Bela Negara Berbasis Ketahanan Pangan, Bapelkum Semarang Latih ASN Muda dengan Analisis Strategis

SEMARANG | GISTARA. COM  – Di sebuah ruang virtual yang terhubung dari Balai Pelatihan Hukum (Bapelkum) Semarang, suasana pembelajaran terasa khidmat sekaligus reflektif, Selasa (31/3/2026). Dari balik layar, Dr. Muh Khamdan menyapa sepuluh peserta Aparatur Sipil Negara (ASN) muda dari Kementerian Pertanian. Mereka bukan sekadar mengikuti Pelatihan Dasar (Latsar), melainkan sedang ditempa untuk memahami makna bela negara dalam wajah yang lebih kontekstual, melalui ketahanan pangan dan kecakapan analisis kebijakan.

Pelatihan yang merupakan bagian dari agenda sikap perilaku bela negara ini telah dimulai sejak Kamis (26/3/2026) dan akan berlangsung hingga 1 April 2026. Peserta berasal dari berbagai daerah, mulai dari Sigi (Sulteng), Mandailing Natal (Sumut), Bojonegoro (Jatim), Asahan (Sumut), Barito Selatan (Kalteng), hingga Muna Barat (Sultra). Seluruhnya merupakan penyuluh pertanian yang kelak menjadi garda terdepan dalam menjaga keberlanjutan pangan nasional.

Dalam paparannya, Khamdan menekankan bahwa bela negara tidak lagi dapat dimaknai secara sempit sebagai pertahanan militer semata. Ia mengajak peserta membaca ulang konteks kebangsaan melalui dinamika geopolitik global, perubahan iklim, hingga ancaman krisis pangan dunia. “Ketahanan pangan adalah bagian dari pertahanan negara,” tegasnya, menautkan antara profesi penyuluh pertanian dengan tanggung jawab strategis kebangsaan.

BACA JUGA: Harga BBM Dipastikan Tidak Naik, Pemerintah Minta Masyarakat Tenang

Isu-isu strategis yang dibahas mencakup tantangan swasembada pangan nasional, krisis energi terbarukan, hingga peluang ekspor hasil olahan pertanian. Khamdan juga menyoroti pentingnya pelestarian varietas unggul nasional sebagai bagian dari kedaulatan pangan. Baginya, menjaga benih lokal sama halnya menjaga identitas bangsa di tengah arus globalisasi yang kian deras.

Namun, refleksi bela negara tidak berhenti pada pemahaman isu. Para peserta dibekali teknik analisis masalah sebagai instrumen praktis. Melalui pendekatan USG (urgency, seriousness, growth), peserta diajak memilah persoalan prioritas secara sistematis. Metode ini menjadi pintu masuk untuk melatih kepekaan ASN muda terhadap persoalan nyata di lapangan.

Pendalaman berlanjut pada teknik diagram fishbone yang mengurai akar masalah melalui pendekatan 6M, 8P, dan 5S. Dalam sesi ini, peserta terlihat aktif mengaitkan persoalan lokal di daerah masing-masing, mulai dari distribusi pupuk, menurunnya minat generasi muda pada sektor pertanian, visualisasi data kelompok tani, hingga rendahnya adopsi teknologi pertanian. Analisis tidak lagi bersifat abstrak, tetapi berangkat dari realitas empiris yang mereka hadapi sehari-hari.

BACA JUGA: Tumplek Blek, Ribuan Warga Antusias Ikuti Prosesi Larung Kepala Kerbau dalam Pesta Lomban 

Selanjutnya, Khamdan memperkenalkan analisis SWOT, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Ia mengarahkan peserta untuk memetakan posisi strategi dalam empat kuadran, yaitu agresif, diversifikasi, defensif, dan turn around. Pendekatan ini memperkuat kemampuan peserta dalam merancang kebijakan berbasis data sekaligus adaptif terhadap perubahan lingkungan strategis.

Tidak berhenti di situ, teknik analisis McNamara serta Cost Benefit Analysis (CBA) turut diberikan sebagai alat pengambilan keputusan. Peserta dilatih menimbang setiap alternatif solusi secara rasional dan terukur, sehingga kebijakan yang dihasilkan tidak hanya tepat sasaran, tetapi juga efisien dan berkelanjutan.

Dalam refleksi yang mengemuka, pelatihan ini menghadirkan kesadaran baru bahwa bela negara dapat diwujudkan melalui profesionalitas kerja. Para penyuluh pertanian tidak sekadar menjalankan tugas administratif, melainkan menjadi aktor penting dalam menjaga stabilitas nasional melalui sektor pangan. Di tangan merekalah, ketahanan bangsa dipertaruhkan dalam bentuk yang paling mendasar, yaitu ketersediaan pangan.

Pada akhirnya, Khamdan menutup sesi dengan mengaitkan bela negara pada nilai spiritualitas. Ia mengingatkan bahwa dalam tradisi keagamaan, cinta tanah air merupakan bagian dari iman. Dalam konteks pertanian, cinta tanah air itu terwujud melalui upaya merawat tanah, menjaga benih, dan memastikan keberlanjutan pangan bagi generasi mendatang. Sebuah pengingat bahwa pengabdian ASN bukan hanya tugas negara, tetapi juga panggilan moral dan iman terutama menyangkut kelestarian lahan pertanian. (KA)

Related posts

Dari Bapelkum Semarang, Inspirasi Benchmarking Layanan untuk ASN Pertanian Indonesia

Cegah Korupsi, Pemprov Jateng Gandeng KPK

Penguatan Kompetensi ASN, Investasi Terbaik untuk Kemajuan Pertanian Nasional