederhana namun mendalam: “Kita ngurip-nguripi agama Islam.” Baginya, manusia bukan hanya pewaris ajaran, tetapi penghidup nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap, perilaku, dan keteladanan sosial.
Ia memandang peran NU di desa sangat vital, mulai dari menyebarkan ilmu, mencari ilmu, hingga menjelaskan dan merawat kitab-kitab klasik karya para ulama. Namun, tantangan terbesar hari ini adalah regenerasi. Ia bahkan mengakui bahwa awalnya ikut Ansor karena “dipaksa”. Kesadaran itu tumbuh perlahan ketika ia melihat minimnya penerus dan kader.
Saat diminta Modin Nor untuk ikut menghidupkan NU, ia menyampaikan dua permintaan sederhana: jika berbuat salah, jangan dimarahi, tetapi diarahkan; dan pahami bahwa mencari kader Ansor di Somosari tidak mudah karena letak dusun yang berjauhan dan kondisi geografis desa yang menyebar.
BACA JUGA: Tembus Fortune Global 500, PLN Terus Perkuat Daya Saing di Kancah Dunia
Di ujung perjalanan khidmahnya, ia selalu memulainya dengan satu sikap: syukur. Berkhidmah di NU tidak hanya memberinya ruang pengabdian, tetapi juga ruang pembelajaran batin dan kedewasaan mental.
Ia memahami bahwa dunia pesantren dan masyarakat memiliki watak yang berbeda. Jika di pesantren cukup patuh pada dawuh kiai, maka di tengah masyarakat diperlukan kelapangan hati untuk memahami karakter, kemampuan menyesuaikan diri, membangun komunikasi, dan berjalan bersama dalam perbedaan.
Harapannya pun sederhana, namun sarat makna: agar masyarakat Somosari mau ikut terlibat, selama Ansor dan NU masih dirasa dibutuhkan. Sebab, bagi dirinya, NU bukan sekadar organisasi, melainkan jalan sunyi pengabdian—jalan panjang untuk terus menghidupkan agama di tengah masyarakat dengan keteladanan, keikhlasan, dan kesabaran.
Baginya, “ngurip-nguripi agama itu bukan soal banyak bicara, tapi soal memberi contoh; bukan tentang dikenal, tetapi tentang dibutuhkan; bukan tentang tampil, tetapi tentang menghidupkan nilai.” Sebab, NU adalah jalan adab, jalan nilai, dan jalan pengabdian, tempat agama akan terus hidup selama masih ada orang-orang yang mau menghidupkannya dengan Ikhlas.
Diliput oleh : Firza Izzatul Mila, Mahasiswa KKN Sumosari 2, Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, UNISNU Jepara