Oleh : Hisyam Zamroni
Peringatan Hari Santri Nasional 2026 yang mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” menghadirkan momentum reflektif yang mendalam. Di tengah gelombang disrupsi global yang digerakkan oleh revolusi teknologi gelombang keempat, tantangan umat Islam tidak lagi terbatas pada aspek penjagaan ortodoksi teologis semata.
Lebih dari itu, dunia pesantren dihadapkan pada tuntutan epistemologis untuk merespons kompleksitas zaman yang bergerak cepat, di mana sains, teknologi terbarukan, dan instrumen ilmu-ilmu sosial modern menjadi penentu utama peradaban.
Secara sosiologis, akselerasi digital dan otomatisasi kecerdasan buatan (artificial intelligence) kerap memicu fenomena yang oleh William F. Ogburn disebut sebagai cultural lag yakni ketertinggalan budaya ketika struktur material berubah jauh lebih cepat daripada kapasitas adaptasi etis masyarakat.
BACA JUGA: Miris, Anak di Bawah Umur Diduga Dimanfaatkan Membantu Transaksi Narkoba
Jika institusi pesantren masih terjebak dalam dikotomi usang yang memisahkan antara ilmu agama (ulum al-din) dan ilmu pengetahuan umum (ulum al-kauniyah), maka daya saing santri di panggung global akan tergerus. Oleh karena itu, pendekatan multidisipliner yang memadukan khazanah klasik kitab kuning dengan sains mutakhir serta analisis sosiologis menjadi sebuah keniscayaan ilmiah.
Integrasi epistemologi Islam dengan sains terbarukan seperti bioteknologi, nanoteknologi, sains data, dan transisi energi bersih akan melahirkan formasi intelektual santri yang memiliki kedalaman spiritual (dwauq) sekaligus ketajaman analitis-empiris.
Dalam kerangka sosiologi pengetahuan, tradisi intelektual pesantren memiliki modal sosial yang kuat berupa etos kemandirian dan jaringan komunitas yang luas. Ketika modal ini disandingkan dengan penguasaan metodologi riset ilmiah modern, santri akan mampu menerjemahkan nilai-nilai universal agama ke dalam solusi-solusi praktis bagi krisis kemanusiaan global, mulai dari ketimpangan ekonomi hingga perubahan iklim.
Lebih lanjut, pendekatan ilmu-ilmu sosial kontemporer membekali santri dengan kemampuan critical thinking untuk membaca struktur ketimpangan global, mitigasi konflik sosial, serta perumusan kebijakan publik yang berkeadilan.
BACA JUGA: BPS Jepara Ingatkan, Jangan Keliru Membaca Angka Ekonomi
Sosiolog mazhab kritis seperti Jürgen Habermas menekankan pentingnya rasionalitas komunikatif dalam ruang publik modern. Dalam konteks ini, santri diproyeksikan bukan sekadar sebagai objek pembangunan, melainkan subjek aktif yang mampu melakukan artikulasi moral di tengah pluralitas peradaban digital.
Transformasi ini membuktikan tesis bahwa tradisi intelektual pesantren tidak pernah bersifat ankuaristik atau statis, melainkan selalu memegang prinsip al-muhafadzah ‘ala al-qadim al-salih wal akhdu bil jadid al-aslah (memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik). Fleksibilitas metodologis inilah yang membuat pesantren tetap relevan (salihun likulli zaman wa makan)
Menatap visi besar Indonesia Emas 2045, di mana bonus demografi Indonesia mencapai puncaknya, taruhannya adalah kualitas sumber daya manusia.
Dengan memadukan ketajaman spiritual kitab kuning, penguasaan sains dan teknologi mutakhir, serta ketajaman analisis ilmu-ilmu sosial, santri dipastikan tidak akan menjadi penonton di negeri sendiri. Mereka akan hadir sebagai arsitek peradaban yang memandu kemajuan teknologi dengan etika profetik, membawa bangsa Indonesia berdiri anggun di puncak peradaban global yang berdaulat, maju, dan berkeadilan.
Hisyam Zamroni, Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Jepara