Suluk Mantingan II:  Menggali Kembali Jejak Maritim Kota Ukir

JEPARA | GISTARA. COM – Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jepara kembali menggelar Suluk Mantingan Edisi II Tahun 2026 dengan mengusung tema “Membincang Jejak Maritim Jepara”. Kegiatan yang berlangsung di Joglo Museum Kartini ini menjadi ruang refleksi budaya sekaligus forum diskusi untuk menggali kembali akar sejarah maritim Jepara yang pernah berjaya. (14/3/2026).

Acara berlangsung dalam suasana khas joglo yang teduh dan penuh nuansa tradisi. Kegiatan diawali dengan pertunjukan seni kentrung yang dibawakan oleh Sugiyarto dan Sholeh Kencit.

Syair dan kisah yang dilantunkan menjadi pengantar reflektif bagi para peserta untuk menelusuri perjalanan panjang budaya dan sejarah Jepara sebagai kota maritim.

BACA JUGA: Raih Berkah Seribu Bulan, MWC NU Tahunan Gelar Nyegat Lailatul Qadar

Dalam sambutan pembukaannya, Wakil Ketua Lesbumi Jepara, Burhan, menegaskan pentingnya ruang-ruang diskusi kebudayaan seperti Suluk Mantingan. Menurutnya, membicarakan sejarah bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi menjadi langkah strategis untuk menjaga identitas budaya masyarakat Jepara.

“Jepara adalah kota dengan sejarah maritim yang sangat kuat. Identitas ini bisa pudar jika tidak terus kita bicarakan, kita pelajari, dan kita wariskan. Suluk Mantingan menjadi fondasi untuk membangun kesadaran sejarah. Dengan memahami masa lalu, kita bisa melangkah lebih mantap ke masa depan. Jangan sampai kita, sebagai orang Jepara, justru lupa bahwa kita adalah anak cucu para pelaut dan perajin ulung,” ujarnya di hadapan puluhan peserta yang hadir.

PC Lesbumi PCNU Jepara

Pertunjukan kentrung yang ditampilkan dalam kegiatan tersebut juga mempertegas bahwa tradisi Jepara tidak hanya tersimpan dalam artefak atau bangunan tua, tetapi masih hidup dalam praktik seni masyarakat hingga saat ini. Sugiyarto menjelaskan, seni tradisi merupakan warisan hidup yang terus berkembang bersama manusianya.

“Yang kita tampilkan hari ini adalah bukti bahwa seni tradisi seperti kentrung masih hidup. Bukan hanya benda di museum. Karakter manusianya, cara berceritanya, dan filosofi yang disampaikan adalah warisan hidup yang terus berdenyut di Jepara. Lewat Suluk Mantingan, kami ingin menunjukkan bahwa tradisi itu dinamis dan tetap relevan,” jelasnya.

BACA JUGA: Tumpah Ruah, Ribuan Warga Saksikan Festival Thongtek Piala Bergilir Bupati Jepara 2026

Sementara itu, Ngatman Ketua Lesbumi Jepara berharap,  diskusi ini menjadi ikhtiar  pengembangan seni budaya di Jepara

“Peradaban Jepara sangat tua sekali dan tentunya warga Jepara harus mengikuti spirit 3 pejuang Jepara,” tegasnya.

Melalui Suluk Mantingan Edisi II, Lesbumi Jepara berharap, kegiatan tersebut mampu menggugah kesadaran publik, khususnya generasi muda, agar lebih peduli serta bangga terhadap kekayaan sejarah dan budaya maritim Jepara. (KA)

Related posts

Festival Imlek 2577 Kongzili, Harmoni Lintas Agama 

Gema Tari Sufi, Sambut Ramadan dengan Cinta

Semarak Karnaval Haul Mbah Kopek Sentono ke-607: Wujud Pelestarian Tradisi dan Budaya