Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
GISTARA TV
Thursday, September 24, 2026
Top News
Mengenal Rubrik Penerbitan Surat Kabar, dan Majalah
Cuaca Terik, Penjual Es Teh di Jepara Berhamburan
Mengenal Nyai Hindun Anisah, Caleg DPR RI Dapil Demak, Kudus, dan...
Kolam Renang Cinta Candi Liyangan Temanggung Jawa Tengah Terbaru 2022
Fenomena Bodoh Deklarasi Kasyaf Lewat Foto
Ribuan Orang Hadiri Haul Mbah Sahil ke 18, Ini Biografinya
Sejarah Pantai Nampu Wonogiri Jawa Tengah Terbaru 2022
Peringati Hari Ibu, MIDEHA Festival Gelar Lomba Kolaborasi dengan Ibu
Tak Perlu ke Eropa, Main Salju Bisa di Dusun Semilir Bawen
Rancangan Dapil Pemilu 2024 di Jepara Tidak Berubah
Gistara
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Copyright 2021 - All Right Reserved
Opini

Memaknai Syukur Kelulusan

by Kunjari Ali 04/06/2024
Kunjari Ali 04/06/2024 1.1K views
1.1K

Khoirul Muslimin

Walau ujian nasional tidak menjadi penentu kelulusan, akan tetapi peserta didik dalam merayakan kelulusan sebagai ungkapan syukur masih mengikuti tren lama, ada yang meluapkan dengan coret, coret baju, konvoi, ada juga pesta miras.

Kenyataan itu semestinya tidak harus terjadi di dunia pendidikan. karena rasa syukur tidak harus diluapkan dengan kegembiraan yang berlebihan, apalagi diluapkan dengan hal-hal yang negatif.

Hal yang demikian memang terus, menerus dilakukan oleh para pelajar, seakan menjadi tradisi dan budaya yang kurang baik.

Seharusnya peserta didik yang lulus harus bersyukur dengan ungkapan yang positif seperti menggelar do’a bersama, berbagi kepada anak yatim, membuat kegiatan bakti sosial, dan atau sujud syukur.

BACA JUGA: Wujudkan Kemandirian, Mahasiswa BCB Unisnu Susun Peta Potensi Diri

Perilaku yang berlebihan memaknai kelulusan ini, kemudian para siswa belum mampu menyongsong masa depan, bahwa masih panjang perjalanan untuk terus menempuh pendidikan yang lebih tinggi, mendalami keilmuan yang masih dangkal. Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa hal ini terjadi di dunia pendidikan formal?

BACA JUGA: Seminar Nasional di Unisnu Jepara, Inayah Wachid: Inklusivitas dengan Kolaborasi

Kalau kita lihat tradisi di Pondok Pesantren misalnya, ketika santri dinyatakan lulus, tidak ada budaya corat-coret maupun konvoi merayakan kelulusan itu. Tetapi di pesantren malah menundukkan kepala, karena beban berat berada di pundak para santri untuk melanjutkan estafet perjuangan para kiainya yang telah mengajarkan agama kepadanya. Para santri memiliki amanah untuk mengamalkan keilmuannya itu kepada masyarakat.

BACA JUGA: Mengenal Rubrik Penerbitan Surat Kabar, dan Majalah

Kalau kita perhatikan tidak ada yang berbeda pendidikan di pesantren dan di sekolah formal. Akan tetapi praktik di lapangan memang beda. Di jelaskan (A. Mukti Ali, 2017) pondok pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang di dalamnya terdapat seorang kiai (pendidik) yang mengajar para santri (anak didik) dengan sarana masjid yang digunakan untuk menyelenggarakan pendidikan tersebut.

Unsur pokok lain yang cukup membedakan pesantren dengan lembaga pendidikan lainnya adalah bahwa pada pesantren diajarkan kitab-kitab klasik yang dikarang oleh para ulama terdahulu, mengenai berbagai macam ilmu pengetahuan agama Islam dan berbahasa Arab.
Tidak ada salahnya kalau konsep pendidikan karakter yang diterapkan di pesantren di terapkan di pendidikan formal.

Hal yang paling sederhana adalah bagaimana melatih sholat tepat waktu dan jama’ah bersama. Mencium tangan ibu, bapak guru ketika ketemu, serta diprogramkan mengaji Al Qur’an. Gerakan cinta membaca Al Qur’an dan gerakan cinta agama.

BACA JUGA: Perkuat Pemahaman Aswaja PCI Fatayat NU Malaysia, Fadakom Lakukan Kerjasama Internasional

Untuk memaknai rasa syukur dilakukan dengan hal yang negatif, tentu akan berdampak negatif, tetapi kalau memaknai kelulusan dengan positif, tentu nilai positif yang memberikan dorongan pada pelajar untuk berpacu prestasi dan berpacu untuk meningkatkan keilmuannya yang lebih tinggi.

Sebagai penulis, tentu prihatin dengan kondisi generasi penerus yang tidak menghargai dirinya untuk kemudian nanti akan menjadi pemimpin bangsa. Kalau awalnya sudah dimulai dengan budaya dan tradisi yang salah. Tentu genarasi ini menjadi generasi yang rapuh. Tidak bisa menjadi generasi yang kuat dan tangguh untuk melawan segala bentuk kejahatan yang menghancurkan tanah kelahiran kita yaitu Indoesia raya.

Untuk menghasilkan generasi yang baik, tentu pendidikan agama menjadi penting untuk diajarkan secara menyeluruh tidak sepotong-sepotong, sehingga melahirkan generasi muda yang cendekia dan berakhlaqul karimah.

Khoirul Muslimin, Dosen Unisnu Jepara, Anggota Dewan Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, dan Ketua Lakpesdam PCNU Jepara

Doa BersamaKelulusanSyukur
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Kunjari Ali

previous post
Keren, 42 Dosen Unisnu Jepara Lolos Pendanaan Hibah DRTPM Kemendikbudristek
next post
Gus Nung Naik Haji, Pak Roqib Jabat Plt. Wakil Ketua DPRD Jepara

You may also like

Peran MUI dalam Penguatan Mutu Pendidikan Islam dan Kompetensi Digital

18/09/2026

Undang-Undang Pesantren Dan Orientasi Pendidikan Indonesia

05/09/2026

Ketua PBNU dan Imperatif “Tajalli” Melampaui Intelektualisme Menuju Kejernihan Hati

03/09/2026

Kembalinya Trah Tebuireng, Gus Kikin dan Perebutan Makna Identitas NU

01/09/2026

Muktamar NU ke-35, Asap yang Padam di Ruang Sidang

29/08/2026

Hari Keempat Muktamar NU ke-35: Kematangan Peserta Memilih AHWA

29/08/2026

Terkini

  • PMII Jepara Dorong Kader Jadi Pelopor Demokrasi dalam Pilpet 2026

    24/09/2026
  • Tambang Tanah Uruk Kecapi Kembali Beroperasi, Tim Terpadu Hentikan Aktivitas

    24/09/2026
  • Pengurus LPTQ Jepara 2026-2031 Dilantik, Syiar dan Habituasi Al-Qur’an Jadi Fokus

    23/09/2026
  • Awali Jepara Kite Festival 2026 Launching Lagu Layang-Layang, Pelangi Jepara Gelar Konser Musik Gratis 

    23/09/2026
  • Perkuat Literasi Kepemiluan, Bawaslu Jepara Gelar Kelas Penyelesaian Sengketa Proses Pemilu di UAJ

    22/09/2026
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Sign In

Keep me signed in until I sign out

Forgot your password?

Do not have an account ? Register here

Password Recovery

A new password will be emailed to you.

Have received a new password? Login here

Register New Account

Have an account? Login here