Densus 88 AT Polri bersama BNPT Kolaborasi dengan Unisnu Jepara Cegah Radikalisme dan Ekstrimisme di Jateng

Khoirul Muslimin Dosen Unisnu Jepara menjadi pemateri konten kreator

JEPARA | GISTARA. COM – Suasana hening dan tenang mengiringi pelaksanaan pelatihan keterampilan yang digelar Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Republik Indonesia di Pondok Pesantren Al Muttaqin, Sowan Lor, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, Kamis (13/8/2026).

Kegiatan tersebut diikuti para santri dengan berbagai materi keterampilan, meliputi etika bermedia sosial, konten kreator, digital marketing, barbershop, teknisi AC, dan barista.

Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya memberikan pembinaan sekaligus keterampilan praktis kepada para santri agar mampu mengikuti perkembangan zaman dan memiliki bekal keterampilan yang dapat dimanfaatkan setelah menyelesaikan pendidikan di pondok pesantren.

Kombes Pol Chairul Anam, S.I.K., M.I.K., dari Detasemen Khusus 88 Anti Teror, mengatakan pelatihan di Ponpes Al Muttaqin diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan keterampilan yang bermanfaat bagi para santri.

BACA JUGA: Dr. Hj. Hindun Anisah, MA., Anggota DPR RI Fraksi PKB Mengucapkan Dirgahayu Republik Indonesia ke-81

Materi pelatihan juga melibatkan dosen dari Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara, di antaranya Khoirul Muslimin, Doktor Mohamad Rifqi Roosdhani, dan Dwi Erlin Efendi.

“Pelatihan ini memberikan pembinaan dan skill kepada para santri agar mampu mengikuti perkembangan zaman. Setelah lulus dari pondok, keterampilan yang dimiliki dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan diri dan menjadi bekal dalam kehidupan,” ujar Chairul Anam.

Ia menjelaskan, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari kolaborasi antara Densus 88 AT Polri, BNPT RI, dan UNISNU Jepara. Kolaborasi antara praktisi dan akademisi tersebut diarahkan untuk memberikan pembinaan kepada generasi muda sekaligus mendukung upaya penanganan paham radikalisme dan ekstremisme di wilayah Jawa Tengah.

“Densus 88 AT Polri dan BNPT RI berkolaborasi dengan UNISNU. Hal ini merupakan bagian dari kolaborasi praktisi dan akademisi dalam upaya penanganan paham-paham radikalisme dan ekstremisme di wilayah Jawa Tengah,” lanjutnya.

Salah satu pemateri dalam pelatihan Etika Bermedia Sosial dan Konten Kreator, Khoirul Muslimin, yang juga Wakil Dekan Fakultas Komunikasi dan Desain (FKD) UNISNU Jepara, menyampaikan bahwa perkembangan teknologi dan media sosial membuka peluang besar bagi santri untuk menjadi kreator konten. Namun, kemampuan tersebut harus diiringi dengan kreativitas, perencanaan, serta etika dalam menggunakan media sosial.

BACA JUGA: Jelang Pilpet Serentak 2026, Bupati Kumpulkan Petinggi se-Jepara

Menurut Khoirul, membuat konten tidak sekadar merekam video kemudian mengunggahnya ke media sosial. Seorang kreator perlu memulai dari menentukan ide dan pesan, menyusun storyline dan naskah, membuat shot list, melakukan proses shooting, hingga editing agar pesan yang disampaikan dapat diterima audiens dengan baik.

“Konten yang baik bukan hanya soal bagaimana kita merekam gambar, tetapi bagaimana kita menentukan ide, menyusun pesan, membuat storyline dan shot list, kemudian melakukan shooting dan editing secara terencana,” kata Khoirul.

Ia menjelaskan, video dapat menjadi media komunikasi yang menarik karena mampu membuat informasi lebih mudah dipahami, menguatkan emosi dan pesan, mendukung pembelajaran, melatih kreativitas dan komunikasi, serta membangun citra positif. Karena itu, santri perlu didorong tidak hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi juga mampu memproduksi konten yang kreatif dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dalam pelatihan tersebut, Khoirul juga memberikan pengenalan mengenai teknik pengambilan gambar agar konten yang dibuat lebih menarik. Beberapa teknik yang diperkenalkan antara lain static shot, panning shot, tilt up/down, dolly shot, orbit, follow shot, dan crab shot. Teknik tersebut dapat digunakan secara bervariasi sesuai dengan kebutuhan cerita dan pesan yang ingin disampaikan.

“Jangan hanya menggunakan satu jenis pengambilan gambar. Variasi gerakan kamera dapat membuat video lebih hidup dan membantu audiens menikmati cerita yang kita sampaikan,” jelasnya.

BACA JUGA: 48 Kontingen Jamnas XII Dilepas, Diminta Jadi Duta Jepara Promosikan  Seni Ukir dan Potensi Daerah

Selain pengambilan gambar, proses editing juga menjadi bagian penting dalam produksi konten. Penggunaan transisi, cinematic font, color grading, slow motion, variasi footage, serta desain suara perlu diperhatikan agar video memiliki kualitas visual dan audio yang lebih baik. Desain suara, misalnya, dapat membantu membangun suasana dan memperkuat pesan dalam sebuah video.

Khoirul juga mengingatkan para santri bahwa menjadi konten kreator bukan hanya tentang kemampuan membuat video, tetapi juga memahami karakter setiap platform media sosial. Instagram, TikTok, YouTube, Facebook, LinkedIn, dan Threads memiliki karakter audiens serta pola konsumsi konten yang berbeda. Karena itu, kreator perlu menyesuaikan jenis konten dengan platform yang digunakan.

“Setiap platform memiliki karakter audiens yang berbeda. Karena itu, konten harus disesuaikan dengan platformnya. Jangan membuat satu konten kemudian mengunggahnya tanpa mempertimbangkan siapa audiens yang akan menerima pesan tersebut,” tutur Khoirul.

Ia juga memberikan pemahaman mengenai pentingnya menentukan waktu publikasi konten. Berdasarkan materi pelatihan, Instagram Reels dapat diuji pada pukul 18.00–22.00, TikTok pada pukul 19.00–22.00, sedangkan YouTube Shorts pada pukul 18.00–22.00. Namun, waktu tersebut tetap perlu disesuaikan dengan karakter audiens dan data insight masing-masing akun.

Menurut Khoirul, santri memiliki peluang besar untuk memanfaatkan media sosial sebagai ruang kreativitas, edukasi, dakwah, personal branding, sekaligus pengembangan usaha. Dengan kemampuan membuat konten yang baik dan memahami etika bermedia sosial, santri dapat menghadirkan konten positif yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Alat terbaik bukanlah kamera mahal, melainkan visi kreator yang terstruktur di baliknya,” tegas Khoirul.

Ia berharap pelatihan tersebut dapat membuka wawasan para santri bahwa keterampilan digital dapat menjadi bekal penting setelah mereka menyelesaikan pendidikan di pesantren. Para santri diharapkan mampu mengembangkan keterampilan yang diperoleh menjadi kegiatan produktif, baik dalam bidang konten kreator, digital marketing, maupun bidang keterampilan lainnya. (KA)

Related posts

Kunjungi Karimunjawa, Semesko Infra Kaji Penguatan Konektivitas dan Infrastruktur

Dr. Hj. Hindun Anisah, MA., Anggota DPR RI Fraksi PKB Mengucapkan Dirgahayu Republik Indonesia ke-81

Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI H. Abdul Wahid Komitmen Perjuangkan PIP Murid Madrasah dan Kesejahteraan Guru