Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Upacara digelar dan seruan tentang pentingnya menjaga ideologi bangsa kembali menggema. Namun, di tengah peringatan yang penuh khidmat itu, ada pertanyaan mendasar yang patut kita renungkan bersama, sejauh mana nilai-nilai Pancasila hadir dalam kehidupan rakyat sehari-hari?.
Sila kelima, “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, hingga hari ini masih menjadi pekerjaan rumah besar bangsa. Ketimpangan ekonomi masih terlihat nyata. Di satu sisi, sebagian kelompok menikmati pertumbuhan dan kemajuan ekonomi yang pesat. Di sisi lain, masih banyak masyarakat yang berjuang memenuhi kebutuhan dasar, menghadapi sulitnya akses pendidikan berkualitas, layanan kesehatan, dan kesempatan kerja yang layak.
Pembangunan memang terus berjalan, tetapi hasilnya belum sepenuhnya dirasakan secara merata. Masih ada daerah yang tertinggal dalam infrastruktur, akses teknologi, maupun pelayanan publik. Jurang antara pusat dan daerah, antara kota dan desa, masih menjadi kenyataan yang sulit dipungkiri.
BACA JUGA: Kartu Sarjana Jepara Dibuka, Berikut Cara Daftar dan Persyaratannya
Di bidang hukum, harapan masyarakat terhadap keadilan juga kerap diuji. Hukum seharusnya menjadi panglima yang berdiri tegak tanpa memandang status sosial, jabatan, maupun kekuatan ekonomi. Namun, persepsi publik tentang praktik hukum yang tebang pilih masih sering muncul. Ketika masyarakat melihat adanya perbedaan perlakuan terhadap kasus yang serupa, kepercayaan terhadap penegakan hukum pun perlahan terkikis.
Pancasila tidak akan hidup hanya melalui hafalan dan seremoni. Ia harus diwujudkan dalam kebijakan yang berpihak kepada rakyat, pembangunan yang berkeadilan, serta penegakan hukum yang jujur dan tanpa diskriminasi.
BACA JUGA: Meriah, Perang Obor Tegalsambi Sedot Ribuan Wisatawan
Pancasila juga menuntut keberanian para pemimpin untuk mendengar suara masyarakat kecil yang sering kali tenggelam di tengah hiruk-pikuk kepentingan politik dan ekonomi.
Hari Lahir Pancasila harus menjadi momentum evaluasi nasional. Bukan sekadar mengenang sejarah lahirnya dasar negara, melainkan mengukur sejauh mana cita-cita para pendiri bangsa telah diwujudkan. Sebab, kekuatan Pancasila tidak terletak pada seberapa sering ia diucapkan, tetapi pada seberapa sungguh-sungguh ia dijalankan.
Ketika keadilan sosial benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyat, ketika pembangunan tidak meninggalkan siapa pun, dan ketika hukum berdiri sama tegak bagi setiap warga negara, saat itulah Pancasila bukan hanya menjadi dasar negara, melainkan menjadi napas kehidupan bangsa Indonesia.
Selamat Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026.