Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
GISTARA TV
Thursday, October 8, 2026
Top News
Mengenal Rubrik Penerbitan Surat Kabar, dan Majalah
Cuaca Terik, Penjual Es Teh di Jepara Berhamburan
Mengenal Nyai Hindun Anisah, Caleg DPR RI Dapil Demak, Kudus, dan...
Kolam Renang Cinta Candi Liyangan Temanggung Jawa Tengah Terbaru 2022
Fenomena Bodoh Deklarasi Kasyaf Lewat Foto
Ribuan Orang Hadiri Haul Mbah Sahil ke 18, Ini Biografinya
Sejarah Pantai Nampu Wonogiri Jawa Tengah Terbaru 2022
Peringati Hari Ibu, MIDEHA Festival Gelar Lomba Kolaborasi dengan Ibu
Tak Perlu ke Eropa, Main Salju Bisa di Dusun Semilir Bawen
Rancangan Dapil Pemilu 2024 di Jepara Tidak Berubah
Gistara
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Copyright 2021 - All Right Reserved
MuriaRegional

Lakut IPNU-IPPNU Jepara, Mitigasi Risiko Kontestasi Gerakan Islam

by Redaksi 24/02/2025
Redaksi 24/02/2025 391 views
391

Dr. Muh Khamdan menerima cinderamata dari panitia Lakut

JEPARA | GISTARA. COM –  Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Jepara sukses menggelar Latihan Kader Utama (Lakut) pada 20-23 Februari 2025. Kegiatan diikuti oleh 37 peserta dari 16 kecamatan se-Kabupaten Jepara.

Lakut sendiri merupakan kegiatan pengkaderan tertinggi di tingkatan pengurus cabang, guna penguatan kapasitas kader muda NU dalam memahami dinamika sosial, politik, dan keagamaan di Indonesia.

Salah satu materi utama dalam pelatihan ini adalah “Peta Gerakan Islam di Indonesia,” yang disampaikan oleh Dr. Muh Khamdan, aktivis muda NU Jepara yang juga menjadi widyaiswara di Kementerian Hukum Jawa Tengah. Sosok yang aktif pada Lajnah Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) itu dan menamatkan pendidikan S2 serta S3 dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sangat menekankan pentingnya memahami peta gerakan Islam di Indonesia.

BACA JUGA: 150 Pimpinan Komisariat IPNU-IPPNU Ikuti Latihan Kepemimpinan Pelajar, Inilah Harapannya

Khamdan menyampaikan peta gerakan dalam tiga kerangka utama, yaitu kontestasi politik, relasi budaya, dan eksistensi ideologi.

Dalam kerangka kontestasi politik, dijelaskan bahwa gerakan Islam di Indonesia terbagi dalam tiga corak utama. Pertama, integrasi agama dan negara yang memunculkan kelompok dengan identitas mengusung syariat Islam, negara Islam, atau NKRI Bersyariah. Kedua, kelompok pengusung sekularisasi atau pemisahan agama dan negara, sebagaimana kelompok komunisme yang menempatkan agama sebagai urusan privat tidak dalam ranah negara. Ketiga, simbiosis mutualis yang menempatkan antara agama dan negara saling memengaruhi namun tidak dalam formalistik negara berdasarkan agama.

Menurut Khamdan, ketiga model ini terus berkembang dalam wacana kebangsaan, terutama dalam konteks demokrasi dan politik elektoral di Indonesia yang membangun pola 70 persen kelompok kebangsaan dan 30 persen kelompok islamisme atau agama.

Pada aspek relasi budaya, Khamdan menguraikan bagaimana perdebatan antara pemisahan agama dan budaya yang seringkali melabeli praktik tertentu sebagai bid’ah, berhadapan dengan gerakan akulturasi dan akomodasi budaya.

Dr. Muh Khamdan bersama  peserta Lakut

Jepara, sebagai daerah yang kaya akan tradisi Islam lokal, menjadi contoh konkret bagaimana relasi agama dan budaya terus mengalami dinamika dalam praktik keseharian masyarakat. Hal itu sebagaimana tantangan menjaga eksistensi melarung dalam festival Lomban, sedekah bumi, sedekah laut, maupun baratan dan tradisi barikan di sejumlah pekuburan.

Sementara itu, dalam kerangka eksistensi ideologi, Khamdan mengupas berbagai aliran yang berkembang di Indonesia, mulai dari Ahlus Sunnah wal Jamaah, Syiah, hingga Wahabi dan Salafi.

Ia menggarisbawahi bagaimana kelompok-kelompok ini berinteraksi di Jepara, baik dalam konteks sosial, pendidikan, maupun politik. Menariknya, interaksi lintas ideologi dalam Islam itu membentuk pola kekerabatan sekaligus pertalian darah kekeluargaan di Jepara.

BACA JUGA: IKA PMII Komitmen Siapkan SDM yang Kontributif dan Berkualitas

Lakut ini diharapkan dapat membentuk kader-kader muda NU yang memiliki pemahaman kritis, moderat, dan inklusif dalam menghadapi tantangan zaman.

Ketua PC IPNU Jepara, Muhammad Jamaludin menyatakan bahwa pelatihan ini menjadi langkah strategis dalam membangun generasi penerus yang tidak hanya berlandaskan nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil alamin, tetapi juga memiliki wawasan kebangsaan yang kuat.

Dengan pemahaman yang komprehensif terhadap peta gerakan Islam, para kader diharapkan mampu berperan aktif dalam menjaga harmoni sosial dan memperkuat peran Nahdlatul Ulama di tengah masyarakat. Hal itu senada dengan target yang disampaikan Ketua PC IPPNU Kabupaten Jepara, Miftahul Ilya Nasroh, di Pesantren Nailul Muna, Kalipucang, Welahan (23/2/25).

Sebagaimana akhir penyampaian Dr. Khamdan, peta gerakan Islam di Indonesia maupun spesifik di Jepara dapat dilakukan mitigasi dengan menggunakan empat indikator deteksi moderasi beragama. Masing-masing adalah memiliki komitmen terhadap konsensus kebangsaan, anti-kekerasan, toleran kepada pihak lain, serta mengharga keqrifan lokal atau eksistensi budaya. Inilah yang nantinya dapat digunakan sebagai indikator sebuah gerakan disebut moderat atau radikal. (KA/KH)

IPNUIPPNUJeparaLakut
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Redaksi

previous post
Turnamen Catur Junior Dandim Cup I Digelar, Promosikan Wisata Melalui Olahraga
next post
Pimpin Apel Pagi, Wabup Tegaskan Jangan Tunggu Viral Dulu Baru Melayani Masyarakat

You may also like

Pemkab Jepara Salurkan BLT DBHCHT ke 4.813 Butuh dan Petani Tembakau

07/10/2026

Cetak Instruktur yang Berkualitas, PC PMII Jepara Gelar Pelatihan Instruktur Cabang

06/10/2026

Bimwin bagi Calon Pengantin, Wujudkan Keluarga yang Harmonis dan Berkualitas 

06/10/2026

Pemkab Jepara Dorong BUMDesa Masuk Rantai Pasok Ritel

06/10/2026

Bahas Dana Cadangan Pilkada 2029, Bawaslu Jepara Tekankan Pentingnya Kesiapan Anggaran

06/10/2026

Gentur Ajak Masyarakat Manfaatkan AI Berlandaskan Nilai-Nilai Islam

05/10/2026

Terkini

  • Perkuat Jejaring Akademik Internasional, Prodi PAI UNISNU Jepara Kolaborasi Riset dengan IIUM Malaysia

    07/10/2026
  • Pemkab Jepara Salurkan BLT DBHCHT ke 4.813 Butuh dan Petani Tembakau

    07/10/2026
  • Cetak Instruktur yang Berkualitas, PC PMII Jepara Gelar Pelatihan Instruktur Cabang

    06/10/2026
  • Bimwin bagi Calon Pengantin, Wujudkan Keluarga yang Harmonis dan Berkualitas 

    06/10/2026
  • Pemkab Jepara Dorong BUMDesa Masuk Rantai Pasok Ritel

    06/10/2026
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Sign In

Keep me signed in until I sign out

Forgot your password?

Do not have an account ? Register here

Password Recovery

A new password will be emailed to you.

Have received a new password? Login here

Register New Account

Have an account? Login here