JEPARA | GISTARA. COM Pagi hari terasa sejuk, menyelimuti jamaah dan hadirin yang mengikuti pengajian Ahad pagi di serambi Masjid Jami’ Raudlatul Falah, Sekuro. Dalam suasana yang tenang, Kiai Zaenal Arifin menyampaikan kajian tentang keutamaan salat sebagai ibadah yang memiliki kedudukan istimewa dalam kehidupan seorang Muslim, Ahad (27/9/2026).
Kiai Zaenal menjelaskan bahwa salat merupakan ibadah wajib yang diterima Nabi Muhammad SAW secara langsung ketika peristiwa Isra Mikraj. Karena itu, menurutnya, salat memiliki kedudukan yang berbeda dibandingkan dengan ibadah lainnya.
“Salat itu sangat istimewa dibandingkan dengan ibadah yang lain,” ujarnya.
Ia menerangkan bahwa kewajiban salat tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan gerakan dan bacaan, tetapi juga menjadi bentuk ketaatan seorang hamba kepada Allah SWT. Melalui salat, seorang Muslim dilatih untuk meninggalkan hawa nafsu dan mengarahkan dirinya untuk senantiasa mengingat serta mendekatkan diri kepada Allah.
Secara bahasa, Kiai Zaenal menjelaskan, salat berarti doa. Sementara secara istilah, salat merupakan rangkaian perbuatan dan bacaan yang diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa salat merupakan ibadah yang memiliki tata cara tertentu dan harus dilaksanakan sesuai ketentuan.
Menurut Kiai Zaenal, melaksanakan salat dengan baik juga membawa berbagai keberkahan dalam kehidupan. Keberkahan tersebut tidak hanya dipahami dalam bentuk bertambahnya sesuatu secara materi, tetapi juga mencakup kebaikan dan manfaat yang menyertai kehidupan seseorang.
Ia menyebut sejumlah keutamaan salat, antara lain menjadi sebab diterimanya amal, mendatangkan keberkahan rezeki, memberikan ketenangan dan istirahat bagi jasmani, serta menjadi penghalang seseorang dari siksa neraka.
Kiai Zaenal Arifin menyampaikan kajian
“Keberkahan itu artinya sesuatu yang bertambah,” jelasnya.
Selain itu, Kiai Zaenal menyampaikan bahwa salat dapat menjadi amal yang menambah bobot timbangan kebaikan di akhirat. Salat juga diharapkan menjadi sarana yang memudahkan perjalanan seorang Muslim ketika melewati Sirat al-Mustaqim serta menjadi salah satu jalan menuju kehidupan di surga.
Dalam penjelasannya, ia menggambarkan salat sebagai ibadah yang memiliki dimensi pengendalian diri. Seseorang yang sedang melaksanakan salat tidak makan dan tidak minum, sehingga salat dapat diibaratkan memiliki sisi kesamaan dengan puasa dalam hal menahan diri dari kebutuhan jasmani selama pelaksanaannya.
Kiai Zaenal juga mengibaratkan salat sebagai bentuk ibadah yang memiliki kedekatan makna dengan haji, terutama dalam konteks ketundukan dan penghambaan kepada Allah SWT. Menurutnya, berbagai ibadah pada dasarnya bermuara pada satu tujuan, yakni mendekatkan diri atau bertakarrub kepada Allah SWT.
Salat, lanjutnya, bukan sekadar rutinitas yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu. Ibadah tersebut menjadi ruang bagi seorang hamba untuk memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT sekaligus melatih kedisiplinan dan ketundukan dalam menjalani kehidupan.
Karena itu, Kiai Zaenal mengajak jamaah untuk tidak memandang salat hanya sebagai kewajiban yang harus ditunaikan, tetapi juga sebagai kebutuhan rohani. Dengan menjaga salat, seorang Muslim diharapkan mampu membangun kehidupan yang lebih dekat dengan Allah, mampu mengendalikan hawa nafsu, serta memperoleh keberkahan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.(KA)