Berawal Ingin Jadi Guru, Sugi Menginspirasi Lewat Dunia Wayang

Sugiyarto (Sugi)

JEPARA | GISTARA. COM – Sugiyarto, yang akrab disapa Pak Sugi atau dikenal di panggung sebagai Aa’ Sugi, merupakan sosok yang mudah dikenali berkat senyum ramah dan pembawaannya yang hangat. Lahir di Rengging dan tumbuh besar di Ngasem, ia memiliki karakter yang jenaka sehingga mampu mencairkan suasana di mana pun berada.

Di balik sikapnya yang sederhana, tersimpan pribadi yang mencerminkan pepatah “air beriak tanda tak dalam, air tenang menghanyutkan”, yakni tidak banyak menonjolkan diri, tetapi memiliki kemampuan dan pengalaman yang mendalam.

Kegemarannya bermain bersama anak-anak semakin memperlihatkan sisi penyayang dan kedekatannya dengan masyarakat.

Dalam kehidupan sehari-hari, Sugi menjalani profesi sebagai guru, dalang, dan pengrawit. Dunia pendidikan membentuk kecintaannya pada ilmu, terutama sejak duduk di bangku SMP ketika mulai menyukai matematika.

BACA JUGA: Stop Kebocoran, E-Parkir Resmi Diluncurkan

Pengalaman belajar di MAN hingga menempuh pendidikan di UIN Walisongo Semarang semakin mengasah bakat, memperluas wawasan, serta membentuk makna keluarga dan persaudaraan dalam hidupnya.

Di sisi lain, kecintaannya terhadap seni tradisional tumbuh dari lingkungan keluarga melalui pedalangan dan karawitan yang hingga kini menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup sekaligus penopang ekonomi.

“Jika sudah lelah belajar, tandanya kita akan usai,” ujarnya, (24/7/26).

Sugi terus mengembangkan diri sambil melestarikan seni budaya, terutama sebagai dalang yang kini menjadi identitas paling melekat dalam dirinya.

Sugiyarto merupakan anak kedua dari dua bersaudara kandung. Ia menempuh pendidikan di SD Negeri 1 Ngasem, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Tahunan, MAN 1 Jepara, hingga akhirnya menyelesaikan pendidikan di UIN Walisongo Semarang.

BACA JUGA: Teguhkan Nilai Toleransi, PAC GP Ansor Mlonggo Gelar Ngaji Budaya Lintas Iman

Sejak kecil, cita-citanya bukan menjadi dalang, melainkan seorang guru. Masa kecilnya pun tidak jauh berbeda dengan anak-anak lain seusianya, dihabiskan dengan bermain bersama teman-teman sekampung.

Hingga kini, dengan gaya humornya yang khas, ia kerap menggambarkan statusnya sebagai “bujang lapuk penumpuk harta”, candaan yang mencerminkan kepribadiannya yang santai dan menghibur.

Perkenalan Sugi dengan dunia wayang dimulai bahkan sebelum ia memasuki bangku sekolah. Saat itu, ia sering diajak bermain oleh bapak angkatnya yang merupakan seorang penabuh gamelan. Sementara itu, bapak kandungnya juga berprofesi sebagai dalang wayang orang.

Lingkungan keluarga yang dekat dengan seni tradisional inilah yang perlahan menumbuhkan kecintaannya terhadap dunia pedalangan. Meski awalnya bercita-cita menjadi guru, ia kemudian menyadari bahwa menjadi dalang juga merupakan jalan untuk mendidik masyarakat melalui cerita dan nilai-nilai kehidupan yang disampaikan dalam setiap pementasan.

Kesadaran itulah yang akhirnya mendorongnya mulai belajar mendalang pada tahun 2010 di bawah bimbingan Ki H. Munthohar, maestro dalang asal Desa Bawu, Jepara.

BACA JUGA: Kupas KDMP, PMII Jepara Ingatkan Pentingnya Tata Kelola Profesional

Di sela-sela masa kuliahnya, Sugi menjalani proses belajar secara rutin. Setiap malam Jumat ia berlatih menghafal kosakata dan materi pedalangan, sedangkan pada hari Minggu siang ia mendalami berbagai keterampilan teknis seperti sulukan, dodogan, keprakan, cara memegang wayang, hingga adegan perang wayang.

Baginya, tantangan terbesar sebagai dalang bukan hanya menguasai teknik pementasan, tetapi juga menyusun materi yang akan disampaikan kepada penonton, serta mengoordinasikan seluruh anggota saat pagelaran berlangsung.

Penampilan pertamanya di hadapan masyarakat berlangsung sekitar tahun 2014 di Desa Kecapi, Ngesong. Dari sekian banyak pengalaman yang ia lalui, momen yang paling berkesan adalah ketika berhasil menghadirkan adegan-adegan pewayangan yang mampu mengejutkan sekaligus memikat perhatian para penonton.

Bagi Sugi, kepuasan terbesar seorang dalang adalah ketika pesan yang disampaikan melalui wayang dapat diterima dan dikenang oleh masyarakat.

Hingga saat ini, Sugi telah beberapa kali tampil dalam berbagai pagelaran wayang di sejumlah wilayah di Kabupaten Jepara, seperti Pakis Aji, Mayong, Langon, Sendang, Kalinyamatan, Rengging, Senenan, dan berbagai daerah lainnya.

BACA JUGA: Situs Langgar Bubrah Diduga Peninggalan Era Ratu Kalinyamat, Bupati Jepara Siap Dukung Pelestarian Cagar Budaya

Meskipun belum pernah mengikuti festival atau lomba pedalangan, dedikasinya terhadap seni wayang mendapat apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Jepara melalui penghargaan sebagai Pelestari Seni Pedalangan dalam acara Semuaria tahun 2024.

Selain aktif menerima undangan pentas dengan rata-rata empat hingga lima kali dalam sebulan, bahkan dapat mencapai sekitar 25 kali pada bulan-bulan ramai, ia juga menjalani kesehariannya sebagai guru.

Sepulang mengajar, waktunya diisi dengan membina kegiatan ekstrakurikuler karawitan, sementara pada malam hari ia bersiap apabila ada undangan pementasan wayang.

Komitmen Sugi dalam melestarikan seni wayang tidak hanya diwujudkan melalui pementasan, tetapi juga melalui pendidikan. Melalui sanggar yang dikelolanya, ia membuka kegiatan outing class bagi anak-anak TK dan SD sebagai upaya menumbuhkan kecintaan terhadap wayang sejak usia dini.

Ia juga rutin melatih karawitan di SD Negeri 1 Bangsri, SMP Negeri 2 Jepara, SMP Negeri 1 Pecangaan, SMP Negeri 3 Kedung, SMK Negeri 1 Kedung, SMK Negeri 3 Jepara, serta membimbing komunitas pemuda di Sanggar Nawasena, Desa Semat.

Menurutnya, perkembangan seni wayang saat ini cukup menggembirakan karena semakin banyak sanggar yang aktif melahirkan dalang cilik dan dalang remaja.

Tantangan terbesar di era modern adalah menjaga agar seni tradisi tetap relevan tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur budaya Jawa. Oleh karena itu, ia terus berupaya memperkenalkan wayang kepada generasi muda agar mereka mencintai dan bangga terhadap warisan budaya bangsa.

Perjalanan hidup Sugi menunjukkan bahwa ketekunan, kerendahan hati, dan kecintaan terhadap budaya mampu berjalan beriringan.

Berawal dari cita-cita menjadi seorang guru, ia akhirnya menemukan jalan lain untuk mengabdi kepada masyarakat melalui dunia pedalangan dan karawitan.

Baginya, mengajar tidak hanya dilakukan di ruang kelas, tetapi juga melalui kisah-kisah wayang yang sarat akan nilai moral dan kearifan lokal.

Dengan pribadi yang sederhana, jenaka, dan tidak pernah berhenti belajar, Sugi terus membuktikan bahwa menjaga warisan budaya merupakan bentuk pengabdian yang bernilai bagi generasi mendatang.

Perjalanan hidupnya, Sugi berpegang teguh pada petuah Jawa yang selalu menjadi pedoman dalam bersikap, “Lamun sira banter, aja ndisiki. Lamun sira landep, aja natoni,” yang bermakna, “Jika engkau lebih cepat, jangan mendahului dengan kesombongan. Jika engkau lebih unggul atau tajam, jangan menyakiti orang lain.” Melalui nasihat tersebut, ia mengajak setiap orang untuk tetap rendah hati, bijaksana, dan menghargai sesama, sebab keberhasilan sejati bukan diukur dari seberapa tinggi seseorang melangkah, melainkan dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain. (KA)

Penulis: Naylatul Jannah, Mahasiswa Prodi KPI Unisnu Jepara

Related posts

Belanja Masalah” Jadi Langkah Awal Mahasiswa KKN Unisnu XXI Mengabdi di Desa Keling

Jangan Abaikan Air, Arif Mustofa Ajak Warga Peduli Lingkungan

Stop Kebocoran, E-Parkir Resmi Diluncurkan