Puasa Ramadhan: Menembus Kabut Kebahagiaan Semu, Meraih Kebahagian Hakiki

Oleh : Ahmad Yusuf, S.Pd.I., M.Pd.

Ramadhan sering kali datang dengan dua wajah. Di satu sisi, ia adalah undangan sunyi untuk kembali ke dalam diri dan ilahi. Di sisi lain, ia bertransformasi menjadi karnaval konsumsi yang bising.

Kita sering terjebak dalam sebuah paradoks: berpuasa di siang hari, namun “balas dendam” di malam hari. Jika kita tidak hati-hati, esensi Ramadhan akan tergerus oleh kebahagiaan semu sebuah kepuasan sesaat yang dipicu oleh lonjakan dopamin, bukan ketenangan batin yang berkelanjutan.

Salah satu ironi terbesar di bulan suci ini biasanya adalah pengeluaran rumah tangga yang justru meningkat tajam. Secara sosiologis, kita menyaksikan fenomena “komodifikasi ibadah”. Kebahagiaan semu ini sering kali hadir dalam bentuk meja makan yang penuh sesak dengan hidangan yang akhirnya tak sanggup kita habiskan.

BACA JUGA: Setahun Mas Wiwit-Gus Hajar Pimpin Jepara, 421 Km Jalan Dimuluskan, 100 Persen Pajak Kendaraan untuk Infrastruktur Jalan

Kita sering mengira bahwa kebahagiaan berbuka puasa terletak pada apa yang kita makan, padahal secara biologis, kenikmatan itu berasal dari proses menahan diri. Ketika kita menyerah pada dorongan konsumtif, kita sebenarnya sedang memberi makan ego, bukan jiwa.

Kebahagiaan dari segelas es sirup yang manis atau semangkuk kolak pisang yang segar memang nyata di lidah, namun jika motivasinya adalah pelampiasan nafsu, ia akan menguap begitu sendawa pertama keluar. Itulah definisi kebahagiaan semu: ia bergantung sepenuhnya pada stimulus eksternal yang fana.

Dalam perspektif neurosains, puasa adalah bentuk latihan delayed gratification (penundaan kepuasan) yang paling murni. Dunia modern mengkondisikan otak kita untuk mendapatkan apa pun secara instan: informasi, makanan, hingga validasi sosial.

Hal ini menciptakan siklus dopamin yang melelahkan, di mana kita terus mengejar “high” berikutnya tanpa pernah merasa cukup.

Puasa memutus sirkuit ini. Dengan berkata “tidak” pada hal-hal yang halal (makan dan minum) untuk sementara waktu, kita sebenarnya sedang melakukan reset pada sistem reward otak kita.

BACA JUGA: PC PMII Jepara Temui Kapolres, Bahas Isu Perempuan dan Pendidikan

Saat seseorang mampu mengendalikan rasa laparnya, menahan hawa nafsunya untuk berkata buruk atau berbuat maksiat ia sebenarnya sedang mengirim pesan kuat kepada otaknya: “Aku adalah tuan atas diriku sendiri, bukan budak dari hormonku yang menjadi nafsuku.” Inilah kebahagiaan yang berakar pada kekuatan karakter, bukan pada ketersediaan objek pemuas.

Di era media sosial, Ramadhan juga terancam oleh “kebahagiaan visual”. Kita sering kali lebih sibuk menata sudut aesthetic hidangan berbuka atau memilih filter foto terbaik saat bukber daripada menikmati momen koneksi antarmusia itu sendiri.

Kebahagiaan yang berasal dari jumlah likes atau komentar di media sosial adalah bentuk kebahagiaan semu yang paling rapuh. Ia sangat bergantung pada persepsi orang lain.

Puasa, di sisi lain, adalah ibadah yang paling privat (sirri). Tidak ada yang benar-benar tahu seseorang berpuasa atau tidak kecuali dirinya dan Sang Pencipta. Dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan dari Abi Hurairah RA. Beliau berkata Rasulullah SAW bersabda: “Allah SWT berfirman: Semua amal ibadah anak Adam untuk mereka sendiri kecuali puasa. Sesungguhnya puasa untuk Ku dan Aku yang akan membalasnya.”  ( HR. Bukhari & Muslim).

Sifat privat dan khusus ini seharusnya mengajarkan kita untuk mencari kebahagiaan dalam kesunyian dan kejujuran diri, bukan dalam panggung sandiwara publik.

Kebahagiaan semu sering kali lahir dari fokus kita yang berlebihan pada aspek eksistensial bagaimana kita terlihat, apa yang kita miliki, dan apa yang kita konsumsi.

BACA JUGA: Jepara Darurat Miras? Polres Jepara Sita Ribuan Botol Miras

Ramadhan memaksa kita untuk masuk ke wilayah esensi bukan eskistensi. Karena tidak ada yang benar-benar tahu kualitas puasa seseorang itu kecuali dirinya sendiri dan Allah semata.

Melalui rasa lapar, kita diingatkan pada kerentanan manusia. Rasa lapar ini seharusnya melahirkan empati yang organik, bukan sekadar simpati yang dipaksakan. Saat kita berbagi dengan mereka yang kekurangan, kebahagiaan yang muncul bersifat altruistik.

Penelitian psikologi positif menunjukkan bahwa kebahagiaan dari memberi (eudaimonia) bertahan jauh lebih lama daripada kebahagiaan dari menerima atau mengonsumsi (hedonia).

“Puasa bukanlah sekedar tentang mengosongkan perut, melainkan tentang mengosongkan ruang dari kebisingan dunia agar kita bisa mendengar bisikan nurani kita sendiri dan seruan ilahi”

Strategi Menghindari Kebahagiaan Semu

Untuk memastikan Ramadhan tahun ini tidak sekadar menjadi rutinitas biologis, kita perlu melakukan kurasi terhadap sumber kebahagiaan kita:

Pertama, Praktik Minimalisme Makan: Fokus pada nutrisi dan keberkahan, bukan variasi dan kuantitas. Kedua, Digital Detox: Mengurangi waktu layar untuk meningkatkan waktu refleksi dan interaksi tatap muka yang bermakna. Ketiga, Keempat, Refleksi Kesunyian: Menyisihkan waktu di sepertiga malam atau sebelum berbuka tanpa distraksi apa pun, hanya untuk menyadari keberadaan diri. Kelima, Kedermawanan Tersembunyi: Melakukan kebaikan tanpa ada satu orang pun yang tahu, untuk melatih keikhlasan murni. Keenam, Selalu mengingat keberadaan Allah yang selalu mengawasi kita setiap waktu, sehingga kita malu berbuat sesuatu yang menjadikan Nya murka.

Menghindari kebahagiaan semu dalam puasa Ramadhan berarti berani menghadapi diri sendiri tanpa topeng. Kebahagiaan yang sejati tidak ditemukan dalam kemeriahan pasar kemewahan atau hiruk-pikuk diskon hari raya, melainkan dalam ketenangan hati yang merasa cukup (qana’ah).

Ramadhan adalah laboratorium untuk menguji apakah kita bisa bahagia hanya dengan menjadi diri sendiri, dalam kesederhanaan, dan dalam ketaatan. Jika setelah sebulan berpuasa kita merasa lebih tenang meski dengan kepemilikan yang lebih sedikit, lebih matang dalam bersikap maka kita telah berhasil menembus kabut kebahagiaan semu dan menemukan cahaya yang sejati.

Pada akhirnya, puasa yang berhasil adalah puasa yang menyisakan kemerdekaan batin kebebasan dari ketergantungan pada benda, opini orang lain, dan nafsu yang tak pernah kenyang. Wallahu a’lam bi shawab

Ahmad Yusuf, S.Pd.I., M.Pd., Kepala MAK Babus Salam Mulyoharjo, DLB STAI Syekh Jangkung Pati, Pimpinan Majlis SABARR Kecapi, Pengurus LDNU Ranting 2 Kecapi, Rais Syuriyah PARNU Masjid Al Mustaghfirin Kecapi

Related posts

Urgensi Membangun Budaya Inovasi Pesantren di Tengah Arus Smart Society 5.0

Sungai yang Ditinggalkan, Kota yang Tenggelam: Pelajaran Pahit dari Banjir Jepara

Strategi Indonesia Hadapi Ketidakpastian Ekonomi Global