Keseruan Mahasiswa Asing Belajar Ukir di Jepara

Mahasiswa asing belajar mengukir

JEPARA | GISTARA. COM – Sayed Rahman Hamid pertama kali memegang pahat untuk belajar mengukir kayu di Jepara. Mahasiswa asal Afganistan itu mengikuti pelatihan bersama 24 mahasiswa lain dari 13 negara, di Galeri Jepara Wood Carving, Kamis (20/8/2026).

Di dalam galeri, para mahasiswa mengikuti arahan 23 instruktur pengukir. Mereka mempelajari pola dan teknik dasar ukiran Jepara sebelum mulai memahat kayu.

“Sangat menarik, baru pertama kali ini,” kata Sayed, mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro Semarang.

Sayed mengatakan sebelumnya tidak pernah belajar mengukir di Afganistan. Ia hanya mengenal pekerjaan kayu melalui perbaikan rumah.

BACA JUGA: BAZNAS Kabupaten Jepara Mengucapkan Dirgahayu RI ke-81

Bagi mahasiswa asal Tanzania, Aisha Jumma Mussa, ukir Jepara juga menjadi pengalaman baru. Ia sebelumnya hanya mencari informasi tentang ukiran Jepara melalui internet.

Setelah mencoba langsung, Aisha menilai mengukir membutuhkan ketekunan. Menurut dia, keterampilan tersebut tidak dapat dikuasai dalam satu hari. “Tidak bisa dipelajari dalam satu hari karena membutuhkan teknik dan kelenturan tangan,” ungkapnya.

Mahasiswa asal Uganda, Huzairu Kanamwangi, membuat nama dan motif ukiran dengan pendampingan instruktur. Ia berencana membawa pengalaman tersebut ke negaranya.

“Saya akan membawa ini ke negara saya dan menunjukkan bahwa saya yang membuatnya. Dari Jepara, Indonesia,” ujarnya.

Salah satu instruktur, Rumini, mengatakan peserta dikenalkan dengan pola ukiran Jepara. Mereka kemudian mempelajari tahapan dasar seperti ngrancapi, nglemahi, ngekoli dan nyoreti. “Yang ingin kami tanamkan bukan hanya keterampilan mengukir. Kami juga mengenalkan budaya Jepara yang terkenal sebagai kota ukir,” kata dia.

Pelatihan tersebut merupakan bagian dari Summer Course 2026 Buja Sejana 2, yang digelar Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (Unnes).

BACA JUGA: Dr. Hj. Hindun Anisah, MA., Anggota DPR RI Fraksi PKB Mengucapkan Dirgahayu Republik Indonesia ke-81

Koordinator kegiatan, Wati Istanti, mengatakan program tersebut mengajak mahasiswa mempelajari budaya maritim melalui pembelajaran selama tiga bulan dengan metode blended. “Supaya mahasiswa tidak sekadar tahu secara daring, kami mengajar secara luring untuk melihat dan mempraktikkan langsung,” ujarnya.

Menurut Wati, pihaknya membuka peluang kerja sama lanjutan dengan praktisi ukir Jepara. Kerja sama itu dapat melibatkan perguruan tinggi, dunia usaha, industri, UMKM, pemerintah, dan praktisi.

Ketua Umum Yayasan Pelestari Ukir Jepara Hadi Priyanto, mengatakan kegiatan tersebut mempertemukan mahasiswa asing dengan pengukir Jepara secara langsung.

Menurut dia, interaksi tersebut dapat memperkenalkan budaya ukir Jepara kepada masyarakat internasional. “Harapan kami mereka dapat menjadi duta budaya masyarakat Jepara,” ujarnya.

Hadi mengatakan keberlanjutan seni ukir Jepara membutuhkan penguatan regenerasi. Menurut dia, minat generasi muda untuk mempelajari dan meneruskan keterampilan mengukir perlu terus ditumbuhkan.

Seni ukir Jepara, lanjut dia, telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak benda Indonesia pada 2015. Hadi berharap pengenalan ukir kepada mahasiswa asing ikut menjaga keberlanjutan seni tersebut. (KA)

Related posts

Tiga Kampus NU Perkuat KKN Kolaborasi di Karimunjawa, Dorong Pemberdayaan Berbasis Potensi Lokal

Momentum HUT ke-81 RI, IMPI Bahas Ketahanan Ketuhanan untuk Menjaga NKRI di Era Krisis Multidimensi

Jepara Art Carnival 2026 Meriah, Ini Daftar Pemenangnya