Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
GISTARA TV
Thursday, October 15, 2026
Top News
Mengenal Rubrik Penerbitan Surat Kabar, dan Majalah
Cuaca Terik, Penjual Es Teh di Jepara Berhamburan
Mengenal Nyai Hindun Anisah, Caleg DPR RI Dapil Demak, Kudus, dan...
Kolam Renang Cinta Candi Liyangan Temanggung Jawa Tengah Terbaru 2022
Fenomena Bodoh Deklarasi Kasyaf Lewat Foto
Ribuan Orang Hadiri Haul Mbah Sahil ke 18, Ini Biografinya
Sejarah Pantai Nampu Wonogiri Jawa Tengah Terbaru 2022
Peringati Hari Ibu, MIDEHA Festival Gelar Lomba Kolaborasi dengan Ibu
Tak Perlu ke Eropa, Main Salju Bisa di Dusun Semilir Bawen
Rancangan Dapil Pemilu 2024 di Jepara Tidak Berubah
Gistara
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Copyright 2021 - All Right Reserved
Opini

Memahami Skenario 30 September 1965

by Kunjari Ali 30/09/2023
Kunjari Ali 30/09/2023 866 views
866

Oleh : M. Dalhar

Pemutaran film yang berjudul Pengkhianatan G30S/PKI adalah salah satu versi dalam kemelut Gerakan 30 September 1965. Melalui film ini memori kolektif bangsa ini terbentuk.

Pada 30 September 1965 malam, sekelompok tentara yang dipimpin oleh Kolonel Untung melakukan upaya penculikan terhadap tujuh pimpinan senior Angkatan Darat. Operasi yang diberi nama Gerakan 30 September itu mengubah narasi sejarah bangsa Indonesia.Partai Komunis Indonesia (PKI) yang menjadi salah satu partai besar pada pemilu 1955 menjadi partai terlarang.

PKI sebagai manifestasi dari paham komunisme dianggap satu-satunya sebab meletusnya peristiwa G30S sehingga layak dihancurkan. Anti-komunisme telah menjadi wacana utama dalam masyarakat Indonesia sepanjang sejarah pemerintahan Orde Baru (1966-1998) dan sesudahnya.Selama kurang lebih 32 tahun komunisme yang menjadi inti ajaran dari PKI “ditertibkan” oleh pemerintah Orde Baru melalui TAP MPR Nomor XXV/MPRS/1966 tentang pembubaran dan larangan ideologi komunisme, marxisme, dan leninisme di Indonesia.

BACA JUGA : Diskusi Gusdurian Jepara, Tidak Verifikasi Sering Akibatkan Konflik

Dalam penelitian mutakhir yang dilakukan para peneliti memunculkan lima skenario berbeda yang dapat disarikan dari berbagai risalah tentang peristiwa 1965. Setiap skenario memiliki penjelasan dan bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pertama, pembunuhan terhadap para jenderal dipercaya seluruhnya dan dilakukan oleh PKI dan simpatisannya. Hal ini sebagaimana pemahaman awal yang tergambar dalam film yang diputar rutin setiap 30 September. PKI ingin mengganti ideologi Pancasila menjadi komunisme.

Kedua, percobaan kudeta itu adalah hasil dari pertarungan internal angkatan bersenjata.Ketiga, Jenderal Soeharto adalah pelaku sebenarnya, atau paling tidak mempengaruhi, memanipulasi, dan mengaburkan pembunuhan para jenderal itu untuk kepentingannya sendiri.

Keempat, Presiden Soekarno memberi izin atau menganjurkan para perwira yang terkucil untuk bertindak melawan kolega mereka sendiri yang disebut sebagai bagian dari ”Dewan Jenderal” rahasia. Kelima, operasi intelijen asing terlibat di dalam upaya penggulingan Soekarno yang condong ke kiri (Wijaya Herlambang, 2015).

Beberapa skenario yang ada menunjukkan bahwa apa yang terjadi di balik peristiwa 1965 bukanlah sesederhana sebagaimana dalam sejarah yang diketahui secara umum. Kompleksitas jalinan berbagai kepentingan yang ada pada waktu itu berjalan secara bersama-sama sehingga menghasilkan perisitwa yang barangkali di luar skenario sebenarnya. Alhasil, pecahlah peristiwa kelam dapat perjalanan bangsa ini. Bukan hanya 1965, tapi juga tahun-tahun setelahnya. Setiap daerah dalam waktu yang berbeda memiliki dampak yang berbeda-beda pula.

Di dalam buku-buku yang mengupas tentang kontroversi ini tidak lagi digunakan istilah G30S/PKI. Yang lazim dipakai adalah G30S tanpa kata PKI. Ada juga yang menggunakan istilah Gerakan Satu Oktober (Gestok) atau Gerakan September Tiga Puluh (Gestapu). Meski secara tata bahasa tidak benar, istilah Gestapu digunakan oleh militer untuk menyamakan dengan Gestapo, polisi rahasia Nazi Jerman yang kejam.

Setiap peristiwa tidak dapat “diraih” oleh sejarawan secara utuh. Ia selalu tidak lengkap. Diperlukan dokumen dan kesaksian para pelaku serta korban. Ibaratnya kita menyaksikan suatu peristiwa, kejadian itu tidak terliput secara keseluruhan. Ada sisi-sisi yang tidak terlihat hanya oleh satu orang. Itulah sebabnya terdapat berbagai versi dalam buku-buku sejarah.

Persitiwa sudah terjadi. Masih menyisakan trauma, stigma, dan kerugian baik yang bersifat material maupun non-material dari elemen bangsa ini. Tentu, tidak perlu dipolitisasi, kita harus bijak dalam melihat peristiwa ini.

M. Dalhar, pegiat sosial dan peminat sejarah

 

G30SM.DalharSejarah
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Kunjari Ali

previous post
Pemprov Jateng Gelar Lomba Jurnalistik  2023, Hadiahnya Ada Short Course   Jurnalistik ke Luar Negeri Lho..!
next post
Laga Persijap vs PSCS, Kapolres Jepara : Kami Siagakan 400 Personel

You may also like

Kekerasan Pasca 30 September 1965 di Pedesaan

01/10/2026

Karnaval “Satanic” Pekalongan, Sisa Spiritual yang Rapuh

29/09/2026

Merawat Marwah NU Jepara dari Keteladanan KH Ahmad Fauzan

25/09/2026

Peran MUI dalam Penguatan Mutu Pendidikan Islam dan Kompetensi Digital

18/09/2026

Undang-Undang Pesantren Dan Orientasi Pendidikan Indonesia

05/09/2026

Ketua PBNU dan Imperatif “Tajalli” Melampaui Intelektualisme Menuju Kejernihan Hati

03/09/2026

Terkini

  • Dr Haryanto Ungkap Rahasia Manajemen Pembelajaran dalam Surat Al-Alaq

    14/10/2026
  • BPS Jepara Ingatkan, Jangan Keliru Membaca Angka Ekonomi

    14/10/2026
  • Kejar Swastisaba Wistara 2027, FKJS Jepara Perkuat Kelembagaan hingga Desa

    14/10/2026
  • Lantik PRNU Tanjung 2, Rais Syuriyah PCNU Jepara Ingatkan Dua Kriteria Pemimpin

    14/10/2026
  • LPTQ Jepara Siapkan MTQ,  Pembinaan Kader dan Syiar AI-Qur’an Jadi Prioritas

    13/10/2026
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Sign In

Keep me signed in until I sign out

Forgot your password?

Do not have an account ? Register here

Password Recovery

A new password will be emailed to you.

Have received a new password? Login here

Register New Account

Have an account? Login here