Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
GISTARA TV
Friday, October 16, 2026
Top News
Mengenal Rubrik Penerbitan Surat Kabar, dan Majalah
Cuaca Terik, Penjual Es Teh di Jepara Berhamburan
Mengenal Nyai Hindun Anisah, Caleg DPR RI Dapil Demak, Kudus, dan...
Kolam Renang Cinta Candi Liyangan Temanggung Jawa Tengah Terbaru 2022
Fenomena Bodoh Deklarasi Kasyaf Lewat Foto
Ribuan Orang Hadiri Haul Mbah Sahil ke 18, Ini Biografinya
Sejarah Pantai Nampu Wonogiri Jawa Tengah Terbaru 2022
Peringati Hari Ibu, MIDEHA Festival Gelar Lomba Kolaborasi dengan Ibu
Tak Perlu ke Eropa, Main Salju Bisa di Dusun Semilir Bawen
Rancangan Dapil Pemilu 2024 di Jepara Tidak Berubah
Gistara
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Copyright 2021 - All Right Reserved
Opini

Turun Gunung Bupati Jepara: Kantor di Desa, Kebijakan Menyapa Warga

by Redaksi 11/04/2025
Redaksi 11/04/2025 524 views
524

Oleh: Dr. Muh Khamdan

Dalam dinamika pemerintahan lokal, jarak antara pembuat kebijakan dan warga desa seringkali menjadi kendala utama dalam menyusun perencanaan pembangunan yang tepat sasaran. Maka ketika Bupati Jepara menginisiasi program berkantor secara berkala di desa-desa dari 16 kecamatan, langkah ini patut diapresiasi sebagai lompatan besar dalam membangun komunikasi publik yang partisipatif sekaligus memperkuat legitimasi kebijakan dari bawah.

Model “turun gunung” ini bukan sekadar simbolis atau basa-basi blusukan politik. Ia merepresentasikan strategi komunikasi langsung yang menyentuh akar rumput. Menyapa masyarakat bukan lewat podium, tetapi lewat dialog terbuka di rumah mereka sendiri, di desa. Ini adalah bentuk pendekatan komunikasi horizontal, bukan vertikal, yang semakin relevan di era keterbukaan informasi seperti sekarang.

Dalam perspektif komunikasi publik, kehadiran langsung seorang kepala daerah di desa menciptakan ruang dialog tanpa sekat. Masyarakat tidak perlu lagi melewati rantai birokrasi berlapis untuk menyuarakan keluhan atau usulan. Ini memperpendek jalur komunikasi dan memotong potensi distorsi informasi yang sering terjadi saat pesan warga dinaikkan secara bertingkat.

BACA JUGA: PLN UIK Tanjung Jati B dan Pokdakan Sido Maju II Kembangkan Rumah Bibit Mangrove: Solusi Hijau untuk Konservasi dan Ekonomi Masyarakat

Langkah pertama yang direncanakan dimulai dari Desa Sumberejo di Kecamatan Donorojo, kawasan pegunungan dengan basis pertanian dan kehutanan. Di desa seperti ini, tantangan klasik seperti akses infrastruktur, air bersih, pasar tani, hingga layanan kesehatan masih menjadi pekerjaan rumah. Dengan berkantor langsung di sana, Bupati tak hanya melihat data di atas kertas, tetapi merasakan denyut realitas di lapangan.

Dari Donorojo, rute ini akan berlanjut ke desa-desa seperti Banyuputih (Kalinyamatan), Kunir (Keling), Bungu (Mayong), Kaliaman (Kembang), Ngetuk (Nalumsari), hingga Karimunjawa yang secara geografis terpisah dari daratan utama.

Setiap lokasi memiliki karakter dan permasalahan khas. Mulai dari pertanian dataran rendah, industri kecil, konflik agraria, hingga isu pariwisata dan kelestarian lingkungan di pulau-pulau.

Model seperti ini memberikan keuntungan besar dalam penyusunan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy). Ketika kepala daerah menjadi pendengar aktif dan bukan sekadar pengarah, maka proses formulasi kebijakan menjadi lebih responsif dan grounded. Data lapangan yang diperoleh secara langsung akan memperkaya dimensi analisis dan menghindarkan kebijakan dari asumsi kosong atau bias elit.

Dr. Muh Khamdan

Secara politis, pola berkantor di desa ini juga memperkuat akuntabilitas publik. Ketika pemimpin hadir secara rutin dan membuka ruang tanya-jawab langsung, masyarakat memiliki kesempatan untuk menagih janji, mengevaluasi program, sekaligus berpartisipasi dalam penyusunan prioritas pembangunan. Demokrasi lokal tidak lagi berhenti di TPS, tapi berlanjut ke balai desa.

Dari sisi pembangunan, kebijakan ini berpotensi menciptakan akselerasi pembangunan desa secara lebih merata. Desa yang dikunjungi bupati tentu akan menjadi pusat perhatian sementara. Tapi yang lebih penting adalah efek reputasi dan kompetisi sehat antardesa: mereka akan berlomba menyiapkan data, mengidentifikasi masalah, bahkan menyusun proposal konkret sebelum kunjungan kepala daerah.

Namun, tentu saja program ini perlu dipastikan tidak sekadar seremonial. Harus ada sistem dokumentasi, tindak lanjut, dan monitoring atas setiap masukan warga. Kegiatan mendengar harus berbuah pada kebijakan nyata, bukan berhenti sebagai liputan media semata. Untuk itu, setiap kunjungan harus dibarengi dengan tim teknis yang mampu mencatat, menganalisis, dan merumuskan rekomendasi kebijakan.

BACA JUGA: Jepara Gaspol Jadi Destinasi Investasi, Mas Wiwit Siapkan Pelabuhan di Balong

Pendekatan semacam ini sekaligus memperkuat fungsi perencanaan partisipatif dalam pembangunan desa. Dengan bupati turun langsung, maka prinsip bottom-up planning mendapat penguatan. Perencanaan tidak lagi dimulai dari kantor kabupaten, melainkan dari obrolan warung kopi, pos ronda, dan forum warga desa.

Kehadiran kepala daerah juga mampu menjadi katalisator solidaritas sosial dan gotong royong. Masyarakat merasa dihargai dan dilibatkan, bukan hanya sebagai objek pembangunan tetapi sebagai subjek aktif. Dalam jangka panjang, ini akan memperkuat kepercayaan publik pada institusi pemerintahan lokal, yang seringkali luntur akibat birokrasi yang dianggap lamban dan jauh.

Program ini juga bisa dimaknai sebagai bentuk kepemimpinan yang inklusif. Dalam era ketika banyak pemimpin terjebak dalam zona nyaman kantor ber-AC dan laporan di atas meja, Bupati Jepara justru memilih mendatangi langsung warga yang mungkin selama ini hanya bisa menyampaikan keluhan lewat Lurah atau Camat.

Secara lebih luas, langkah ini seharusnya bisa menjadi model nasional. Banyak kepala daerah lain yang bisa meniru pola ini dengan menyesuaikan konteks wilayah masing-masing. Bahwa komunikasi publik yang efektif harus dibangun di tengah masyarakat, bukan hanya lewat siaran pers atau baliho-baliho besar yang tidak menyapa.

Pada akhirnya, rakyat membutuhkan kehadiran, bukan hanya pencitraan. Mereka butuh pemimpin yang hadir, mendengar, dan bertindak. Dan jika Jepara bisa memulainya dari desa ke desa, maka bisa jadi ini adalah narasi baru tentang pemerintahan yang membumi dan berpihak.

Karena sejatinya, desa bukan pinggiran. Ia adalah pusat dari wajah Indonesia yang sesungguhnya.

Dr. Muh Khamdan, Doktor Studi Agama dan Perdamaian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; LTN NU MWCNU Nalumsari

InklusifMas wiwitNgantor di Desa
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Redaksi

previous post
Pengamanan HUT Ke-71 Persijap Jepara, Polres Terjunkan Ratusan Personel
next post
Halalbihalal LP Ma’arif NU Jepara: Bangun Soliditas dan Sinergitas Kawal Visi Pendidikan

You may also like

Kekerasan Pasca 30 September 1965 di Pedesaan

01/10/2026

Karnaval “Satanic” Pekalongan, Sisa Spiritual yang Rapuh

29/09/2026

Merawat Marwah NU Jepara dari Keteladanan KH Ahmad Fauzan

25/09/2026

Peran MUI dalam Penguatan Mutu Pendidikan Islam dan Kompetensi Digital

18/09/2026

Undang-Undang Pesantren Dan Orientasi Pendidikan Indonesia

05/09/2026

Ketua PBNU dan Imperatif “Tajalli” Melampaui Intelektualisme Menuju Kejernihan Hati

03/09/2026

Terkini

  • Dr Haryanto Ungkap Rahasia Manajemen Pembelajaran dalam Surat Al-Alaq

    14/10/2026
  • BPS Jepara Ingatkan, Jangan Keliru Membaca Angka Ekonomi

    14/10/2026
  • Kejar Swastisaba Wistara 2027, FKJS Jepara Perkuat Kelembagaan hingga Desa

    14/10/2026
  • Lantik PRNU Tanjung 2, Rais Syuriyah PCNU Jepara Ingatkan Dua Kriteria Pemimpin

    14/10/2026
  • LPTQ Jepara Siapkan MTQ,  Pembinaan Kader dan Syiar AI-Qur’an Jadi Prioritas

    13/10/2026
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Sign In

Keep me signed in until I sign out

Forgot your password?

Do not have an account ? Register here

Password Recovery

A new password will be emailed to you.

Have received a new password? Login here

Register New Account

Have an account? Login here