Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
GISTARA TV
Thursday, October 15, 2026
Top News
Mengenal Rubrik Penerbitan Surat Kabar, dan Majalah
Cuaca Terik, Penjual Es Teh di Jepara Berhamburan
Mengenal Nyai Hindun Anisah, Caleg DPR RI Dapil Demak, Kudus, dan...
Kolam Renang Cinta Candi Liyangan Temanggung Jawa Tengah Terbaru 2022
Fenomena Bodoh Deklarasi Kasyaf Lewat Foto
Ribuan Orang Hadiri Haul Mbah Sahil ke 18, Ini Biografinya
Sejarah Pantai Nampu Wonogiri Jawa Tengah Terbaru 2022
Peringati Hari Ibu, MIDEHA Festival Gelar Lomba Kolaborasi dengan Ibu
Tak Perlu ke Eropa, Main Salju Bisa di Dusun Semilir Bawen
Rancangan Dapil Pemilu 2024 di Jepara Tidak Berubah
Gistara
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Copyright 2021 - All Right Reserved
Opini

Menangkal Intoleransi di Lingkungan Sekolah melalui Sinergi Guru, Orang Tua, dan Tokoh Agama

by Redaksi 09/01/2026
Redaksi 09/01/2026 273 views
273

Oleh: Muhammad Fikri Haikal

Sekolah memiliki posisi penting sebagai ruang pembentukan karakter dan pola pikir generasi muda. Di lingkungan inilah nilai kebersamaan, penghormatan terhadap perbedaan, serta semangat hidup berdampingan secara damai seharusnya ditanamkan sejak dini.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, fenomena intoleransi mulai tampak di dunia pendidikan, baik dalam bentuk sikap eksklusif, ujaran bernada kebencian, maupun penolakan terhadap kelompok yang dianggap berbeda. Apabila dibiarkan tanpa penanganan yang serius, sikap intoleran tersebut berpotensi berkembang menjadi konflik sosial di masa mendatang.

Intoleransi di sekolah tidak muncul secara tiba-tiba. Fenomena ini kerap dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, seperti pola asuh keluarga, paparan media sosial, serta pemahaman keagamaan yang sempit.

BACA JUGA: Bupati Jepara Usulkan Sekolah Terintegrasi di Karimunjawan kepada Mendikdasmen

Peserta didik yang terbiasa menerima narasi kebencian atau pembelahan “kami” dan “mereka” dalam kehidupan sehari-hari berisiko membawa cara pandang tersebut ke lingkungan sekolah.

Oleh sebab itu, upaya pencegahan intoleransi tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada institusi pendidikan, melainkan memerlukan kerja sama yang erat antara guru, orang tua, dan pemuka agama.

Guru memegang peranan kunci sebagai pendidik sekaligus figur teladan bagi peserta didik. Proses pembelajaran tidak hanya berfungsi untuk menyampaikan materi akademik, tetapi juga menjadi sarana penanaman nilai dan pembentukan sikap.

Guru dituntut untuk mengintegrasikan nilai moderasi, toleransi, dan penghargaan terhadap keberagaman melalui pendekatan pembelajaran yang dialogis dan inklusif.

BACA JUGA: Haul Gus Dur ke-16 : Guru Bangsa yang Mencintai Tanpa Sekat

Berbagai mata pelajaran dapat dimanfaatkan sebagai media penanaman nilai toleransi, misalnya melalui diskusi, studi kasus, maupun penguatan pendidikan karakter. Di samping itu, sikap adil dan non-diskriminatif guru dalam keseharian akan menjadi contoh konkret praktik toleransi bagi peserta didik.

Di sisi lain, peran orang tua sangat menentukan karena keluarga merupakan lingkungan pertama yang membentuk cara pandang anak. Sikap orang tua terhadap perbedaan agama, budaya, dan pandangan hidup akan berpengaruh besar terhadap pola pikir anak.

Oleh karena itu, orang tua perlu membangun komunikasi yang terbuka, menanamkan pemahaman bahwa perbedaan merupakan bagian dari kehidupan, serta menumbuhkan empati dan sikap saling menghormati.

Dukungan orang tua terhadap program-program sekolah yang mengedepankan nilai toleransi juga menjadi faktor penting dalam mencegah berkembangnya sikap intoleran.

BACA JUGA: Konfercab ke-XXV PMII Jepara, Nur Fazari Terpilih Sebagai Ketua

Pemuka agama juga memiliki posisi strategis dalam membangun pemahaman keagamaan yang moderat dan menenangkan. Melalui peranannya, pemuka agama dapat meluruskan penafsiran keagamaan yang keliru dan berpotensi menumbuhkan sikap eksklusif. Pesan-pesan keagamaan yang disampaikan melalui ceramah, pengajian, maupun forum keagamaan lainnya dapat menekankan nilai-nilai universal agama, seperti kasih sayang, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Ketika ajaran agama disampaikan selaras dengan nilai kebangsaan dan kemanusiaan, peserta didik akan memiliki landasan moral yang kuat untuk bersikap toleran.

Sinergi antara guru, orang tua, dan pemuka agama perlu diwujudkan melalui komunikasi yang berkelanjutan dan saling mendukung. Sekolah dapat berperan sebagai ruang pertemuan dengan menyelenggarakan seminar, diskusi, atau kelas parenting yang membahas isu toleransi dan keberagaman. Kesamaan nilai antara sekolah, keluarga, dan lingkungan keagamaan akan membantu peserta didik memiliki pegangan yang jelas dalam kehidupan sehari-hari.

Menangkal intoleransi di sekolah memang bukan pekerjaan yang sederhana, namun tetap memungkinkan untuk diwujudkan. Dengan kerja sama yang solid antara guru, orang tua, dan pemuka agama, sekolah dapat berkembang menjadi ruang yang aman dan inklusif, serta mampu menumbuhkan sikap saling menghargai. Upaya ini tidak hanya penting bagi keharmonisan dunia pendidikan, tetapi juga bagi masa depan bangsa yang majemuk dan beradab.

Muhammad Fikri Haikal, Fakultas Komunikasi dan Desain Unisnu Jepara

GuruOrang tuaPendidikan
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Redaksi

previous post
Cegah Banjir, Polisi Bersama Warga Bersihkan Sampah di Sungai Mantingan
next post
​Pelantikan Pimpinan Komisariat IPNU IPPNU MTs Al Hidayah Langon, Perkuat Kaderisasi Pelajar NU

You may also like

Kekerasan Pasca 30 September 1965 di Pedesaan

01/10/2026

Karnaval “Satanic” Pekalongan, Sisa Spiritual yang Rapuh

29/09/2026

Merawat Marwah NU Jepara dari Keteladanan KH Ahmad Fauzan

25/09/2026

Peran MUI dalam Penguatan Mutu Pendidikan Islam dan Kompetensi Digital

18/09/2026

Undang-Undang Pesantren Dan Orientasi Pendidikan Indonesia

05/09/2026

Ketua PBNU dan Imperatif “Tajalli” Melampaui Intelektualisme Menuju Kejernihan Hati

03/09/2026

Terkini

  • Dr Haryanto Ungkap Rahasia Manajemen Pembelajaran dalam Surat Al-Alaq

    14/10/2026
  • BPS Jepara Ingatkan, Jangan Keliru Membaca Angka Ekonomi

    14/10/2026
  • Kejar Swastisaba Wistara 2027, FKJS Jepara Perkuat Kelembagaan hingga Desa

    14/10/2026
  • Lantik PRNU Tanjung 2, Rais Syuriyah PCNU Jepara Ingatkan Dua Kriteria Pemimpin

    14/10/2026
  • LPTQ Jepara Siapkan MTQ,  Pembinaan Kader dan Syiar AI-Qur’an Jadi Prioritas

    13/10/2026
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Sign In

Keep me signed in until I sign out

Forgot your password?

Do not have an account ? Register here

Password Recovery

A new password will be emailed to you.

Have received a new password? Login here

Register New Account

Have an account? Login here