JEPARA | GISTARA. COM – Seolah menjadi ruang tamu alam yang tak pernah kehabisan kehangatan, Pulau Panjang menyambut setiap tamu dengan simfoni udara sejuk dan rimbunnya pepohonan yang masih terjaga.
Perahu-perahu bersandar di atas keelokan laut yang sebening kaca menjadi saksi bisu atas keindahan alam yang menarik para wisatawan dari berbagai daerah.
Eksistensi pulau ini kian bersinar, bukan hanya karena keasriannya, tapi karena ia menawarkan pelarian sempurna; mulai dari kayuhan sepeda yang membelah jalanan setapak, hingga ketenangan malam di dalam tenda-tenda camping yang menghadap cakrawala. Sebuah harmoni antara alam yang asri dan napas ekonomi masyarakat yang terus berdenyut di setiap sudut warungnya.
BACA JUGA: Polisi Bekuk Pencuri Baterai Tower di Pakis Aji
Supawi (54) selaku ketua paguyuban yang menghubungkan Pantai Perawehan dengan pesisir eksotis Pulau Panjang mengungkapkan bahwa seluruh armada kapal yang beroperasi merupakan milik pribadi warga. Meski demikian, sistem pengelolaannya dilakukan secara terpadu melalui paguyuban demi menjaga ketertiban layanan.
Sedangkan pembentukan paguyuban berjumlah 12 armada dengan keanggotaan yang sudah ditetapkan. Hal ini merupakan inisiatif desa untuk memfasilitasi lonjakan wisatawan sejak jalur pantai perawehan resmi dibuka 3 tahun lalu.
“Satu kapal biasanya beranggotakan 15 – 20 orang, penyeberangan dimulai dari pukul 7 pagi sampai pukul 4 sore, tapi kalo jam 6 sudah ada penumpang yang siaga maka tetap di berangkatkan,” ujar Supawi pada Minggu (3/5/2026) saat diwawancarai di Pulau Panjang Jepara.
Terkait efisiensi waktu, Supawi menyebutkan bahwa akses dari Perawehan menuju Pulau Panjang tergolong singkat, yakni hanya memakan waktu sekitar 15 menit. Kendati demikian, ia mengakui frekuensi penyeberangan sangat bergantung pada kondisi kunjungan wisatawan.
“Kalau jaraknya dari parawehan ke pulau panjang sekitar 15 menit. Biasanya kalo rame bisa bolak balik 4 kali, paling rame di hari raya, tapi kalo sepi bisa cuma 1 kali saja. Soalnya ini kan masih baru, biasanya wisatawan itu lewat jalur bandengan atau kartini,” terangnya.
BACA JUGA: Harlah ke-66: Aksi Nyata PMII untuk Indonesia
Supawi mengaku bahwa tantangan terbesar mereka adalah musim baratan yang kerap membawa gelombang tinggi hingga memaksa aktivitas penyeberangan berhenti total. Ia juga menjelaskan terkait keselamatan penumpang yang menjadi prioritas paguyuban parawehan.
“Kendala cuaca ketika angin musim barat itu tinggi sehingga tidak berani menyebrang, kalo hujan masih bisa berangkat asal gelombangnya stabil karena gelombang itu datangnya dari angin, Kalau angin kencang kami pilih off, karena masalahnya di laut bukan di darat, kalau sudah ada yang hilang itu susah carinya,” jelasnya.
“Kami selalu memberi arahan agar penumpang tidak duduk di tepi kapal atau berlari-larian, terutama anak-anak, harus didampingi orang tua agar tidak berbahaya,” tambah Supawi.
Sementara itu, Arifin (45) penjaga pulau panjang menegaskan bahwa pulau panjang tidak di huni penduduk sama sekali. hanya ada navigator dan penjaga makam.
BACA JUGA: Wujudkan Jalan Jepara Mulus, Bupati Jepara Alokasikan Rp 200 Miliar Pertahun
“Sejak dulu disini memang tidak ada penduduk setempat, hanya ada navigator sama juru kunci makam. tapi kalo ada yang mau camping ya tetap ada yang jagain” katanya.
”Untuk tiket masuk ke pulau panjang Rp.8000 baik weekend maupun weekday tapi kalau hari raya ataupun hari natal itu Rp.15000″ imbuh Arifin.
Aurelia salah satu pengunjung pulau panjang mengaku sangat menyesal tidak nge–camp, tetapi ia juga merasa puas berlibur di pulau panjang.
“Alhamdulillah juga cocok sama cuacanya hari ini, cerah, nggak hujan, semuanya lancar. Jadi pas sampai sini juga kita have fun, sayangnya kita nggak menginap, nggak nge-camp soalnya diberi waktu dari UNNES cuma 1 hari aja liburannya” pungkasnya.(KA/Rima)