GISTARA. COM – Pada malam Nisfu Sya’ban umat Islam bersimpuh diri kepada Allah SWT untuk bermunajat melantunkan doa-doa dan memohon ampunan.
Nisfu Sya’ban, menjadi momentum refleksi menjelang Ramadan, sebuah kesempatan memperbarui niat menuju keislaman yang hakiki. Para ulama menggambarkan bulan Sya’ban sebagai masa persiapan ruhani sebelum Ramadan.
Sejumlah riwayat hadis seperti Hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah menyebutkan bahwa pada malam Nisfu Sya’ban, Allah SWT melimpahkan ampunan kepada hamba-hamba-Nya, kecuali bagi mereka yang masih terjerat kesyirikan dan permusuhan
BACA JUGA: Resmi, Rumah Dinas Bupati Jepara Beralih Jadi Museum R.A Kartini
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengingatkan bahwa penyakit hati seperti hasad, dendam, dan rasa benci lebih berbahaya daripada dosa-dosa lahiriah, karena hal tersebut merusak akar keimanan
Muhasabah
Hikmah terbesar Nisfu Sya’ban terletak pada muhasabah (evaluasi diri). Umar bin Khattab RA berpesan agar setiap mukmin menghitung dirinya sendiri sebelum kelak dihisab oleh Allah SWT. Dalam semangat inilah Nisfu Sya’ban bukan hanya tentang doa, tetapi kesadaran untuk berubah, menjadi muslim yang lebih baik.
Alqur’an dalam surat Al-Hasyr ayat 18 telah menjelaskan “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Hasan Al-Bashri menyebut bahwa ciri mukmin sejati adalah kejujurannya dalam menilai diri sendiri, serta kelembutannya dalam memperlakukan orang lain.
BACA JUGA: Polres Jepara dan Bhayangkari Gelar Baksos untuk Warga Terdampak Banjir Dan Tanah Longsor
Menuju Kesalehan Sosial
Tradisi keagamaan seperti membaca Surah Yasin, berdoa bersama, dan memperbanyak istighfar pada malam Nisfu Sya’ban telah mengakar kuat di tengah masyarakat Muslim Nusantara.
KH. Hasyim Asy’ari dalam Risalah Ahlussunah Waljamaah menjelaskan bahwa tradisi keagamaan berfungsi sebagai wasilah untuk memperkuat akhlak dan persaudaraan, selama dijalankan dengan niat yang lurus dan tidak bertentangan dengan syariat.
Dari sinilah hikmah Nisfu Sya’ban menemukan maknanya, ibadah tidak berhenti pada ritual, tetapi menuntun pada akhlak yang baik, sesuai ajaran Nabi Muhammad SAW.
Muslim sejati adalah mereka yang shalatnya melahirkan kejujuran, doanya menumbuhkan empati, dan taubatnya menghadirkan kedamaian bagi sesama. (KA)