JEPARA | GISTARA.COM — Setiap momen Idulfitri di Indonesia, ada satu tradisi yang tidak pernah lepas dari masyarakat, khususnya di tanah Jawa, yakni kupat lepet. Kupat lepet tidak sekadar hidangan khas Lebaran, kupat dan lepet menyimpan sejarah panjang serta pesan moral yang diwariskan turun-temurun sebagai bagian dari budaya Islam Nusantara.
Tradisi kupat diyakini mulai berkembang pada masa penyebaran Islam di Jawa, terutama saat dakwah para Wali Songo. Salah satu tokoh yang sering dikaitkan dengan tradisi ini adalah Sunan Kalijaga, yang dikenal menggunakan pendekatan budaya untuk mengenalkan ajaran Islam kepada masyarakat.
BACA JUGA: H. Ulil Albab, S.Psi, M.AP., Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Melalui tradisi kupatan, masyarakat diajak untuk saling memaafkan dan mengakui kesalahan setelah menjalani ibadah Ramadhan (Agmasari, 2017; Wijaya, 2020).
Dalam budaya Jawa, istilah kupat dipercaya berasal dari ungkapan ngaku lepat yang berarti mengakui kesalahan. Sementara bentuk anyaman janur yang rumit melambangkan berbagai kesalahan manusia, dan ketika dibelah terlihat nasi putih yang bersih sebagai simbol hati yang kembali suci setelah saling memaafkan (Putri, 2019).
BACA JUGA: Dr. Hj. Hindun Anisah, MA Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Tradisi kupatan biasanya dilaksanakan beberapa hari setelah Idulfitri, sering disebut sebagai bakda kupat, yang dilakukan setelah masyarakat menjalankan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Pada momen ini, masyarakat berkumpul, saling berkunjung, serta berbagi makanan sebagai tanda syukur dan mempererat silaturahmi (Darmawan, 2024).
Kupat selalu digandengkan dengan lepet, makanan dari beras ketan yang dimasak dengan santan dan dibungkus daun kelapa. Dalam filosofi masyarakat Jawa, lepet dimaknai sebagai simbol kelekatan atau persaudaraan, menggambarkan eratnya hubungan antar manusia setelah saling memaafkan. Karena itu, kupat dan lepet tidak hanya menjadi hidangan, tetapi juga lambang kebersamaan yang menguatkan nilai gotong royong dan persatuan (Arieza, 2023; Journal of Ethnic Foods, 2023).
BACA JUGA: BAZNAS Kabupaten Jepara Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Hingga kini, tradisi kupat lepet masih lestari di berbagai daerah di Indonesia, terutama di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta.
Di tengah perubahan zaman, tradisi ini menjadi pengingat bahwa Idulfitri bukan hanya tentang kemenangan, perayaan, tetapi juga tentang membersihkan hati, merawat persaudaraan, dan menjaga warisan luhur yang penuh makna.
Kupat lepet mengajarkan kepada kita bahwa kebahagiaan lebaran tidak selalu hadir dari kemewahan, melainkan dari kesederhanaan, saling memaafkan, saling memberi dan kebersamaan yang tulus antar sesama. (KA)