JEPARA | GISTARA.COM – Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ikhlas Krapyak adakan workshop pemulasaran jenazah yang diikuti oleh santri dan warga sekitar. Acara tersebut turut di hadiri oleh Ketua yayasan Ayis Mukholik dan modin desa krapyak Muhammad Salim. workshop ini berlangsung di Aula Ponpes Al Ikhlas putri. (Rabu, 17 /12/ 2025).
Menurut Ayis Mukholik selaku ketua yayasan mengatakan, workshop ini bertujuan untuk memberikan wawasan kepada santri dan warga sekitar tentang bagaimana tatacara dalam islam untuk memandikan, mengkafani dan mentalkin jenazah.
“Kegiatan ini diadakan supaya dapat mengasah keterampilan bagi santri, masyarakat atau calon kader modin mengenai tatacara merawat jenazah. Sesuai dengan aturan Agama, masyarakat, adat dan istiadat,” ujarnya.
BACA JUGA: Resik Lepen Kali Les Setro, Pemuda dan Warga Jaga Lingkungan
Sementara itu, Menurut Muhammad Salim selaku pemateri workshop pemulasaran jenazah menyampaikan Kegiatan ini tidak hanya untuk menambah wawasan bagaimana merawat jenazah. Tetapi juga dapat menjalankan kewajiban agama bagi santri dan masyarakat islam untuk menjalankan fardlu kifayah.
“Di zaman sekarang ini, kita sangat butuh generasi- generasi muda dalam meneruskan perjuangan mengabdi kepada masyarakat seperti perawatan jenazah, karena kita bisa membantu meringankan beban bagi keluarga yang dapat musibah, dan bisa memberi manfaat kepada sesama,” katanya.
Dalam paparannya, ada tiga tahapan dalam merawat jenazah yaitu memandikan, mengkafani, dan mensholati jenazah. Teknik memandikan, jenazah diletakkan ditempat yang tinggi seperti papan kayu atau lainnya dan ditutup auratnya dengan kain atau bisa dengan dibaringkan dipangkuan mahramnya.
Ia mengaskan bahwa sempurnanya memandikan jenazah adalah membasuh kedua pantatnya, menghilangkan kotoran dari hidungnya, mewudlukannya, menggosok badannya dengan daun bidara, dan mengguyurkan dengan air sebanyak tiga kali.
Selain itu,ia juga memaparkan potongan kain yang harus dipakai untuk mengkafani, untuk jenazah laki- laki menggunakan 3 lembar kain putih. Sedangkan, jenazah perempuan menggunakan 5 lembar kain putih, dimana masing-masing kain tersebut berukuran cukup lebar yang sekiranya bisa membungkus seluruh tubuh jenazah.
“Dalam perawatan mensolatkkan jenazah ada 2 perbedan posisi imam sesuai jenis kelamin janazah, jika jenazah perempuan maka posisi imam ada pada bagian pinggul kanan imam (imam berdiri lurus di pinggul jenazah), sedangkan jenazah laki-laki kepala berada disisi kanan imam” ucap Salim saat menyampaikan materi pemulasaran jenazah.
Soraya salah satu santri yang mengikuti workshop mengimbuhkan, workshop ini sangat bermanfaat dan dapat menambah wawasan kita tentang perawatan jenazah yang benar dan baik.
“Alhamdulillah…saya dapat ikut belajar tentang bagaimana tatacara merawat jenazah yang baik, dan sesuai dengan anjuran agama, workshop ini sangat bermanfaat untuk kita sebagai santri yang harus , dan bahkan wajib mengetahui tatacara seperti merawat jenazah ini,” ungkapnya.
Soraya menambahkan, berharap ada pelatihan tahap ke 2, 3 dan seterusnya dengan materi yang sama, agar santri dan warga dapat terlatih dan siap untuk terjun ke masyarakat. (AD)