JEPARA | GISTARA. COM — Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Tahunan kembali mempercayakan kepemimpinannya kepada KH. Ali Masykur sebagai Rais Syuriyah dan KH. Misbahuddin sebagai Ketua Tanfidziyah untuk masa khidmat 2026–2031. Keputusan tersebut ditetapkan dalam Konferensi VII MWC NU Tahunan yang berlangsung hari ini, 11 Oktober 2026 di gedung MWC NU Tahunan.
Perhelatan lima tahunan tersebut dihadiri oleh Rais Syuriyah PCNU Jepara KH. Hayatun Nufus Abdullah Hadziq (Mbah Yatun) beserta jajarannya, Camat Tahunan Abdul Halim beserta jajaran Forkopimcam, Wakil Rektor UNISNU Dr. Abdul Wahab Salim, Petinggi Tahunan, jajaran Pengurus MWC , Pimpinan Banom dan l Lembaga MWC NU, serta delegasi dari Pengurus Ranting NU se- se-Kecamatan Tahunan.
BACA JUGA: Desa Tempur Jadi Cermin Kerukunan Umat Beragama di Jepara
Dalam khutbah iftitahnya, KH. Ali Masykur mengajak seluruh peserta konferensi untuk menjadikan forum ini sebagai sarana introspeksi diri dalam melestarikan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) An-Nahdliyah. Ia menekankan pentingnya menata niat dalam berorganisasi sebagai wujud ta’dzim kepada para muassis dan masyayikh NU.
“Disiplin, konsistensi, kebersamaan, dan ukhuwah adalah kunci utama dalam menjalankan program kerja organisasi. Kami juga mendorong agar tradisi keilmuan turats terus dihidupkan di tingkat ranting melalui Lailatul Ijtimak, dengan melibatkan alumni pondok pesantren serta mensosialisasikan hasil-hasil bahtsul masail kepada masyarakat,” ujar Kiai Ali.
Sementara itu, Rais Syuriyah PCNU Jepara, KH. Hayatun Nufus Abdullah Hadziq, mengingatkan agar pemilihan kepemimpinan NU selalu mengedepankan kapasitas dan terbebas dari kepentingan politik praktis. Mbah Yatun menekankan pentingnya sinergi antara Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah agar warga NU semakin mandiri dan tidak hanya menjadi sasaran kepentingan pihak luar.
BACA JUGA: Ulil Albab Apresiasi Jepara Bersholawat, Dorong Nilai Sholawat Jadi Energi Sosial
Dukungan juga disampaikan oleh Camat Tahunan, Abdul Halim. Ia mengapresiasi harmonisasi hubungan antara ulama dan umara yang selama ini menjaga kondusivitas wilayah. Abdul Halim berharap kepengurusan baru dapat menghadirkan program-program adaptif, khususnya di sektor ekonomi, pendidikan, dan kesehatan umat.
Dinamika musyawarah mewarnai sesi Laporan Pertanggungjawaban (LPJ). Peserta konferensi memberikan apresiasi atas capaian kinerja pengurus periode sebelumnya, sekaligus memberikan masukan konstruktif terkait tata kelola dan transparansi pelaporan keuangan.
BACA JUGA: Hindun Anisah Dorong Ekraf Karimunjawa Naik Kelas, Gekrafs Diminta Perkuat Pendampingan
Dalam proses pemilihan Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah, Konferensi MWC NU Tahunan mengadopsi mekanisme yang digunakan di tingkat PBNU, yaitu Rais Syuriyah disepakati dan ditetapkan oleh lima anggota Ahlul Halli Wal ‘Aqdi (AHWA) yang dipilih oleh Rois Syuriyah Ranting, sedangkan Ketua Tanfidziyah dipilih oleh AHWA setelah terjaring tiga calon Ketua Tanfidziyah yang dipilih oleh Ketua Tanfidziyah Ranting.
Setelah melalui proses penjaringan, tim AHWA menetapkan kembali KH. Ali Masykur sebagai Rais Syuriyah dan KH. Misbahuddin sebagai Ketua Tanfidziyah MWC NU Tahunan masa Khidmat 2026-2031. ( KA/Sub)