Tarian dzikir sufi
JEPARA | GISTARA. COM – Pondok Pesantren Nailun Najah As-Salafy Kriyan, Kalinyamatan, Jepara menggelar acara bertajuk “Tari Sufi Kolosal 1447 Hijriyah: Sambut Ramadhan Dengan Cinta” pada Jumat (13/2/2026). Kegiatan berlangsung di pelataran Masjid Al-Makmur Kriyan dan dimulai pukul 16.00 WIB.
Masjid bersejarah yang dikenal sebagai peninggalan Ratu Kalinyamat tersebut menjadi saksi kemeriahan acara yang diawali dengan pembukaan, lantunan adzan, sambutan pengasuh pondok, serta sajian tarian sufi kolosal.
Tradisi ini dilaksanakan setiap tahun setiap Jumat terakhir bulan Sya’ban menjelang Ramadhan sebagai wujud suka cita atas datangnya bulan penuh berkah dan ampunan.
BACA JUGA: Jepara Darurat Miras? Polres Jepara Sita Ribuan Botol Miras
Sebanyak 30 santri lebih, mulai dari anak-anak hingga dewasa, tampil membawakan tarian dzikir sufi Whirling Dervish yang terinspirasi dari ajaran Maulana Jalaluddin Rumi.
Para santri mengenakan pakaian sufi menyerupai kain kafan, juga mengenakan peci tinggi (sikke) yang dimaknai seperti lambang batu nisan. Kostum tersebut menjadi simbol pengingat kematian (dzikrul maut), bahwa setiap manusia akan kembali kepada Allah SWT.
Dengan gerakan berputar yang khusyuk dan lantunan dzikir serta shalawat, suasana religius terasa semakin mendalam. Ratusan masyarakat yang hadir tampak terhanyut dalam suasana penuh refleksi dan kesadaran spiritual.

Warga memadati pelataran masjid
Kegiatan ini tidak hanya menjadi hiburan spiritual, tetapi juga bagian dari syiar kebaikan dalam menyongsong Ramadhan. Antusiasme warga terlihat dari banyaknya pengunjung yang datang untuk menyaksikan dan merasakan suasana penuh cinta dan kedamaian tersebut.
Pengasuh Pondok Pesantren Nailun Najah As-Salafy, Gus Muhammad, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari menyambut Ramadhan dengan suka cita dan kebahagiaan.
“Karena di dalam kitab Durrotun Nashisin diterangkan man fariha biduhuli Ramadhan harramallahu jasadahu ‘alan niran, barang siapa bergembira atas kehadiran bulan Ramadhan maka diharamkan jasadnya atas api neraka,” ujarnya.
BACA JUGA: Ratu Kalinyamat : Perempuan Muslimah Anti Kolonialisme 1549-1579
Dalam kesempatan yang sama, juga launching buku “Pusaran Cahaya: Jalan Cinta Santri Indigo” karya Muhajir, salah satu santri pondok. Buku tersebut mengisahkan perjalanan ruhani seorang santri dalam menapaki jalan cinta dan pencarian spiritual di lingkungan pesantren.
Acara ditutup dengan pembacaan sholawat mahalul qiyam bersama menjelang waktu Maghrib. Lantunan shalawat menggema di pelataran masjid, menghadirkan suasana haru dan penuh kerinduan kepada Nabi Muhammad SAW. Seluruh penari pun terhanyut dalam suasana, termasuk pengasuh pesantren yang meluapkan rindu melalui putaran dzikir whirling dervish dan doa, seraya berharap Ramadhan 1447 Hijriyah membawa keberkahan bagi seluruh umat.(KA)