HSN 2026: Merawat Nilai Suci Pesantren dan Muhasabah di Era AI

Kiai Muhammad Roshif, Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Kabupaten Jepara

JEPARA  | GISTARA. COM — Peringatan Hari Santri Nasional (HSN)  setiap tanggal 22 Oktober kembali disambut hangat dan penuh sukacita oleh kalangan santri di berbagai daerah. Beragam kegiatan digelar sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus apresiasi kepada pemerintah atas penetapan HSN. Di antaranya khataman Al-Qur’an, istighasah, aneka perlombaan, hingga apel bersama mewarnai kemeriahan perayaan tahun ini.

Di Kabupaten Jepara, semangat kebersamaan tersebut bahkan diwujudkan melalui kegiatan karnaval lintas agama dan kepercayaan yang diinisiasi oleh KanKemenag Jepara, Pemerintah Daerah Kabupaten Jepara, dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama.

Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Kabupaten Jepara, Kiai Muhammad Roshif Arwani menyampaikan bahwa Hari Santri bukan sekadar momen nostalgia untuk mengenang sejarah penting Resolusi Jihad.

BACA JUGA: RSINU Cakra Medika Mayong Bersiap Layani Peserta BPJS, Target 1 November 2026

Deklarasi bersejarah yang dikumandangkan oleh Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari dari Pesantren Tebuireng, Jombang, tersebut merupakan pemantik pertempuran heroik 10 November di Surabaya.

Lebih dari itu, Hari Santri hendaknya menjadi momentum untuk menggali dan menghidupkan kembali ruh suci perjuangan pesantren dalam menjaga keutuhan serta kemakmuran Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Pesantren secara historis mampu mewariskan nilai-nilai akhlak mulia, jiwa yang ikhlas, kemandirian, serta menjadi teladan di tengah masyarakat yang saat ini dihadapkan pada ketidakpastian arah dan nilai,” ujar Kiai Roshif Arwani.

BACA JUGA: Jelang Pilpet, Pemkab Jepara Petakan Kerawanan

Muhasabah di Era AI

Peringatan Hari Santri Nasional tahun 2026 ini juga menjadi ruang refleksi mendalam (muhasabah) bagi lembaga pondok pesantren. Pesantren dituntut untuk menemukan solusi atas berbagai tantangan zaman yang kian kompleks, mulai dari pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), perubahan gaya hidup, hingga pergeseran budaya yang berpotensi menggerus moral generasi muda.

Menurut Kiai Roshif, untuk menjawab tantangan tersebut, pesantren harus menghidupkan kembali ruh perjuangannya melalui penjagaan terhadap ilmu nafi’ (ilmu yang bermanfaat) yang telah ditanamkan oleh para kyai dan guru. Ilmu tersebut disirami dengan nur Ilahiyah lewat keteladanan, tutur kata yang santun, serta perilaku luhur para masyayikh dan guru pesantren yang disaksikan langsung oleh para santri setiap hari.

“Penjagaan terhadap ilmu yang bermanfaat ini akan melahirkan hati yang khusyuk, tawaduk, serta memiliki rasa takut (khauf) kepada Allah SWT. Dari hati yang penuh rasa takut kepada-Nya, akan lahir jiwa yang qana’ah jiwa yang tidak serakah dan senantiasa bersyukur atas pemberian Allah. Jiwa yang suci inilah yang menjadi jalan dikabulkannya harapan dan doa-doa kita,” jelasnya.

BACA JUGA: Perkuat Konektivitas antar  Kawasan, Ruas Jalan  Keling-Bumiharjo Dimuluskan

Ketua FKPP Kabupaten Jepara ini mengajak seluruh elemen santri dan pengasuh pesantren untuk memanfaatkan Peringatan Hari Santri Nasional 2026 sebagai ajang introspeksi diri.

“Mari kita perbarui niat dan teguhkan kembali komitmen dalam menuntut ilmu (mengaji) maupun mengajarkan ilmu (ngabdi), agar nilai-nilai hakiki kesantrian kita tidak luntur ditelan zaman,” pungkasnya. ( KA/Sub/ MRA)

Related posts

RSINU Cakra Medika Mayong Bersiap Layani Peserta BPJS, Target 1 November 2026

Miris, Anak di Bawah Umur Diduga  Dimanfaatkan Membantu Transaksi Narkoba

Jelang Pilpet, Pemkab Jepara Petakan Kerawanan