JEPARA | GISTARA. COM – Semangat rahmatan lil ‘alamin tidak hanya menjadi pesan dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Di Masjid Al Makmur, Sinanggul, Mlonggo, Jepara, semangat itu diwujudkan melalui kegiatan sosial yang terbuka bagi masyarakat lintas agama dan golongan.
Sebanyak 144 anak mengikuti Khitan Massal dalam rangka Maulid Akbar Masjid Al Makmur, Kamis (3/6/2026). Kegiatan dimulai pukul 10.00 WIB dan berlangsung hingga selesai.
Dari 144 peserta tersebut, terdapat satu anak non-Muslim yang turut mengikuti khitan massal. Fenomena serupa juga terjadi pada pelaksanaan tahun sebelumnya, ketika panitia menerima satu peserta non-Muslim.
Gus Mamad, selaku panitia mengatakan, keterbukaan bagi masyarakat lintas agama dan golongan memang menjadi bagian dari semangat kegiatan sejak awal.
BACA JUGA: Duet KH Miftachul Akhyar–Gus Kikin, Nahkoda Baru PBNU 2026–2031
“Dari awal kita membuka untuk khitan massal lintas agama dan golongan. Ini bukan hanya untuk mensukseskan syariat, tetapi juga ikhtiar untuk mensukseskan kesehatan,” kata Gus Mamad.
Menurutnya, keputusan panitia menerima peserta non-Muslim merupakan bagian dari upaya menerjemahkan nilai yang terkandung dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
“Ini acara Maulid Akbar, memperingati Kanjeng Nabi Muhammad. Kita memahami bahwa Nabi Muhammad adalah rahmatallil’alamin. Sehingga sangat memungkinkan dan sangat terbuka rahmat dari Allah mencakup berbagai latar belakang,” jelasnya.
Gus Mamad menegaskan, bahwa seluruh peserta mendapatkan pelayanan dan fasilitas yang sama, tanpa membedakan latar belakang agama.
“Pelayanan dan fasilitas yang diberikan kepada peserta Muslim maupun non-Muslim adalah sama. Tidak ada pembedaan apa pun,” tegasnya.
Kehadiran peserta non-Muslim juga disambut positif oleh seluruh panitia. “Respon kami sangat senang dan bangga. Visi Maulid adalah rahmatallil’alamin, memberikan kemanfaatan kepada siapa pun dari berbagai latar belakang dan berbagai daerah,” ujarnya.
Bagi panitia, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda seremonial memperingati Maulid Nabi. Khitan massal juga menjadi sarana membantu masyarakat, khususnya umat Islam, dalam menjalankan kewajiban khitan.
“Tujuan utama khitan massal adalah mengajarkan dan memfasilitasi orang-orang melakukan kewajiban mereka sebagai Muslim untuk melaksanakan khitan. Kami juga ikhtiar mengawal dari kecil agar anak-anak mengikuti ajaran Islam,” terang Gus Mamad.
Namun, nilai sosial menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut. Panitia berharap kegiatan Maulid dapat menjadi pembelajaran bahwa aktivitas keagamaan juga dapat menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Untuk memberikan pelayanan kepada para peserta, panitia menggandeng tenaga kesehatan dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) sebagai petugas khitan.
Kehadiran tenaga kesehatan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan proses khitan massal dilaksanakan dengan pelayanan yang memadai.
Dengan diikuti 144 anak, termasuk satu peserta non-Muslim, Khitan Massal Maulid Akbar Masjid Al Makmur Sinanggul menjadi gambaran bagaimana sebuah kegiatan keagamaan dapat sekaligus menjadi ruang berbagi dan memberikan manfaat sosial.
Di tengah keberagaman masyarakat, panitia memilih menghadirkan pesan sederhana: peringatan Maulid Nabi bukan hanya tentang mengenang kelahiran Rasulullah, tetapi juga berusaha menghadirkan kemanfaatan bagi sesama. (KA).