Dari Bapelkum Semarang, Coaching ASN Muda Bappenas Tajamkan Inovasi Kebijakan

SEMARANG | GISTARA.COM – Ruang widyaiswara Balai Pelatihan Hukum (Bapelkum) Semarang, Kementerian Hukum, pada Rabu dan Kamis, 4–5 Februari 2026, menjadi titik temu gagasan-gagasan segar dari generasi muda birokrasi. Melalui media daring Zoom, sebanyak 11 ASN muda di lingkungan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas mengikuti sesi coaching yang dipandu oleh widyaiswara Bapelkum, Dr. Muh Khamdan. Sesi ini menjadi bagian penting dari persiapan pelaksanaan aktualisasi dalam program pengembangan kompetensi aparatur negara.

Dalam forum tersebut, para peserta yang sebagian besar berasal dari bidang perencanaan pembangunan dan statistika memaparkan berbagai isu strategis yang mereka hadapi di unit kerjanya. Sebagai lembaga _think tank_ pemerintah, Bappenas menjadi ruang lahirnya ide-ide kebijakan pembangunan nasional. Karena itu, sesi coaching tidak sekadar menjadi ruang diskusi, tetapi juga arena pengujian gagasan agar dapat diterjemahkan menjadi inovasi yang aplikatif dan berdampak.

Dr. Khamdan mengawali sesi dengan memperkenalkan sejumlah metode analisis kebijakan yang lazim digunakan dalam perumusan program pembangunan. Di antaranya teknik analisis USG ( _Urgency, Seriousness, Growth_ ) untuk memetakan prioritas masalah, teknik McNamara, serta pendekatan analisis masalah seperti fishbone, SWOT, hingga _cost benefit analysis_ . Metode-metode ini menjadi alat bantu bagi ASN muda untuk menilai kelayakan ide serta menentukan strategi implementasi kebijakan secara lebih sistematis.

Salah satu pendekatan yang mendapat perhatian khusus adalah teknik analisis McNamara yang menekankan penghitungan rasional berdasarkan prinsip 3E: _effectiveness, efficiency,_ dan _easy_ . Menurut Khamdan, pendekatan ini membantu aparatur pemerintah menilai apakah suatu gagasan benar-benar efektif, efisien, dan mudah diterapkan dalam konteks birokrasi yang kompleks.

Melalui kerangka analisis tersebut, para peserta diminta menguji ide yang mereka ajukan. Setiap peserta mempresentasikan isu organisasi yang berkaitan dengan tugas dan jabatan masing-masing. Khamdan kemudian memberikan tantangan atau _challenges_ untuk mempertajam logika kebijakan, kelayakan implementasi, serta potensi dampaknya terhadap peningkatan pelayanan publik.

Diskusi berlangsung dinamis ketika para peserta memaparkan inovasi di bidangnya. Salah satunya datang dari Nabila Emiliyana Putri, seorang perencana di bidang pemerintahan daerah dan transfer ke daerah. Ia menawarkan gagasan pemetaan keuangan kewilayahan yang dapat membangun sistem monitoring dan implementasi program secara terintegrasi melalui dashboard real time.

BACA JUGA: Kisah Inspiratif Polwan Hafizah Ditpolairud Polda Jateng, Dalami Qirā’ah Sab’ah di Bulan Ramadhan

Menurut Nabila, integrasi data fiskal daerah melalui dashboard tersebut akan membantu pemerintah pusat maupun daerah memantau pelaksanaan program pembangunan secara lebih cepat dan akurat. Sistem ini diharapkan mampu mengurangi fragmentasi data serta memperkuat akuntabilitas penggunaan anggaran daerah.

Sementara itu, dr. Arya, dokter spesialis rehabilitasi medik yang bertugas di RSUD Indramayu, memaparkan tantangan layanan rehabilitasi medik yang saat ini mengalami beban kerja berlebih. Ia menawarkan inovasi layanan berbasis penguatan manajemen pelayanan rehabilitasi agar distribusi pasien dan waktu layanan dapat lebih optimal.

Gagasan tersebut memantik diskusi tentang pentingnya integrasi kebijakan kesehatan dengan sistem perencanaan pembangunan daerah. Khamdan menilai inovasi semacam ini menunjukkan bahwa ASN muda tidak hanya memahami persoalan teknis di lapangan, tetapi juga mampu merumuskan solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Di akhir sesi coaching, Khamdan menekankan pentingnya implementasi nilai BerAKHLAK sebagai fondasi kepemimpinan birokrasi modern. Ia mendorong para peserta menjadi pelopor perubahan dengan semangat adaptif dan kolaboratif. “Inovasi tidak cukup hanya cerdas secara konsep, tetapi juga harus memberi nilai tambah, berdampak nyata, dan berkelanjutan bagi peningkatan pelayanan publik,” ujarnya.

Melalui sesi coaching ini, ruang diskusi antara widyaiswara dan ASN muda tidak hanya melahirkan gagasan kebijakan, tetapi juga memperkuat budaya berpikir analitis di lingkungan perencana negara. Di tangan generasi muda birokrasi inilah, berbagai ide kreatif diharapkan dapat berkembang menjadi solusi nyata bagi pembangunan Indonesia yang lebih efektif, efisien, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. (AD)

Related posts

Kisah Inspiratif Polwan Hafizah Ditpolairud Polda Jateng, Dalami Qirā’ah Sab’ah di Bulan Ramadhan

Kolaborasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Universitas Al Hikmah Jepara Perkuat Pembangunan Daerah Berbasis Tridharma

Kelas Virtual Latsar Setneg 2026, Dorong Smart Governonanve dan Kerja Adaptif