JEPARA | GISTARA. COM – Menjelang datangnya bulan Dzulhijjah, umat Islam diajak untuk meningkatkan kualitas ibadah serta menjaga perilaku sehari-hari. Hal tersebut disampaikan oleh KH. M. Nur Jalal Mujtaba Ketua Lazisnu Kabupaten Jepara dalam Kajian Ahad Pagi di Masjid Jami’ Raudlatul Falah Sekuro, Ahad (17/5/26).
Ia menjelaskan bahwa saat ini umat Islam berada di penghujung bulan Dzulqa’dah, yang termasuk salah satu bulan mulia bersama Dzulhijjah dan Muharram. Pada bulan-bulan tersebut, setiap amal kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya, begitu pula perbuatan maksiat yang akan berlipat dosanya.
“Ini akhir Dzulqa’dah. Ada bulan yang dimuliakan Allah, yaitu Dzulhijjah, Dzulqa’dah, dan Muharram. Kalau melakukan kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya, dan kalau melakukan maksiat maka dosanya juga dilipatgandakan,” ungkapnya.
BACA JUGA: Jadikan Pesantren Ruang Aman, Gus Yasin Dorong Pembentukan Satgas Anti Bullying dan Anti Kekerasan
Dalam penjelasannya, KH. Jalal juga menyinggung makna hari-hari penting di awal Dzulhijjah, seperti Tarwiyah dan Arafah. Ia menyebutkan bahwa puasa pada kedua hari tersebut memiliki keutamaan yang besar.
“Diminta puasa Tarwiyah karena seperti puasa setahun, dan Arafah juga sangat dianjurkan. Maka sebaiknya kita memperbanyak kebaikan sepanjang hayat,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia mengajak umat Islam meneladani para sahabat Nabi yang sangat menghormati bulan-bulan mulia. Pada masa itu, para sahabat bahkan menghentikan aktivitas peperangan sebagai bentuk penghormatan terhadap bulan suci.
“Dulu para sahabat, kalau di bulan itu tidak melakukan kegiatan peperangan. Semua atribut peperangan digantungkan,” jelasnya.
Dalam konteks kehidupan sehari-hari, ia menekankan pentingnya menjaga keharmonisan rumah tangga. Menurutnya, momentum bulan mulia menjadi waktu yang tepat untuk menahan emosi dan memperbaiki sikap.
“Dalam berumah tangga harus dijaga, jangan marah-marah dengan suami maupun istri,” pesannya.
Ia juga menyoroti keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah yang sangat dicintai Allah SWT. Pada masa tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah seperti puasa sunnah, dzikir, dan membaca Al-Qur’an.
“Sepuluh hari pertama Dzulhijjah itu bulan yang disenangi Allah SWT. Manusia diminta beribadah, berpuasa, dan malamnya membaca tasbih seperti menanti Lailatul Qadar,” ujarnya.
Dengan gaya santai, ia mengingatkan bahwa puasa Dzulhijjah bersifat sunnah, namun memiliki nilai pahala yang besar bagi yang menjalankannya.
“Puasanya ini sunnah, tidak wajib. Kalau mau dapat pahala, puasalah. Seperti kalau kita ingin dapat uang, ya kerja,” ungkapnya sambil tersenyum dan penuh semangat.
BACA JUGA: Dorong Seni Ukir Jepara Mendunia, Taj Yasin Soroti Regenerasi Pengukir
Ia juga memberikan contoh niat puasa yang sederhana agar mudah diamalkan masyarakat.
“Kalau tidak bisa melafalkan dengan bahasa Arab, cukup dengan bahasa Jawa: niat ingsun puasa sunnah Dzulhijjah karena Allah SWT,” tuturnya.
Selain itu, ia mengajak masyarakat menghidupkan syiar Islam melalui takbir mutlak yang dapat dibaca di berbagai tempat.
“Takbir mutlak itu disunnahkan dibaca di mana-mana, di pasar, di sawah, di sekolah,” katanya.
Sebagai penutup, ia memberikan solusi bagi masyarakat yang tidak mampu berpuasa penuh selama sepuluh hari pertama Dzulhijjah.
“Kalau tidak kuat puasa dari tanggal 1 sampai 7, paling tidak puasa di hari 8 yang disebut Tarwiyah dan hari 9 yang disebut Arafah,” pungkasnya. (KA/KM)