JAKARTA | GISTARA. COM – Sosok ulama asal Kudus, Jawa Tengah, yang akrab disapa Mbah Riyan mendadak menjadi perhatian publik setelah ditetapkan sebagai salah satu penerima MUI Awards 2026.
Di balik kehidupannya yang sederhana sebagai tukang bangunan, tersimpan dedikasi besar dalam menjaga dan mengembangkan khazanah keilmuan Islam Nusantara.
Ulama yang memiliki nama pena Ibnu Harjo Al-Jawi itu dinilai berjasa dalam mentahkiq atau menyunting serta meneliti kitab-kitab klasik karya ulama Nusantara yang memiliki nilai keilmuan tinggi dan telah dikenal hingga tingkat internasional.
Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi Digital Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Masduki Baidlowi, menjelaskan bahwa MUI Awards merupakan bagian dari rangkaian Milad ke-51 MUI yang digelar bersamaan dengan penutupan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII.
BACA JUGA: Jaga Marwah Pesantren, RMI Satukan Pengasuh, Madin, Musyrif dan Pegiat Media
Menurutnya, penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi kepada tokoh maupun lembaga yang memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan umat, sekaligus memperkuat citra positif MUI di tengah masyarakat.
“Beliau memiliki karya-karya ilmiah yang luar biasa. Selama ini beliau mentahkiq kitab-kitab klasik karya ulama Nusantara yang menjadi bagian penting dari khazanah keilmuan Islam,” ujar KH Masduki Baidlowi dilansir dari MUI digital di Kantor MUI Pusat, Jakarta, Selasa (4/8/2026).
Nama pena Ibnu Harjo Al-Jawi yang digunakan Mbah Riyan juga kerap menarik perhatian karena dianggap memiliki kemiripan dengan nama ulama hadis terkemuka, Ibnu Hajar Al-Asqalani. Namun, di balik kiprah intelektualnya, Mbah Riyan dikenal sebagai sosok yang sangat sederhana, rendah hati, dan jauh dari sorotan publik.
KH Masduki mengungkapkan, di kampung halamannya di Kudus, Mbah Riyan tetap menjalani keseharian sebagai tukang bangunan.
BACA JUGA: Pameran TATAH 2026 Usai, Semangat Lestarikan Ukir Jepara Terus Berlanjut
Kesederhanaan hidupnya membuat banyak orang tidak mengetahui bahwa dirinya merupakan seorang intelektual muslim yang tekun mengkaji dan menyunting karya-karya ulama Nusantara.
“Beliau termasuk sosok al-mastur, yakni orang yang tidak menampakkan keistimewaan dirinya. Ketika diundang untuk menerima penghargaan pun beliau memilih tidak hadir karena sikap tawadu dan kezuhudannya,” ungkapnya.
Kisah hidup Mbah Riyan kemudian ramai diperbincangkan di media sosial dan berbagai forum kajian. Banyak warganet memberikan apresiasi atas keteladanan dan dedikasinya dalam menjaga warisan intelektual Islam tanpa mengejar popularitas.
Menurut KH Masduki, viralnya kisah Mbah Riyan menjadi bukti bahwa MUI Awards mampu menghadirkan figur-figur inspiratif yang selama ini bekerja dalam senyap, tetapi memberikan manfaat besar bagi kemajuan umat. (KA)