Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
GISTARA TV
Friday, October 16, 2026
Top News
Mengenal Rubrik Penerbitan Surat Kabar, dan Majalah
Cuaca Terik, Penjual Es Teh di Jepara Berhamburan
Mengenal Nyai Hindun Anisah, Caleg DPR RI Dapil Demak, Kudus, dan...
Kolam Renang Cinta Candi Liyangan Temanggung Jawa Tengah Terbaru 2022
Fenomena Bodoh Deklarasi Kasyaf Lewat Foto
Ribuan Orang Hadiri Haul Mbah Sahil ke 18, Ini Biografinya
Sejarah Pantai Nampu Wonogiri Jawa Tengah Terbaru 2022
Peringati Hari Ibu, MIDEHA Festival Gelar Lomba Kolaborasi dengan Ibu
Tak Perlu ke Eropa, Main Salju Bisa di Dusun Semilir Bawen
Rancangan Dapil Pemilu 2024 di Jepara Tidak Berubah
Gistara
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Copyright 2021 - All Right Reserved
Opini

Pancasila di Era Milenial: Antara Idealisasi dan Implementasi

by Redaksi 01/06/2025
Redaksi 01/06/2025 357 views
357

Oleh: Jumaiyah, SE.M.Si

Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila dengan berbagai upacara dan kegiatan. Namun, di balik gemerlap perayaan tersebut, pertanyaan mendasar yang perlu kita ajukan adalah: sejauh mana nilai-nilai Pancasila benar-benar telah terinternalisasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di era kontemporer ini?

Pancasila, yang lahir dari proses pergulatan intelektual para founding fathers, bukan sekadar produk sejarah yang patut dikagumi dari kejauhan. Lima sila yang terkandung di dalamnya merupakan kristalisasi dari nilai-nilai luhur bangsa yang seharusnya menjadi panduan dalam menghadapi kompleksitas permasalahan modern. Ketuhanan Yang Maha Esa mengajarkan toleransi beragama, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menekankan penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia, Persatuan Indonesia mengukuhkan semangat kebhinekaan, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan menjunjung tinggi demokrasi deliberatif, dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia menuntut pemerataan kesejahteraan.

BACA JUGA: PLN UIK Tanjung Jati B Beri Apresiasi untuk Guru Ngaji Menjelang Hari Kartini

Realitas yang kita hadapi hari ini menunjukkan adanya kesenjangan antara idealitas Pancasila dengan praktik kehidupan sehari-hari. Fenomena intoleransi masih kerap muncul di berbagai daerah, polarisasi politik semakin menguat, dan kesenjangan ekonomi terus melebar. Media sosial, yang seharusnya menjadi sarana demokratisasi informasi, justru kerap menjadi medan pertempuran narasi yang memecah belah. Hoaks dan ujaran kebencian menyebar dengan mudah, mengikis rasa persatuan yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa.

Tantangan terbesar implementasi Pancasila di era digital adalah bagaimana mentransformasikan nilai-nilai filosofis menjadi perilaku konkret dalam ruang siber. Generasi milenial dan Gen Z, yang merupakan digital natives, membutuhkan pendekatan yang berbeda dalam memahami dan mengamalkan Pancasila. Pendidikan Pancasila tidak lagi cukup disampaikan melalui hafalan teks semata, melainkan harus dikontekstualisasikan dengan isu-isu aktual yang mereka hadapi.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, misalnya, perlu dimaknai ulang dalam konteks pluralisme digital. Bagaimana menciptakan ruang diskusi keagamaan yang sehat di media sosial? Bagaimana mengajarkan toleransi di tengah algoritma yang cenderung memperkuat echo chamber? Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menuntut kita untuk lebih peduli terhadap isu-isu kemanusiaan global, mulai dari krisis iklim hingga perlindungan hak-hak minoritas.

Persatuan Indonesia di era globalisasi memiliki makna yang lebih luas. Bukan hanya persatuan dalam batas geografis, tetapi juga persatuan dalam menghadapi tantangan global. Pandemi COVID-19 telah mengajarkan kita bahwa solidaritas tidak mengenal batas negara. Demikian pula dengan isu perubahan iklim, yang membutuhkan aksi kolektif dari seluruh lapisan masyarakat.

Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, menghadapi ujian serius di era post-truth. Bagaimana membangun deliberasi publik yang berkualitas ketika informasi yang beredar semakin sulit diverifikasi? Bagaimana menjaga proses demokrasi dari manipulasi big data dan micro-targeting dalam kampanye politik?

Sementara itu, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia menuntut pemikiran ulang tentang konsep kesejahteraan di era ekonomi digital. Bagaimana memastikan bahwa transformasi digital tidak semakin memperdalam kesenjangan, melainkan menjadi sarana untuk pemerataan akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan peluang ekonomi?

BACA JUGA: PLN UIK Tanjung Jati B dan Pokdakan Sido Maju II Kembangkan Rumah Bibit Mangrove: Solusi Hijau untuk Konservasi dan Ekonomi Masyarakat

Revitalisasi Pancasila membutuhkan pendekatan yang holistik dan inovatif. Pertama, pendidikan Pancasila harus dikemas dalam format yang menarik dan relevan bagi generasi digital. Gamifikasi, storytelling interaktif, dan platform pembelajaran digital dapat menjadi alternatif yang efektif. Kedua, contoh keteladanan dari para pemimpin di berbagai level menjadi kunci utama. Pancasila akan kehilangan kredibilitasnya jika tidak dipraktikkan oleh mereka yang berada di posisi otoritas.

Ketiga, pelibatan aktif organisasi masyarakat sipil dalam sosialisasi nilai-nilai Pancasila menjadi sangat penting. Komunitas-komunitas lokal memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang dinamika sosial di tingkat grassroots. Keempat, pemanfaatan teknologi untuk monitoring dan evaluasi implementasi Pancasila dapat membantu mengidentifikasi area-area yang membutuhkan perhatian khusus.

Hari Lahir Pancasila seharusnya menjadi momentum untuk introspeksi kolektif. Bukan sekadar merayakan warisan masa lalu, tetapi juga merefleksikan relevansinya untuk masa depan. Pancasila memiliki fleksibilitas untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman, asalkan substansi nilai-nilainya tetap dijaga.

Tantangan ke depan adalah bagaimana membuat Pancasila menjadi living ideology yang tidak hanya dihafal, tetapi juga dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Hanya dengan cara itulah Pancasila dapat membuktikan relevansinya sebagai kompas moral bangsa di tengah turbulensi global yang semakin kompleks. Pancasila bukan milik masa lalu, melainkan panduan untuk masa depan yang lebih baik.

Jumaiyah, SE, M.Si,  Dosen Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara 

1 JuniIdealisasiImplementasiPancasila
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Redaksi

previous post
RUPTL Terbaru Berpotensi Tawarkan 91 Persen Green Jobs dari Sektor Pembangkit Listrik
next post
Semarak Harlah ke-79 Muslimat NU, YPM NU Cabang Jepara Gelar Gebyar Lomba PAUD dan TPQ

You may also like

Kekerasan Pasca 30 September 1965 di Pedesaan

01/10/2026

Karnaval “Satanic” Pekalongan, Sisa Spiritual yang Rapuh

29/09/2026

Merawat Marwah NU Jepara dari Keteladanan KH Ahmad Fauzan

25/09/2026

Peran MUI dalam Penguatan Mutu Pendidikan Islam dan Kompetensi Digital

18/09/2026

Undang-Undang Pesantren Dan Orientasi Pendidikan Indonesia

05/09/2026

Ketua PBNU dan Imperatif “Tajalli” Melampaui Intelektualisme Menuju Kejernihan Hati

03/09/2026

Terkini

  • Dr Haryanto Ungkap Rahasia Manajemen Pembelajaran dalam Surat Al-Alaq

    14/10/2026
  • BPS Jepara Ingatkan, Jangan Keliru Membaca Angka Ekonomi

    14/10/2026
  • Kejar Swastisaba Wistara 2027, FKJS Jepara Perkuat Kelembagaan hingga Desa

    14/10/2026
  • Lantik PRNU Tanjung 2, Rais Syuriyah PCNU Jepara Ingatkan Dua Kriteria Pemimpin

    14/10/2026
  • LPTQ Jepara Siapkan MTQ,  Pembinaan Kader dan Syiar AI-Qur’an Jadi Prioritas

    13/10/2026
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Sign In

Keep me signed in until I sign out

Forgot your password?

Do not have an account ? Register here

Password Recovery

A new password will be emailed to you.

Have received a new password? Login here

Register New Account

Have an account? Login here