Lebih Sederhana dan Bermakna, Ribuan Warga Meriahkan Kirab Buka Luwur Ratu Kalinyamat

JEPARA | GISTARA. COM – Langit Jepara tampak cerah ketika ribuan warga mulai ruas jalan protokol hingga Pendopo R.A Kartini. Suasana penuh harap dan antusiasme terasa sejak awal, menandai dimulainya Kirab Budaya Buka Luwur Ratu Kalinyamat yang telah menjadi bagian penting dari tradisi masyarakat Kota Ukir.

Kirab diawali dengan tarian kolosal yang menggambarkan sosok Ratu Kalinyamat yang dijuluki Rainha de Japara. Usai pertunjukan teaterikal, rombongan bergerak menuju makam Mantingan dengan cara yang tak biasa. Para pimpinan daerah, dipimpin Bupati Jepara Witiarso Utomo dan Wakil Bupati Muhammad Ibnu Hajar, menunggang kuda, diikuti dokar dan sepeda ontel yang memperkuat nuansa tradisional.

Dari pendopo, iring-iringan bergerak perlahan menuju Kompleks Masjid Astana Sultan Hadlirin, tempat bersemayamnya tokoh-tokoh penting sejarah Jepara, termasuk Ratu Kalinyamat.

Sepanjang jalan, warga berdiri berjejer, sebagian mengabadikan momen, sebagian lain larut dalam nuansa budaya Jepara tempo dulu.

BACA JUGA: Ziarah Leluhur Awali HUT Jepara ke-477, Bupati Witiarso: Merawat Sejarah, Menguatkan Masa Depan

Tak hanya warga lokal, sejumlah wisatawan mancanegara hingga mahasiswa dari luar negeri tampak ikut menyaksikan. Mereka berjalan berdampingan dengan masyarakat, menyatu dalam pengalaman budaya yang otentik.

Rombongan tiba di kompleks makam Mantingan sekitar pukul 15.20 WIB.
Langkah kemudian dilanjutkan menuju makam Ratu Kalinyamat. Di tempat yang sarat sejarah itu, doa dipanjatkan dengan khidmat sebelum prosesi inti, yakni pembukaan luwur, dilakukan.

Bupati Jepara, Witiarso Utomo, menyampaikan rangkaian kegiatan ini merupakan kelanjutan dari ziarah leluhur yang telah dilaksanakan sebelumnya. Ia menegaskan bahwa tradisi ini bukan sekadar seremoni, tetapi sarat makna reflektif bagi pemerintah daerah.

Prosesi Buka Luwur

“Kirab ini merefleksikan kekuatan. Kuda melambangkan tenaga luar biasa, dan kami di pemerintahan harus memiliki semangat yang sama untuk bekerja di tahun mendatang,” ujarnya.

Ia juga menyinggung berbagai pekerjaan rumah yang masih menjadi fokus, mulai dari infrastruktur, kesehatan, hingga pendidikan. Menurutnya, seluruh aspek tersebut menjadi tanggung jawab yang harus dituntaskan dalam masa kepemimpinannya.

Menariknya, pada pelaksanaan tahun ini tidak terdapat arak-arakan besar seperti sebelumnya.

Hal ini, menurutnya, merupakan bagian dari efisiensi dengan tetap mengedepankan penggunaan alat transportasi tradisional.

BACA JUGA: Pameran TATAH 2026, Kuatkan Identitas Jepara sebagai Kota Ukir

Lebih dari itu, ia menekankan pentingnya pelestarian budaya. “Kami ingin budaya Jepara tetap hidup, agar anak cucu kita mengenalnya dan bangga akan warisan leluhur,” tambahnya.

Menjelang senja, kirab budaya ditutup dengan suasana hangat kebersamaan. Warga, tamu, dan jajaran pemerintah duduk bersama dalam tradisi makan tumpeng di kompleks makam Mantingan, sebuah simbol syukur, persatuan, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.

Salah seorang warga Mlonggo, Aris mengapresiasi kirab buka luwur tahun ini yang menurutnya lebih merakyat. Bupati dan jajarannya menyapa langsung warga sepanjang jalan menuju Makam Mantingan. Warga juga terhibur dengan kirab sosok Ratu Kalinyamat dan pasukannya yang menempuh jarak belasan kilometer itu.

“Kalau tahun kemarin naik mobil, tapi sekarang lebih sakral. Tradisi kirab buka luwur ini benar-benar milik warga Jepara,” tandasnya. (KA)

Related posts

BPIH  Dipastikan Tak Ada Kenaikan

Meriahkan Hari Jadi ke-477,  Ogoh-ogoh Akan Diarak di Jepara

Ziarah Leluhur Awali HUT Jepara ke-477, Bupati Witiarso: Merawat Sejarah, Menguatkan Masa Depan