Oleh: Abdul Wahab Saleem
Idul Fitri adalah hari raya “fitrah”, artinya seluruh umat Islam hendaknya merefleksikan kembali nilai “bawaan” yang tertanam dalam diri masing-masing.
Manusia pada dasarnya “berfitrah” condong pada kebenaran, kebaikan dan keindahan. Dari itulah ia disebut sebagai makhluk yang “hanief“.
Manusia yang tidak suka kebenaran, tidak senang kebaikan dan keindahan berarti ia telah keluar dari “fitrah“-nya.
BACA JUGA: Pemudik Sumringah Ikut Mudik Gratis Jateng, Kuota Diminta Ditambah
Ibadah puasa, telah memberikan pelajaran berharga dalam rangka membangun harmoni kebenaran, kebaikan dan keindahan tersebut. Puasa mengajari kita bagaimana taat hukum, merasa diawasi Tuhan dalam setiap tindakan sepanjang waktu, sehingga meski lapar dan dahaga seseorang yang berpuasa tetap memegang komitmennya untuk bertahan sampai waktu berbuka tiba.
Puasa juga sebagai “madrasah” untuk mengelola jiwa “Malakiyyah” yang memiliki kecenderungan taat terhadap seluruh perintah dan aturan Tuhan serta menjauhi kedurhakaan kepada-Nya.
Di bulan Ramadhan kita melihat hampir seluruh muslim tiba-tiba menjadi baik, lembut, tidak pemarah, ibadah dan ketaatannya meningkat drastis, sementara kemaksiatan macet panjang. Kebaikan-kebaikan semacam inilah yang diharapkan tetap bertahan di bulan-bulan lain setelah Ramadhan.
BACA JUGA: Dr. Hj. Hindun Anisah, MA Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Kebenaran dan kebaikan yang dihasilkan dari “ngaji” dan “ngabdi” di bulan Ramadhan juga harus mewujud pada keindahan sikap dan karakter manusia, sehingga alumni-alumni Ramadhan benar-benar menjadi manusia yang bertaqwa, yaitu manusia yang sanggup membangun harmoni hidup secara benar, baik dan indah. Ibadahnya benar, baik dan indah. Interaksi sosialnya benar, baik dan indah. Berhubungan dengan alam serta lingkungan juga dengan benar, baik dan indah. Itulah pengejawantahan “fitrah” manusia.
Fitrah manusia yang cenderung pada kebenaran, kebaikan dan keindahan harus diejawantahkan dalam memandang segala sesuatu. Mengedepankan husnudzdzann daripada su’udzdzann, mampu berbuat baik bahkan kepada orang yang tidak baik kepadanya (an tuhsina ila man asa’a ilaik), menyadari kesalahan serta mau memohon maaf dan juga memaafkan, memposisikan alam dan lingkungan sebagai relasi persahabatan antar-makhluk Tuhan, saling menjaga, melindungi, menyelamatkan dan mengindahkan, tidak eksploitatif.
BACA JUGA: BAZNAS Kabupaten Jepara Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Akhirnya, semua yang merayakan Idul Fitri harus mengetengahkan syukur karena telah mampu menyempurnakan “shiyam” dan “qiyam” dengan upaya yang penuh.
Bagi yang terdapat kendala, semisal tidak mampu berpuasa denga alasan yang ditoleransi oleh Syara’, Allah telah membekali alternatif “penggantinya”, apakah berbentuk “qadla'” atau “kafarat”, agama ini selalu memberikan kemudahan dan alternatif solusi atas kendala yang dihadapi oleh pemeluknya. Inilah tafsir dari ayat “wa litukmilul iddata wa litukabbirulLaha ala ma hadakum wa la’allakum tasykurun”sebagaimana yang diulas oleh Syaikh Nawawi Banten dalam tafsirnya ” Marah Labid”.
Agama ini sudah sesuai dengan fitrah manusia, sehingga harus dipraktikkan dalam bingkai harmoni kebenaran, kebaikan dan keindahan. Idul Fitri adalah salah satu momentum yang sangat tepat untuk membangun semua itu.
“Ja’alanallahu wa iyyakum minal a’idin al-fa’izin wa antum bi khairin wa sa’adatin fi kulli am” amin …
Abdul Wahab Saleem, Wakil Rektor 3 Unisnu Jepara, Sekretaris Lembaga Bahtsul Masa’il (LBM) PWNU Jawa Tengah