Gelar wicara idaroh literasi
JEPARA | GISTARA. COM – Pengurus Daerah (PD) Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kabupaten Jepara berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Jepara sukses menggelar Gelar Wicara Idaroh Literasi.
Kegiatan ini sebagai bagian dari rangkaian Semarak Museum RA Kartini Jepara (SEMURIA) 2025 dan Pameran Obyek Pemajuan Kebudayaan,
mengusung tema besar “Merajut Ingatan Kolektif Masyarakat Bersama Museum Kartini Jepara”, Kamis, 11 Desember 2025, di Museum RA Kartini- Pendopo Kabupaten Jepara.
Sinergi ini bertujuan memperkuat identitas daerah dan melestarikan sejarah lokal melalui dialog lintas perspektif.
BACA JUGA: Kolaborasi Lintas Instansi, PLN Kebut Pemulihan Kelistrikan Aceh
Hari pertama kegiatan SEMURIA menunjukkan antusiasme tinggi dari masyarakat. Tercatat, 1.700 orang mengunjungi pameran dan Museum RA Kartini.
Rangkaian acara diawali dengan aspek edukasi budaya, yaitu Workshop membuat Memeden Gadhu (patung sawah) di teras belakang Pendopo.
Dilanjutkan dengan lomba mewarnai dan mendongeng, serta sesi budaya Pembacaan Mocopatan sebelum memasuki puncak acara.
Kegiatan ditutup dengan pementasan seni yang kaya, termasuk Tari Encik oleh Reyog Encik Gronggong Desa Tanjung dan pementasan seni tari dari Karimunjawa serta Sanggar-sanggar di Jepara, yang disusul dengan pementasan Emprak pada malam harinya.
BACA JUGA: Resmi, Rumah Dinas Bupati Jepara Beralih Jadi Museum R.A Kartini
Ketua PD Forum TBM Jepara, Muhammad Ali Burhan, S.H., dalam sambutannya menyampaikan bahwa “Museum memiliki peran vital sebagai ruang edukasi dan dokumentasi. Namun, di akar rumput, TBM dan komunitas sejarah memiliki peran strategis dalam merawat sastra lisan dan ingatan kolektif warga,” ujar Ali Burhan.
“Melalui Idaroh Literasi ini, kami ingin menyatukan frekuensi tersebut agar narasi sejarah Jepara semakin kuat, baik di panggung nasional maupun global.”
Ia menambahkan, Forum TBM Jepara kini bertransformasi menjadi sentra budaya yang aktif menggali, mendokumentasikan, dan mengukir identitas asli Jepara, sejalan dengan misi“Mengintegrasikan literasi dengan kearifan lokal.”
Selanjutnya, Gelaran wicara yang dimoderatori oleh Avis Nur Mufida ini menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang akademisi dan komunitas.
Gelar wicara fokus pada empat poin utama; pertama, Peran Museum sebagai ruang edukasi dan pelestarian artefak di era digital, disampaikan oleh Ibu Lia Supardianik dari Disparbud Jepara.
Kedua, Jepara di Mata Nusantara dan Global, membahas branding budaya dan mengangkat cerita lokal menjadi pengetahuan global, disampaikan oleh Ali Romdhoni, M.A., Ph.D. (Peneliti Sejarah dan Budaya).
Ketiga, Aktivitas Pegiat Sejarah dalam pendokumentasian sejarah lokal dan arsip keluarga terkait tokoh seperti RA Kartini dan Ratu Kalinyamat, disampaikan oleh M. Dalhar, S.S. (Pemerhati Sejarah Jepara).
Keempat, Peran TBM dalam Pelestarian Sastra Lisan sebagai ruang hidup cerita rakyat dan penjaga pengetahuan warga, disampaikan oleh Muhammad Ali Burhan, S.H. (Ketua Forum TBM Jepara).
Kegiatan ini dihadiri oleh pengelola TBM se-Jepara, pegiat literasi dan sejarah, komunitas budaya, guru, pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum pemerhati budaya.
Forum TBM Jepara berharap hasil diskusi ini dapat didokumentasikan sebagai rekomendasi untuk mendorong pemajuan kebudayaan daerah secara aktif dan berkelanjutan. (KA)