Puasa Ramadhan sebagai Penguat Pendidikan Moral

JEPARA | GISTARA. COM  – Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Jepara bersama PC PMII Jepara kembali menggelar kegiatan rutin Selapanan pada Rabu malam, 25 Februari 2026, pukul 20.00 WIB hingga selesai, bertempat di Wisma Pergerakan Karangkebagusan Jepara.

Kegiatan yang dihadiri alumni PMII, pengurus IKA, pengurus PC PMII, serta para kader ini berlangsung khidmat sekaligus penuh semangat kebersamaan.

Selapanan menjadi ruang silaturahim lintas generasi, mempertemukan kader aktif dan para alumni dalam satu forum belajar bersama.

BACA JUGA: Yuk Cek Anggaran MBG!, Ibnu Hajar: Pelaksanaan Program MBG  di Daerah Berjalan Sesuai Pembagian Kewenangan

Acara diawali dengan pembacaan Maulid Nabi oleh Rebana Ashabuusuffah PC PMII Jepara, dilanjutkan khataman Al-Qur’an dan tahlil. Suasana semakin semarak saat Ida Ayu dari Sanggar Seni Eling membacakan puisi yang menggugah refleksi spiritual peserta.

Ketua PC PMII Jepara dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas kehadiran para kader, pengurus, dan alumni yang telah mendukung kegiatan Selapanan. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan kolaborasi antara PC IKA PMII dan PC PMII Jepara.

“Selapanan ini menjadi ajang silaturahim antara alumni dan kader, sekaligus tempat belajar bersama. Semoga kita semua bisa istiqomah mengikuti kegiatan ini,” ujarnya.

Pada sesi utama, Safawi, M.Pd., seorang praktisi pendidikan, menyampaikan materi diskusi  bertema Puasa Ramadhan dalam Perspektif Pendidikan Moral. Ia mengajak peserta melihat puasa tidak semata sebagai ritual tahunan, melainkan sebagai sistem pendidikan moral yang komprehensif.

Menurutnya, puasa Ramadhan membentuk karakter secara menyeluruh, dari dimensi personal hingga sosial. Ia memadukan dua tradisi besar pemikiran, yakni Barat dan Islam.

BACA JUGA: Festival Imlek 2577 Kongzili, Harmoni Lintas Agama 

Dari perspektif Barat, Safawi mengutip pemikiran Lawrence Kohlberg yang menegaskan bahwa moralitas sejati lahir dari pengalaman nyata dan pilihan sadar, bukan sekadar hafalan aturan. Puasa diibaratkannya sebagai “laboratorium moral” yang setiap hari menghadapkan individu pada godaan dan dilema.

Ia juga merujuk pada Thomas Lickona yang menekankan pentingnya tiga dimensi karakter: moral knowing, moral feeling, dan moral action. Menurutnya, puasa secara unik mengaktifkan ketiganya sekaligus.

Pembacaan puisi dari sanggar seni Eling PMII Jepara

Sementara itu, John Dewey dengan konsep learning by doing dinilai relevan, karena puasa merupakan pengalaman moral nyata selama 30 hari penuh yang tak tergantikan oleh teori atau ceramah semata.

Dari khazanah Islam, Safawi mengulas pemikiran Al-Ghazali tentang riyadhah (latihan spiritual) dan mujahadah (perjuangan batin). Puasa disebut sebagai bentuk latihan spiritual intensif untuk menundukkan hawa nafsu.

Ia juga menyinggung Ibn Miskawayh yang menekankan pembentukan akhlak melalui habituasi atau pembiasaan berulang. Puasa Ramadhan, yang hadir setiap tahun, menjadi mekanisme pembiasaan moral yang konsisten sepanjang hayat.

Tak ketinggalan, gagasan Syed Muhammad Naquib al-Attas tentang ta’dib turut disorot. Puasa dipandang sebagai manifestasi pembentukan manusia beradab secara intelektual, moral, dan spiritual sekaligus.

Safawi memaparkan tujuh dimensi pendidikan moral dalam puasa Ramadhan, yakni: Pertama, Pengendalian diri (self-regulation), meliputi penguasaan kebutuhan biologis, emosi, dan orientasi spiritual. Kedua, Empati dan kepedulian sosial, karena pengalaman lapar dan haus melahirkan kepekaan nyata terhadap sesama.
Ketiga, Integritas dan kejujuran intrinsik, sebab puasa merupakan ibadah privat yang menguji kejujuran personal.

BACA JUGA: Museum Kartini Didorong Menjadi Pusat Studi Perempuan

Keempat, Keadilan distributif, melalui kesetaraan kewajiban puasa dan praktik zakat fitrah. Kelima, Tanggung jawab personal, karena niat lahir dari kesadaran individu.Keenam, Manajemen waktu dan disiplin hidup, melalui ritme sahur, berbuka, tarawih, dan ibadah lainnya. dan Ketujuh, Solidaritas komunal dan modal sosial, karena Ramadhan memperkuat ikatan sosial melalui praktik kolektif.

“Puasa bukan sekadar ritual. Ia adalah sekolah moral terbaik yang membentuk karakter kokoh, empati tinggi, dan jiwa sosial yang kuat,” tegas Safawi.

Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi yang berlangsung hidup dan positif. Para peserta aktif memberikan tanggapan serta pertanyaan, menandakan tingginya antusiasme terhadap tema yang diangkat.

Di akhir acara, Ketua IKA PMII Jepara, Kusdiyanto, mengajak para kader dan alumni untuk terus menyambung silaturahim serta belajar kepada para senior dan tokoh yang telah sukses.

Ia juga menyampaikan bahwa Safawi merupakan sosok yang aktif berproses di PMII hingga tuntas, sehingga materi yang disampaikan tidak hanya kaya secara akademik, tetapi juga berakar pada pengalaman.

Selapanan malam itu pun ditutup dengan semangat kebersamaan, mempertegas komitmen untuk terus menjadikan forum ini sebagai ruang belajar, refleksi, dan penguatan nilai-nilai keislaman serta keindonesiaan. (KA)

Related posts

Yuk Cek Anggaran MBG!, Ibnu Hajar: Pelaksanaan Program MBG  di Daerah Berjalan Sesuai Pembagian Kewenangan

Perkuat Demokrasi di Akar Rumput, PC PMII Jepara Bangun Sinergi dengan KPU Jepara

Mahasiswa UIN Sunan Kudus Beri Catatan Kritis soal Program MBG