JEPARA | GISTARA. COM – Di balik penampilannya yang bersahaja, serta sorot mata yang teduh memancarkan ketenangan, Rumini adalah sosok perempuan pekerja keras, baik hati, dan penuh dengan kerajinan.
Perempuan tangguh berusia 49 tahun asal Senenan, Tahunan, Jepara ini sehari-hari mendedikasikan hidupnya sebagai seorang pengukir seni tradisi Jepara.
“Sehari-hari saya mengukir” jelasnya (25/6/26)
Di tengah padatnya aktivitas memahat kayu dan perannya mengurus rumah tangga, ia selalu menemukan kebahagiaan tersendiri dalam merawat keluarga serta menyalurkan hobi seninya melalui setiap detail pola ukiran yang ia ciptakan di rumah tinggalnya sendiri.
Rumini menempuh pendidikan hingga lulus dari Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Sukodono Meskipun tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, semangat belajarnya tidak pernah surut. Tumbuh di lingkungan Desa Sukodono yang kental dengan budaya memahat, beliau memilih untuk langsung memasuki sekolah kehidupan dengan belajar mengukir sejak tahun 1992 hingga sekarang.
BACA JUGA: Multaqo LMY Kecamatan Jepara 2026 Ditutup, Tebar Kepedulian kepada Anak Yatim dan Guru TPQ
Langkah awal perjuangannya dimulai dengan menimba ilmu secara langsung di rumah Sadi di Sukodono, sebuah tempat yang menjadi saksi bisu awal mula jemari telatennya mulai bersentuhan dengan kayu dan alat pahat.
Kehidupan keluarga yang dibangun oleh Rumini bersama sang suami, Sutrisno, berjalan dengan penuh kehangatan meski harus melewati berbagai keterbatasan ekonomi di masa-masa awal pernikahan. Pasangan ini dikaruniai dua orang putri, yaitu Ega Putri Trisniani dan Nadia Zahra Khoirunisa.
Sebagai seorang ibu, ia memegang peran yang sangat penting dalam keluarga, yakni menjadi pilar penyokong ekonomi sekaligus madrasah pertama bagi anak-anaknya.
Di tengah masyarakat, ia dipandang sebagai sosok pengukir perempuan yang inspiratif, ramah, dan aktif melestarikan kebudayaan lokal di tengah dominasi kaum laki-laki.
Menapaki kehidupan sebagai seorang pengukir perempuan membawa hambatan yang tidak mudah bagi Rumini, terutama karena adanya stigma sosial bahwa mengukir adalah pekerjaan laki-laki.
BACA JUGA: Kuatkan Sinergi Bangun Generasi Qur’ani, LMY Kecamatan Jepara Gelar Rihlah dan Multaqo
Perjalanan hidupnya penuh dengan kisah jatuh bangun yang menguji ketahanan mental. Di masa lalu, ia kerap mengalami diskriminasi, mulai dari dipandang sebelah mata mengenai kemampuannya, sulit mendapatkan kepercayaan dari pelanggan, hingga menerima upah atau gaji yang lebih rendah dibandingkan pengukir laki-laki.
Fluktuasi industri ukir dan sepinya pesanan di masa-masa sulit sempat menjadi cobaan berat yang memaksa Rumini untuk terus memutar otak demi mencukupi kebutuhan dapur.
Strategi sukses yang diterapkan oleh Rumini untuk bertahan dan bangkit berakar kuat pada konsistensi, kemauan untuk terus belajar, serta pembuktian melalui karya nyata.
Alih-alih menyerah pada keadaan, ia memilih untuk terus mengasah kemampuannya dengan mempelajari motif-motif ukiran baru yang lebih rumit.
Kunci keberhasilannya terletak pada ketekunan untuk membuktikan kepada lingkungan sekitar bahwa perempuan memiliki kapabilitas yang setara dalam menghasilkan karya seni berkualitas tinggi. Selain itu, kebersediaannya untuk selalu terbuka berkolaborasi dengan generasi muda menjadi strategi jitu dalam menjaga relevansi karyanya di tengah perkembangan zaman.
BACA JUGA: Praktisi Media Berbagi Pengalaman Jurnalistik kepada Mahasiswa KPI Unisnu Jepara
Kerja keras dan keteguhan tersebut akhirnya membawa Rumini ke puncak kariernya yang luar biasa dan diakui di tingkat nasional. Salah satu pencapaian tertingginya adalah ketika ia dipercaya berkolaborasi dengan Tim Jaladara untuk memamerkan karya ukiran berbentuk ovarium dalam pameran seni “Tatah” di Jakarta.
Tidak hanya itu, mahakarya ukirannya yang bertajuk “Lada Hitam” sukses memikat hati dan dibeli langsung oleh Wakil Menteri Hukum dan HAM.
Keberhasilan monumental ini membuat karya beserta profil Ibu Rumini kini dipajang secara terhormat di ruang Kementerian di Jakarta, sebuah pengakuan tertinggi yang mengubah seluruh dinamika hidup dan statusnya sebagai pengukir legendaris.
Pada akhirnya, seluruh pencapaian yang diraih oleh Rumini hari ini merupakan cerminan nyata dari karakter beliau yang pantang menyerah, disiplin, dan memiliki dedikasi spiritual yang tinggi terhadap seni.
Melalui rekam jejak perjalanan hidupnya yang sarat akan tantangan gender dan ekonomi, ia berhasil membuktikan bahwa kerja keras yang konsisten selalu membuahkan hasil yang manis.
Setiap babak kehidupan yang telah dilaluinya bukan sekadar cerita tentang kesuksesan finansial, melainkan sebuah refleksi mendalam mengenai bagaimana keteguhan mental dan komitmen mampu mengubah diskriminasi menjadi peluang emas yang diakui oleh negara.
Sebagai warisan semangat bagi generasi penerus yang mulai kehilangan minat terhadap seni daerah, ia selalu menekankan pentingnya mencintai pekerjaan dan menjaga warisan budaya dengan penuh kesungguhan.
Perjuangan hidupnya mengajarkan bahwa batasan hanya ada di dalam pikiran, sebuah prinsip yang terangkum indah dalam untaian kata motivasi dan kata mutiara dari dirinya “Seni ukir ini adalah nafas hidup saya. Teruslah belajar dan buktikan dengan karya nyata, karena ketekunan jemari kita mampu mendobrak segala keterbatasan dan membawa kehormatan bagi keluarga.” Pesan mendalam ini menjadi pengingat abadi bahwa peluh dalam berkarya dari rumah sekalipun, jika ditekuni dengan cinta, mampu mengguncang panggung nasional. (*)
Penulis : Nor Laila Safriani (mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Unisnu Jepara