Penguatan Kompetensi ASN, Investasi Terbaik untuk Kemajuan Pertanian Nasional

SEMARANG | GISTARA. COM – Suasana kelas virtual Pelatihan Dasar (Latsar) CPNS di lingkungan Kementerian Pertanian, Jumat (27/3/2026), terasa berbeda dari biasanya. Diskursus yang mengemuka tidak hanya soal administrasi birokrasi, tetapi juga tentang masa depan aparatur sipil negara (ASN) yang dituntut semakin adaptif dan kompetitif. Di hadapan para peserta, Dr. Muh Khamdan, widyaiswara Balai Pelatihan Hukum (Bapelkum) Semarang, Kementerian Hukum, memaparkan arah baru transformasi ASN pasca lahirnya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023.

Khamdan menegaskan, perubahan regulasi tersebut menggantikan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 dengan semangat yang lebih progresif. ASN tidak lagi diposisikan sekadar sebagai pelaksana kebijakan, melainkan sebagai talenta strategis yang harus dikelola secara sistematis. “Manajemen talenta menjadi kunci. ASN terbaik harus diidentifikasi, dikembangkan, dan ditempatkan sesuai kebutuhan organisasi,” ujarnya dalam sesi pembelajaran.

BACA JUGA: Vakum 7 Tahun, Kerbau Bule Kembali Diarak dalam Pesta Lomban 2026

Menurutnya, transformasi ini tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan birokrasi yang lincah (agile) dan responsif terhadap perubahan, terutama di sektor pertanian yang sangat dipengaruhi dinamika global, perubahan iklim, hingga disrupsi teknologi.

Dalam konteks ini, ASN dituntut tidak hanya memahami regulasi, tetapi juga mampu berinovasi dan beradaptasi secara cepat.

Khamdan juga menyoroti pentingnya pengembangan kompetensi yang terintegrasi melalui pendekatan corporate university dan organisasi pembelajar. Model ini memungkinkan ASN terus memperbarui pengetahuan dan keterampilannya secara berkelanjutan, tidak berhenti pada pelatihan formal semata. “Organisasi pembelajar adalah fondasi birokrasi masa depan,” katanya.

BACA JUGA: Dr. Hj. Hindun Anisah, MA Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H

Arah pengembangan tersebut, lanjutnya, telah dirumuskan dalam roadmap nasional pengembangan ASN, mulai dari Smart ASN 2024, menuju Robust ASN 2030, hingga Kompetitif ASN 2045. Tahapan ini mencerminkan transformasi bertahap dari ASN yang cerdas secara individu menuju ASN yang tangguh secara sistem, hingga akhirnya mampu bersaing di tingkat global.

Dalam sesi itu, sebanyak 10 peserta Latsar dari berbagai daerah, mulai dari Bojonegoro, Muara Enim, Lebong (Bengkulu), Polewali Mandar (Sulawesi Barat), Fakfak (Papua Barat), Sijunjung (Sumatera Barat), Simeulue (Aceh), hingga Donggala (Sulawesi Tengah), tampak antusias mengikuti materi. Mereka tidak hanya menyimak, tetapi juga berdiskusi aktif terkait tantangan di daerah masing-masing, khususnya dalam sektor pertanian.

Khamdan memberikan penekanan khusus pada nilai dasar ASN BerAKHLAK sebagai fondasi etika dan kinerja. Nilai kompeten, adaptif, dan kolaboratif, menurutnya, menjadi pilar penting yang harus diinternalisasi dalam setiap praktik kerja.

“Tanpa kompetensi yang terus diperbarui, ASN akan tertinggal. Tanpa adaptasi, ASN akan kaku. Tanpa kolaborasi, ASN akan berjalan sendiri-sendiri,” ujarnya.

BACA JUGA: BAZNAS Kabupaten Jepara Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H

Lebih jauh, ia menggarisbawahi pentingnya membangun karakter Smart ASN yang ditandai dengan delapan karakteristik utama, yakni integritas, profesionalisme, nasionalisme, wawasan global, kemampuan jejaring (networking), penguasaan teknologi informasi dan bahasa asing, hospitality, serta kewirausahaan (entrepreneurship). Karakter ini dinilai krusial dalam menjawab tantangan birokrasi modern.

Dalam konteks pertanian, transformasi ASN menjadi semakin relevan. Penyuluh pertanian, sebagai ujung tombak pelayanan, dituntut tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi agen perubahan di tingkat akar rumput. Mereka harus mampu menjembatani kebijakan nasional dengan kebutuhan petani, sekaligus mendorong inovasi berbasis teknologi.

Pada akhirnya, Dr. Khamdan menegaskan bahwa investasi terbaik dalam birokrasi bukan hanya pada infrastruktur, melainkan pada pengembangan kompetensi sumber daya manusia. Dengan organisasi yang terus belajar dan ASN yang adaptif, diharapkan sektor pertanian Indonesia mampu berkembang lebih maju, tangguh, dan berdaya saing global di masa depan. (KA)

Related posts

Majelis Alumni IPNU Nalumsari Perkuat Silaturahim Lintas Generasi di Momen Lebaran 1447 H

Canda Tawa Anak Panti Berlebaran dengan Gubernur Jateng

Jelang Lebaran, Stok Sembako, Elpiji Hingga BBM di Jepara Aman dan Harga Terkendali