Menuju Kampus Adaptif Digital, Aktualisasi CPNS Dosen BerAKHLAK dan Berbasis AI

Latsar CPNS Dosen via daring

SEMARANG | GISTARA. COM – Senin pagi, ruang widyaiswara Balai Pelatihan Hukum (Bapelkum) Semarang tampak lengang. Namun di balik layar kelas virtual yang dimulai pukul 08.00 WIB dan dijadwalkan hingga sore hari, diskusi berlangsung intens. Dr. Muh Khamdan, widyaiswara Kementerian Hukum, memimpin seminar rancangan aktualisasi Pelatihan Dasar (Latsar) CPNS bagi delapan dosen muda dari tiga kampus di bawah Kementerian Dikti dan Saintek. Forum ini bukan sekadar ujian administratif, melainkan panggung lahirnya ide-ide transformasional berbasis kecerdasan artifisial (AI), (23/2/2026).

Sebagai penguji, Dr. Khamdan tak hanya menilai sistematika rancangan, tetapi juga menekankan pentingnya implementasi nilai BerAKHLAK dalam layanan akademik dan pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi. “ASN muda tidak cukup hanya cerdas secara akademik, tetapi juga adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pelayanan,” tegasnya dalam forum virtual tersebut.

Delapan CPNS formasi dosen itu berasal dari Universitas Lampung, Institut Teknologi Sumatera, dan Universitas Borneo Tarakan. Masing-masing membawa gagasan aktualisasi yang tidak lagi konvensional. Mereka menjawab tantangan era digital dengan mengintegrasikan AI, gamifikasi, hingga strategi publikasi ilmiah bereputasi dalam proses pembelajaran.

BACA JUGA: Setahun Mas Wiwit-Gus Hajar Pimpin Jepara, 421 Km Jalan Dimuluskan, 100 Persen Pajak Kendaraan untuk Infrastruktur Jalan

Wiwi Febriani dari Universitas Lampung mencuri perhatian dengan rancangan gamifikasi pembelajaran untuk Program Studi Gizi Fakultas Kedokteran. Ia merancang sistem pembelajaran interaktif berbasis AI yang mampu memetakan kemampuan mahasiswa, memberikan umpan balik personal, serta meningkatkan engagement dalam memahami ilmu nutrisi klinis. Dalam paparannya, Wiwi menunjukkan bagaimana teknologi dapat menjembatani teori dan praktik secara lebih menyenangkan.

Sementara itu, Diana Purnama Sari dari Universitas Borneo Tarakan menghadirkan inovasi video tutorial praktikum parasit dan penyakit ikan. Dalam konteks pengembangan studi akuakultur, pendekatan visual berbasis teknologi dinilai sangat strategis. Diana memanfaatkan analitik AI untuk memetakan kesalahan umum mahasiswa saat praktikum dan merancang materi remedial berbasis data. Langkah ini dinilai relevan untuk memperkuat daya saing riset perikanan di kawasan pesisir dan perbatasan.

Dari Institut Teknologi Sumatera, Mahruri Arif Wicaksoo mempresentasikan integrasi tugas akhir mahasiswa dengan skema publikasi jurnal bereputasi. Ia merancang sistem pendampingan berbasis AI yang membantu mahasiswa melakukan pengecekan plagiarisme, analisis referensi, hingga simulasi review jurnal. Dengan pendekatan ini, tugas akhir tidak lagi berhenti di rak perpustakaan, tetapi bertransformasi menjadi karya ilmiah yang siap bersaing di level nasional dan internasional.

Inovasi-inovasi tersebut tidak berdiri sendiri. Dalam diskusi, Dr. Khamdan menyoroti pentingnya tata kelola dan etika pemanfaatan AI. Menurutnya, transformasi layanan akademik harus tetap berpijak pada integritas, akuntabilitas, dan orientasi pada kemaslahatan publik. AI hanyalah alat; nilai BerAKHLAK-lah yang menjadi fondasi moralnya.

BACA JUGA: Hindun Anisah Dorong Penguatan Perekonomian Nasional melalui Pemberdayaan Masyarakat Pesisir

Seminar rancangan aktualisasi itu juga memperlihatkan perubahan paradigma ASN di bidang pendidikan tinggi. Dosen muda tidak lagi hanya menjadi pengajar, melainkan juga inovator sistem pembelajaran. Mereka dituntut mampu membaca perkembangan teknologi, merespons kebutuhan mahasiswa generasi digital, serta menguatkan kontribusi riset yang berdampak.

Transformasi layanan melalui kecerdasan artifisial, sebagaimana tergambar dalam forum tersebut, menunjukkan arah baru birokrasi pendidikan Indonesia. Dari ruang virtual di Semarang, lahir komitmen delapan dosen muda untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih adaptif, personal, dan berbasis data. Ini bukan sekadar tugas Latsar, melainkan investasi jangka panjang bagi mutu pendidikan nasional.

Di akhir sesi, apresiasi disampaikan Dr. Khamdan atas keberanian berinovasi para CPNS dosen itu. Ia menegaskan, masa depan perguruan tinggi bergantung pada kreativitas dan integritas generasi mudanya. Jika nilai BerAKHLAK berpadu dengan kecanggihan AI, maka kampus-kampus Indonesia bukan hanya akan mengikuti perubahan zaman, tetapi menjadi pelopornya. (KA)

Related posts

Wujudkan Seni Ukir Jepara Sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO, Pemkab Jepara Berkunjung Ke Bosnia dan Herzegovina

Disiapkan anggaran Rp197,16 Miliar, 185 Kilometer Jalan di Jepara Segera Dimuluskan

Setahun Kerja Nyata, Penguatan Fondasi Ekonomi Daerah