Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
GISTARA TV
Thursday, October 15, 2026
Top News
Mengenal Rubrik Penerbitan Surat Kabar, dan Majalah
Cuaca Terik, Penjual Es Teh di Jepara Berhamburan
Mengenal Nyai Hindun Anisah, Caleg DPR RI Dapil Demak, Kudus, dan...
Kolam Renang Cinta Candi Liyangan Temanggung Jawa Tengah Terbaru 2022
Fenomena Bodoh Deklarasi Kasyaf Lewat Foto
Ribuan Orang Hadiri Haul Mbah Sahil ke 18, Ini Biografinya
Sejarah Pantai Nampu Wonogiri Jawa Tengah Terbaru 2022
Peringati Hari Ibu, MIDEHA Festival Gelar Lomba Kolaborasi dengan Ibu
Tak Perlu ke Eropa, Main Salju Bisa di Dusun Semilir Bawen
Rancangan Dapil Pemilu 2024 di Jepara Tidak Berubah
Gistara
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Copyright 2021 - All Right Reserved
Opini

Dr. Sa’dullah Assa’idi: Homo Academicus Nahdliyin yang Bersahaja

by Redaksi 02/06/2025
Redaksi 02/06/2025 395 views
395

Oleh: Ahmad Saefudin

Dalam tradisi keilmuan Islam, wafatnya seorang ulama ibarat padamnya satu bintang di langit peradaban. Pada 1 Juni 2025, mendung menggelayut di langit Jepara. Seolah ikut bersedih dengan kepergian Dr. Sa’dullah Assa’idi, Rektor Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara periode 2016-2024, ke rahmatullah. Dunia akademik, khususnya Bumi Kartini, kehilangan salah satu sosok teladan. Cendekiawan Qur’ani yang membumikan keilmuan dengan kerendahan hati.

Lahir di Jember pada 17 Januari 1956, jejak intelektualnya dimulai dari dunia pesantren. Beliau menempuh pendidikan dan penempaan spiritual di dua pesantren legendaris: Pondok Pesantren Darul Ulum dan Bahrul Ulum Jombang. Di situlah benih keilmuan dan akhlak tumbuh dalam dirinya.

Dunia pesantren bukan hanya menjadi tempat belajar agama, tapi juga membentuk habitus, dalam istilah Pierre Bourdieu, yang kelak akan menjiwai seluruh kiprah akademiknya.

Bagi banyak orang, utamanya di kalangan nahdliyyin, almarhum adalah akademisi dengan peran ganda: seorang teknokrat pendiri, sekaligus pemikir yang meletakkan dasar visi keilmuan berbasis moderasi dan spirit Aswaja. Ia adalah figur nyata dari “Homo Academicus”—seperti yang digambarkan Bourdieu—yakni makhluk sosial dalam dunia akademik yang tidak hanya berpikir demi pengetahuan semata, tetapi juga berjuang dalam medan simbolik, dengan kesadaran struktur sosial dan tanggung jawab moralnya.

BACA JUGA: PLN UIK Tanjung Jati B Beri Apresiasi untuk Guru Ngaji Menjelang Hari Kartini

Dalam dunia kampus, yang sering kali menjadi arena kontestasi prestise, gelar, dan modal simbolik, Dr. Sa’dullah hadir sebagai pengecualian yang menyejukkan. Ia tidak mencari sorotan, tetapi sinarnya menyebar dari konsistensi. Ia tidak mengejar status, tetapi posisinya tumbuh dari integritas.

Dengan habitus yang terbentuk dari tradisi pesantren dan perguruan tinggi, beliau menapaki jalan akademik bukan sebagai alat mobilitas sosial belaka, melainkan sebagai ruang pengabdian dan transformasi.

Karya ilmiahnya yang menonjol, “Pemahaman Tematik Al-Qur’an Menurut Fazlur Rahman”, jadi bukti otentik lanskap pemikirannya dalam melihat kitab suci Alquran. Di samping membaca Al-Qur’an sebagai teks, ia juga menempatkan Alquran sebagai makna yang hidup, yang berbicara pada problem kontemporer. Ia menjadikan Fazlur Rahman sebagai jembatan untuk berpikir kritis tanpa meninggalkan akar keislaman.

Jejak panjang pengabdiannya terekam dalam sejarah kelembagaan INISNU, dan kemudian UNISNU. Beliau pernah menjabat sebagai Kepala Biro UKKA INISNU (1990–1992), Pembantu Rektor II INISNU (2007–2011), serta Wakil Rektor I UNISNU (2013–2016), sebelum akhirnya mengemban amanat sebagai Rektor. Setiap peran dijalankan bukan sebagai beban administratif semata, tetapi sebagai ladang amal intelektual.

BACA JUGA: Polres Jepara Imbau Masyarakat Tidak Takut Laporkan Aksi Premanisme

Salah satu kualitas paling langka dari Dr. Sa’dullah adalah kemampuannya menjaga kesejukan di tengah arus panas konflik. Saat hubungan antara PCNU Jepara dan YAPTINU sempat membeku dalam ketegangan, beliau tidak memilih sisi untuk memperkeruh suasana. Ia hadir sebagai penyeimbang, sebagai juru damai dalam diam. Ia tidak lantang di forum terbuka, tapi gerakannya terasa; membangun komunikasi, menahan diri dari komentar yang memicu ketegangan, dan mengarahkan wacana kembali pada nilai dasar “kemaslahatan umat” dan keberlangsungan institusi.

Sikap adem dan dewasa inilah yang menjadikannya tidak sekadar pemimpin administratif, tetapi “ruhul jami’ah” atau roh dari universitas itu sendiri. Ia menolak menjadikan konflik sebagai ajang menang-kalah, tetapi menjadikannya sebagai momen refleksi kolektif. Dalam dirinya, Pierre Bourdieu seolah menemukan bentuk praksisnya, yaitu sebagai intelektual yang sadar penuh bahwa universitas bukan sekadar institusi, tetapi medan konstruksi moral bersama.

Momen lain yang mencerminkan kelapangan dan keberanian intelektual beliau adalah ketika dengan ringan hati menerima permintaan saya untuk menulis pengantar buku “Pendidikan Multikultural di Pesantren Syiah”. Sebuah topik yang boleh jadi bagi banyak akademisi masih menjadi wilayah yang penuh kehati-hatian. Tapi bagi beliau, ilmu dan keberagaman adalah ruang dialog, bukan batas.

Ia menulis bukan untuk membela, tetapi untuk membuka ruang pemahaman. Baginya, pesantren, baik Sunni maupun Syiah, adalah lumbung nilai kebangsaan dan kemanusiaan, yang seharusnya didekati dengan semangat keilmuan dan keadilan epistemik.

BACA JUGA: Bupati Jepara dan Duta Besar Spanyol Kunjungi Sentra Ukir Senenan, Belajar Mengukir Langsung

Tindakannya ini bukan sekadar gestur akademik, melainkan ekspresi dari komitmen keberagamaan yang inklusif. Ia menembus sekat-sekat sempit sektarianisme dan menunjukkan bahwa menjadi “Homo Academicus” juga berarti mesti setia pada keberanian menjunjung tinggi nilai-nilai moral universal: persaudaraan, keterbukaan, dan penghargaan atas kemanusiaan.

Satu kutipan yang tak terlupakan dari beliau, “urusan kampus di kampus, jangan bawa ke rumah.” Kalimat sederhana itu mengandung kedewasaan luar biasa dalam menyikapi konflik dan dinamika organisasi. Ia paham betul bahwa dunia akademik tak lepas dari perbedaan dan tekanan, tapi beliau mengajarkan bahwa profesionalisme, ketenangan, dan pengelolaan konflik secara elegan adalah bentuk nyata dari kecerdasan emosional seorang pemimpin.

Saya sendiri, bersama teman-teman BEM INISNU Jepara, pernah merasakan langsung kebesaran jiwa beliau saat menjabat sebagai Pembantu Rektor II bidang keuangan. Kala itu kami mengajukan tuntutan serius: perbaikan fasilitas kampus dan kenaikan gaji dosen. Kami sadar, apa yang kami lakukan saat itu bisa saja dianggap menyinggung atau menyulut amarah pihak pimpinan. Tapi yang terjadi justru sebaliknya: beliau memfasilitasi ruang mediasi yang tenang dan terbuka.

Sebagai pendiri dan perintis awal INISNU, yang kini berkembang menjadi UNISNU Jepara, beliau menanamkan nilai-nilai keilmuan yang tidak hanya kompeten, tetapi juga beradab. Kampus tidak hanya dibayangkan sebagai mesin produksi gelar, tetapi sebagai medan perjuangan kultural dalam menghadapi derasnya arus pragmatisme dan fundamentalisme.

Dalam perspektif Bourdieu, akademisi kerap terjebak dalam “illusio”, sebuah keyakinan naif bahwa dunia ilmiah bersih dari kekuasaan dan konflik. Dr. Sa’dullah justru melampaui ilusi itu. Ia menyadari bahwa dunia akademik adalah arena yang sarat perjuangan, namun ia memilih untuk tidak larut dalam ambisi, melainkan menciptakan ekosistem keilmuan yang sehat, egaliter, dan konstruktif.

Ia membuktikan bahwa menjadi Homo Academicus bukan berarti tunduk pada hierarki simbolik, melainkan membebaskan ilmu dari belenggu eksklusivisme.

Kini, setelah kepergiannya, kita bukan hanya kehilangan seorang intelektual, melainkan kehilangan jiwa dari sebuah perguruan tinggi NU yang tumbuh bersama dirinya. Akan tetapi, sebagaimana dikatakan Bourdieu bahwa habitus itu menetap dan mengalir lewat struktur sosial, maka warisan intelektual dan etos hidup Dr. Sa’dullah akan terus hadir, baik dalam diskusi kelas, visi kampus, maupun dalam hati para mahasiswa yang ia bentuk.

Selamat jalan, Homo Academicus yang rendah hati.

Ilmumu akan terus hidup dalam napas Unisnu, dan namamu terpatri dalam sejarah sebagai cendekiawan yang tidak hanya menulis tentang kebaikan, tetapi meneladankannya.

“Innā liLlahi wa innā ilaihi rāji‘ūn.”

Ahmad Saefudin, Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Unisnu Jepara

Dr. KH. Sa'dullah Assa'idiIntelektualNahdiyinUNISNU Jepara
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Redaksi

previous post
Polres Jepara Gelar Upacara Peringati Hari Lahir Pancasila Tahun 2025
next post
Peringati Haul Mbah Moen ke-6, HIMMA Jepara Gelar Ngaji Bareng Bersama Gus Idror

You may also like

Kekerasan Pasca 30 September 1965 di Pedesaan

01/10/2026

Karnaval “Satanic” Pekalongan, Sisa Spiritual yang Rapuh

29/09/2026

Merawat Marwah NU Jepara dari Keteladanan KH Ahmad Fauzan

25/09/2026

Peran MUI dalam Penguatan Mutu Pendidikan Islam dan Kompetensi Digital

18/09/2026

Undang-Undang Pesantren Dan Orientasi Pendidikan Indonesia

05/09/2026

Ketua PBNU dan Imperatif “Tajalli” Melampaui Intelektualisme Menuju Kejernihan Hati

03/09/2026

Terkini

  • Dr Haryanto Ungkap Rahasia Manajemen Pembelajaran dalam Surat Al-Alaq

    14/10/2026
  • BPS Jepara Ingatkan, Jangan Keliru Membaca Angka Ekonomi

    14/10/2026
  • Kejar Swastisaba Wistara 2027, FKJS Jepara Perkuat Kelembagaan hingga Desa

    14/10/2026
  • Lantik PRNU Tanjung 2, Rais Syuriyah PCNU Jepara Ingatkan Dua Kriteria Pemimpin

    14/10/2026
  • LPTQ Jepara Siapkan MTQ,  Pembinaan Kader dan Syiar AI-Qur’an Jadi Prioritas

    13/10/2026
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Sign In

Keep me signed in until I sign out

Forgot your password?

Do not have an account ? Register here

Password Recovery

A new password will be emailed to you.

Have received a new password? Login here

Register New Account

Have an account? Login here