Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
GISTARA TV
Sunday, October 18, 2026
Top News
Mengenal Rubrik Penerbitan Surat Kabar, dan Majalah
Cuaca Terik, Penjual Es Teh di Jepara Berhamburan
Mengenal Nyai Hindun Anisah, Caleg DPR RI Dapil Demak, Kudus, dan...
Kolam Renang Cinta Candi Liyangan Temanggung Jawa Tengah Terbaru 2022
Fenomena Bodoh Deklarasi Kasyaf Lewat Foto
Ribuan Orang Hadiri Haul Mbah Sahil ke 18, Ini Biografinya
Sejarah Pantai Nampu Wonogiri Jawa Tengah Terbaru 2022
Peringati Hari Ibu, MIDEHA Festival Gelar Lomba Kolaborasi dengan Ibu
Tak Perlu ke Eropa, Main Salju Bisa di Dusun Semilir Bawen
Rancangan Dapil Pemilu 2024 di Jepara Tidak Berubah
Gistara
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Copyright 2021 - All Right Reserved
Muria

Kelompok 65 UIN Sunan Kudus Luncurkan SAKRAL, Gerakan Lestari Alam dan Purbakala Terban

by Redaksi 02/09/2026
Redaksi 02/09/2026 119 views
Doktor Nur Said DPL KKN 65 Bersama Kepala Desa Terban Supeno saat Penutupan KKN
119

KUDUS | GISTARA. COM— Penutupan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 65 UIN Sunan Kudus di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, tidak sekadar menandai berakhirnya masa pengabdian mahasiswa. Momentum tersebut menjadi awal lahirnya Komunitas SAKRAL (Sinergi Aksi Konservasi dan Rehabilitasi Alam dan Kepurbakalaan), sebuah gerakan ekologis dan kultural yang dirancang untuk terus berkembang bersama masyarakat, Selasa (1/9/2026).

Peluncuran SAKRAL ditandai dengan pemotongan tumpeng dan penanaman bibit pohon gayam. Tanaman tersebut dipilih karena memiliki kemampuan menyerap air serta memberikan manfaat ekologis bagi lingkungan.

Kegiatan ini menjadi simbol komitmen bersama untuk menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus warisan kepurbakalaan di kawasan Patiayam dan Desa Terban.

SAKRAL digagas sebagai upaya agar hasil KKN tidak berhenti ketika mahasiswa kembali ke kampus. Gerakan tersebut mempertemukan kepedulian masyarakat, energi generasi muda, pengetahuan akademik, dan dukungan berbagai pemangku kepentingan untuk menjaga ekosistem Bukit Patiayam serta warisan kepurbakalaan Desa Terban.

Inisiatif tersebut digagas Doktor Nur Said, Dosen Pembimbing Akademik Kelompok 65, bersama Pemerintah Desa Terban dan masyarakat setempat. Peluncuran SAKRAL mendapat dukungan Kepala Desa Terban Supeno, Ketua BPD Suparmin, Ibu Penggerak PKK Nur Fajriayag, para sesepuh, dan jajaran perangkat desa.

BACA JUGA: Duet KH Miftachul Akhyar–Gus Kikin, Nahkoda Baru PBNU 2026–2031

Nur Said mengatakan keberlanjutan KKN tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya program yang berhasil dilaksanakan selama mahasiswa berada di desa. Menurutnya, ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana program tersebut mampu terus hidup dan memberikan manfaat setelah mahasiswa kembali ke kampus.

“Mahasiswa memang akan kembali ke kampus, tetapi pengetahuan, jejaring, dan semangat pengabdiannya jangan ikut pulang. Harus ada yang tinggal di desa. Yang tinggal itu adalah kelembagaan, pengetahuan, kader masyarakat, jejaring, dan gerakan,” ujar Nur Said.

Atas dasar itu, SAKRAL tidak dirancang sebagai komunitas yang bergantung pada keberadaan mahasiswa. Masyarakat Desa Terban ditempatkan sebagai subjek sekaligus penggerak utama melalui kader-kader lokal yang diproyeksikan menjadi community organizer.

Mereka diharapkan mampu mengidentifikasi persoalan, mengorganisasi warga, membangun jejaring, dan mengawal agenda konservasi sesuai dengan kebutuhan lokal.

Agenda gerakan tersebut mencakup edukasi lingkungan, rehabilitasi kawasan, pemantauan ekosistem, perlindungan habitat, pemeliharaan sumber pangan satwa, hingga dokumentasi dan penyelamatan situs serta benda peninggalan kepurbakalaan. Sebagian peserta KKN Kelompok 65 yang memiliki perhatian terhadap isu lingkungan dan kepurbakalaan juga diharapkan tetap terhubung sebagai katalisator dan penghubung antara masyarakat dengan civitas akademika UIN Sunan Kudus.

Tim KKN UIN Sunan Kudus bersama DPL dan Kepala Desa

Salah satu perhatian utama SAKRAL adalah keberlanjutan ekosistem Bukit Patiayam. Kawasan tersebut tidak hanya memiliki nilai penting dari sisi kepurbakalaan, tetapi juga menjadi ruang kehidupan berbagai makhluk hidup. Karena itu, konservasi Patiayam dipandang tidak cukup hanya dengan menjaga pepohonan atau mencegah kerusakan lingkungan, tetapi juga harus memastikan keberlangsungan habitat dan ketersediaan sumber pangan bagi satwa.

“Kalau kita berbicara konservasi, kita tidak boleh hanya menyelamatkan fosil atau benda kepurbakalaan. Kita juga harus memastikan kehidupan yang ada sekarang tetap berlangsung. Habitat harus terjaga dan sumber pangan satwa harus tersedia,” kata Nur Said.

Menurutnya, alam, satwa, manusia, dan tinggalan kepurbakalaan merupakan bagian dari satu kesatuan ekosistem yang harus dipelihara secara bersama. Patiayam, lanjutnya, bukan hanya tempat menyimpan jejak kehidupan masa lalu, tetapi juga ruang kehidupan bagi generasi sekarang dan masa mendatang.

Dalam proses pengenalan potensi wilayah selama KKN, Kelompok 65 juga menemukan dan mendokumentasikan kekayaan tinggalan kepurbakalaan yang mencakup sedikitnya 17 spesies atau jenis fauna darat maupun laut. Kekayaan tersebut menunjukkan pentingnya Patiayam sebagai kawasan yang menyimpan rekaman kehidupan dan perubahan lingkungan pada masa lampau.

Nur Said menilai benda dan tinggalan kepurbakalaan tidak semestinya hanya dipandang sebagai benda lama. Di dalamnya terdapat informasi mengenai sejarah kehidupan, perubahan ekologi, serta hubungan manusia dengan lingkungan.

BACA JUGA: Situs Langgar Bubrah Diduga Peninggalan Era Ratu Kalinyamat, Bupati Jepara Siap Dukung Pelestarian Cagar Budaya

“Benda kepurbakalaan itu seperti arsip alam dan peradaban. Kalau kita kehilangan benda dan situsnya, kita juga berpotensi kehilangan sebagian memori kolektif tentang perjalanan kehidupan dan peradaban kita,” ujarnya.

Karena itu, penyelamatan kepurbakalaan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari agenda konservasi lingkungan dalam gerakan SAKRAL. Upaya tersebut sekaligus diarahkan untuk memperkuat kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga warisan alam dan budaya yang ada di wilayah mereka.

Keberlanjutan SAKRAL dibangun dengan prinsip bahwa masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi pemilik dan penggerak gerakan. Masyarakat Desa Terban didorong memiliki kemampuan untuk mengembangkan kegiatan konservasi secara mandiri dengan tetap memanfaatkan pengetahuan dan kearifan lokal.

Sementara itu, alumni peserta KKN Kelompok 65 diharapkan tetap menjadi bagian dari jejaring pendampingan. Civitas akademika UIN Sunan Kudus juga dapat memberikan dukungan melalui penelitian, pendidikan, pengabdian kepada masyarakat, dokumentasi, pengembangan inovasi, dan penguatan kapasitas komunitas.

“UIN tidak harus selalu hadir dengan program yang datang dari kampus. Kampus bisa menjadi mitra pengetahuan bagi masyarakat. Masyarakat memiliki pengalaman dan kearifan lokal, sementara perguruan tinggi memiliki pengetahuan akademik. Keduanya harus dipertemukan,” jelas Nur Said.

Gerakan tersebut ke depan juga diarahkan untuk membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah daerah, komunitas lingkungan dan kebudayaan, lembaga pendidikan, pemerhati kepurbakalaan, dunia usaha, serta berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap konservasi alam dan warisan budaya.

Kepala Desa Terban Supeno menyambut baik lahirnya SAKRAL. Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga potensi alam dan kepurbakalaan yang dimiliki Desa Terban. Bukit Patiayam dan berbagai tinggalan kepurbakalaan di kawasan tersebut merupakan kekayaan desa yang perlu dijaga secara bersama.

Dukungan terhadap gerakan itu juga datang dari Ketua BPD Suparmin, Ibu Penggerak PKK Nur Fajriyah, para sesepuh, dan perangkat Desa Terban. Keterlibatan berbagai unsur tersebut menjadi modal sosial untuk memastikan SAKRAL tetap berjalan setelah KKN Kelompok 65 berakhir.

Lebih dari sekadar gerakan konservasi, SAKRAL membawa pesan bahwa pelestarian alam dan kepurbakalaan berkaitan erat dengan penguatan identitas bangsa. Hubungan manusia dengan alam, ingatan sejarah, kebudayaan lokal, dan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi merupakan bagian penting dari identitas masyarakat.

Dalam konteks tersebut, menjaga Patiayam berarti mempertahankan ruang yang menyimpan jejak perjalanan kehidupan sekaligus memastikan ekosistemnya tetap mampu menopang kehidupan generasi sekarang dan mendatang. Merawat alam berarti menjaga kehidupan, mempertahankan sumber pangan satwa berarti menjaga keseimbangan ekosistem, sedangkan menyelamatkan situs dan benda kepurbakalaan berarti menjaga memori peradaban.

Peluncuran SAKRAL akhirnya menjadi penegasan bahwa keberhasilan KKN tidak semestinya hanya diukur dari jumlah kegiatan yang terlaksana selama mahasiswa berada di lokasi pengabdian. Keberhasilan yang lebih penting adalah kemampuan KKN meninggalkan pengetahuan, kader masyarakat, kelembagaan, jejaring, dan gerakan yang dapat terus hidup.

Dari Desa Terban, SAKRAL diharapkan berkembang sebagai ekosistem kolaborasi yang mempertemukan masyarakat sebagai community organizer, mahasiswa sebagai katalisator, UIN Sunan Kudus sebagai mitra pengetahuan, pemerintah sebagai fasilitator, dan berbagai pemangku kepentingan sebagai mitra gerakan. (KA)

KKN UIN Sunan KudusPelestarian lingkunganPurbakalaSAKRAL
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Redaksi

previous post
​Kolaborasi Kampus dan Komunitas, BEM UNISNU Hibahkan 1.000 Buku ke Forum TBM Jepara
next post
Ketua PKK Kabupaten Jepara Ajak Masyarakat Ubah Minyak Jelantah Jadi Rupiah

You may also like

SNT 14 Jepara Kenalkan Pembelajaran Berbasis Teknologi

17/10/2026

Perkuat Konektivitas antar  Kawasan, Ruas Jalan  Keling-Bumiharjo Dimuluskan

17/10/2026

Musran NU Srobyong, Ketua MWC NU Mlonggo Ajak Pengurus  Perkuat Peran Jam’iyah dalam Menjawab...

16/10/2026

Pemkab Jepara Dorong Peningkatan Mutu Pendidikan Lewat Revitalisasi Sekolah

16/10/2026

10 Ribu Peserta Bakal Meriahkan Karnaval Hari Santri Jepara, Berikut Rangkaian Kegiatan Hari Santri...

16/10/2026

BPS Jepara Ingatkan, Jangan Keliru Membaca Angka Ekonomi

14/10/2026

Terkini

  • Perkuat Kualitas Pendidikan, KKMA 02 Jepara Gelar Reorganisasi Pengurus MGMP Serentak

    18/10/2026
  • Terpikat Tenun Troso, Ayu Heni Rosan Roeslani Dorong UMKM Jepara Mendunia

    18/10/2026
  • MI Mathalibul Huda Mlonggo Buka Program International School, Perkuat Penguasaan Bahasa Asing

    17/10/2026
  • SNT 14 Jepara Kenalkan Pembelajaran Berbasis Teknologi

    17/10/2026
  • Perkuat Konektivitas antar  Kawasan, Ruas Jalan  Keling-Bumiharjo Dimuluskan

    17/10/2026
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Sign In

Keep me signed in until I sign out

Forgot your password?

Do not have an account ? Register here

Password Recovery

A new password will be emailed to you.

Have received a new password? Login here

Register New Account

Have an account? Login here