Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
GISTARA TV
Friday, September 18, 2026
Top News
Mengenal Rubrik Penerbitan Surat Kabar, dan Majalah
Cuaca Terik, Penjual Es Teh di Jepara Berhamburan
Mengenal Nyai Hindun Anisah, Caleg DPR RI Dapil Demak, Kudus, dan...
Kolam Renang Cinta Candi Liyangan Temanggung Jawa Tengah Terbaru 2022
Fenomena Bodoh Deklarasi Kasyaf Lewat Foto
Ribuan Orang Hadiri Haul Mbah Sahil ke 18, Ini Biografinya
Peringati Hari Ibu, MIDEHA Festival Gelar Lomba Kolaborasi dengan Ibu
Sejarah Pantai Nampu Wonogiri Jawa Tengah Terbaru 2022
Tak Perlu ke Eropa, Main Salju Bisa di Dusun Semilir Bawen
Rancangan Dapil Pemilu 2024 di Jepara Tidak Berubah
Gistara
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Copyright 2021 - All Right Reserved
Opini

Horog-Horog Jepara hingga Baratan Sebagai Diplomasi Damai Lintas Budaya

by Redaksi 20/10/2025
Redaksi 20/10/2025 622 views
622

Oleh: Dr. Muh Khamdan

Ada yang istimewa dari Jepara tahun ini. Enam warisan budayanya lolos untuk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia 2025. Keenamnya meliputi horog-horog, batik Jepara, bandeng serani, ukir kaligrafi Jepara, memeden gadhu, dan baratan Kalinyamatan, bukan sekadar simbol kebanggaan lokal.

Lebih dari itu, ia adalah wujud konkret dari diplomasi budaya yang mampu menjadi jembatan perdamaian lintas etnis, agama, dan bangsa.

Dalam konteks global yang kian kompetitif, pengakuan terhadap WBTb menjadi lebih dari sekadar pencatatan administratif. Ia adalah strategi lunak untuk menegaskan identitas, memperkuat posisi budaya dalam arus globalisasi, sekaligus mencegah potensi konflik klaim budaya antardaerah maupun antarnegara.

Di sinilah Jepara menunjukkan keteladanan, yaitu menjaga tradisi bukan untuk mengurung diri dalam lokalitas, melainkan memperluas cakrawala harmoni.

BACA JUGA: Jepara Gandeng UGM, Tata Kawasan Wisata Pesisir dengan Sentuhan Sains

Kita tahu, dunia kerap menyaksikan sengketa budaya, dari batik yang diklaim lintas batas, hingga kuliner yang menjadi ajang perebutan citra nasional.

Dalam situasi seperti itu, pengakuan terhadap WBTb berfungsi sebagai bentuk resolusi konflik kultural. Menegaskan asal-usul dengan penghormatan, bukan permusuhan. Ketika budaya diakui secara resmi, ruang dialog menjadi lebih luas, dan tensi klaim menjadi mereda.

Jepara memahami itu dengan baik. Kota ini sejak lama dikenal sebagai ruang pertemuan berbagai peradaban, baik Jawa, Arab, Tionghoa, hingga Eropa. Di sana, budaya tidak pernah diam. Ia hidup melalui interaksi, penyesuaian, dan inovasi.

Karena itulah, horog-horog dan bandeng serani tidak hanya berbicara tentang cita rasa, tetapi juga tentang narasi diplomasi budaya melalui kuliner. Sebuah pendekatan lembut yang bisa lebih efektif daripada retorika politik.

BACA JUGA: PLN UIK Tanjung Jati B melalui YBM Salurkan Santunan untuk Guru Ngaji di Desa Petekeyan

Diplomasi budaya melalui kuliner telah lama menjadi praktik global. Korea Selatan misalnya, memanfaatkan strategi ini secara sistematis. K-Pop membuka pintu, drama Korea (drakor) memperluas emosi kolektif, dan kuliner khas Korea memperkuat kedekatan emosional masyarakat dunia. Melalui jalur ini, Korea tidak hanya mengekspor produk, tetapi juga menanamkan nilai dan identitas nasionalnya dalam imajinasi publik internasional.

Jepara pun memiliki potensi serupa. Bandeng serani dapat menjadi ikon gastronomi pesisir yang memperkenalkan nilai harmoni dan kesederhanaan masyarakat Jepara.

Horog-horog, dengan bahan baku sagu lokal, menyampaikan pesan kemandirian pangan dan keberlanjutan ekologis. Bila dikembangkan secara strategis, kedua kuliner ini dapat menjadi alat diplomasi kultural Indonesia di panggung global.

Dr. Muh Khamdan

Namun, diplomasi budaya tidak hanya berjalan di dapur. Ia juga hadir di panggung-panggung seni. Sebagaimana baratan Kalinyamatan, sebuah festival lentera yang memadukan spiritualitas, solidaritas sosial, dan keindahan visual.

BACA JUGA: Kapolres Jepara Hadiri Peringatan HSN dan HAB Kemenag Tahun 2025

Di tengah dunia yang terpolarisasi oleh identitas, baratan menghadirkan narasi kebersamaan lintas iman dan generasi. Ia adalah diplomasi budaya yang lahir dari bawah, dari warga yang menyalakan terang di tengah gelapnya sekat sosial.

Jepara melalui ukir kaligrafi juga menghadirkan model diplomasi estetik yang menautkan iman dan seni. Dalam setiap pahatan, tersimpan nilai spiritual Islam yang universal, damai, indah, dan beradab.

Seni ukir kaligrafi menjadi pesan lembut bahwa perbedaan keyakinan tidak perlu menimbulkan benturan, justru bisa melahirkan karya yang memperkaya khazanah kemanusiaan.

Sementara memeden gadhu, dengan akar tradisi agrarisnya, mengajarkan diplomasi ekologis. Tradisi itu menegaskan hubungan harmonis antara manusia dan alam, antara petani dan tanahnya.

Dalam konteks krisis lingkungan global, memeden gadhu menjadi simbol universal tentang pentingnya menghormati bumi, sebuah pesan damai yang melampaui batas budaya.

BACA JUGA: Bupati Jepara: Perbaikan Gedung DPRD Jepara Gunakan Anggaran Pusat

Jika kita meninjau dari teori Joseph Nye tentang soft power, budaya memiliki kekuatan yang jauh lebih tahan lama dibandingkan kekuasaan militer atau ekonomi.

Soft power bekerja melalui daya tarik, bukan paksaan. Jepara kini mempraktikkan teori itu secara lokal, menggunakan budaya sebagai alat untuk memengaruhi, menyentuh, dan menyatukan. Dengan demikian, pengakuan WBTb bukan hanya penghormatan, tapi juga strategi politik kebudayaan.

Kampanye budaya semacam ini adalah diplomasi tanpa suara, namun dampaknya nyata. Ketika orang mengenakan batik Jepara, menikmati bandeng serani, atau menghadiri baratan, sesungguhnya mereka sedang menjadi bagian dari jejaring diplomasi kultural. Mereka tidak sedang “menonton budaya”, tetapi ikut merayakan perbedaan yang damai.

Jepara kini memiliki momentum besar untuk membangun ekosistem pariwisata kreatif dan diplomatik. Pemerintah daerah, pelaku UMKM, seniman, dan akademisi perlu bersinergi membangun narasi bersama bahwa Jepara bukan sekadar kota ukir, tetapi kota budaya dan kedamaian lintas budaya.

Pengakuan WBTb 2025 harus diikuti dengan langkah nyata menuju branding budaya yang inklusif dan mendunia.

Akhirnya, enam warisan budaya yang diakui ini adalah pesan moral untuk Indonesia dan dunia, bahwa kebudayaan bukan sumber klaim, melainkan sumber persatuan.

Dari horog-horog hingga baratan Kalinyamatan, Jepara menunjukkan bagaimana tradisi bisa menjadi diplomasi, dan diplomasi bisa melahirkan perdamaian. Di tengah dunia yang rentan konflik identitas, Jepara berdiri sebagai teladan. Kota kecil dengan jiwa besar yang menyalakan cahaya dari warisan budayanya.

Dr. Muh Khamdan,  Doktor Studi Perdamaian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Analis Kebijakan Publik

Horog-horogMemeden gaduPindang serani
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Redaksi

previous post
Anugerah JIFDA 2025, Momentum Kebangkitan Industri Furnitur dan Seni Ukir Jepara
next post
Diwisuda, 103 Panatacara Diminta Jaga Budaya Jawa

You may also like

Peran MUI dalam Penguatan Mutu Pendidikan Islam dan Kompetensi Digital

18/09/2026

Undang-Undang Pesantren Dan Orientasi Pendidikan Indonesia

05/09/2026

Ketua PBNU dan Imperatif “Tajalli” Melampaui Intelektualisme Menuju Kejernihan Hati

03/09/2026

Kembalinya Trah Tebuireng, Gus Kikin dan Perebutan Makna Identitas NU

01/09/2026

Muktamar NU ke-35, Asap yang Padam di Ruang Sidang

29/08/2026

Hari Keempat Muktamar NU ke-35: Kematangan Peserta Memilih AHWA

29/08/2026

Terkini

  • Bupati Jepara Rotasi 29 Pejabat, Penguatan Layanan Kesehatan Jadi Sorotan

    18/09/2026
  • 3.500 Peserta Ikuti Persimanu II, Wujudkan Siswa Ma’arif Berprestasi dan Nasionalis

    18/09/2026
  • Peran MUI dalam Penguatan Mutu Pendidikan Islam dan Kompetensi Digital

    18/09/2026
  • Harhubnas: Trans Jateng Jepara-Kudus-Pati Ditarget Beroperasi 2028

    17/09/2026
  • Belajar Menjadi Pemimpin, Mahasiswa BCB Unisnu Jepara Kaji Kepemimpinan dan Pengambilan Keputusan

    17/09/2026
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Sign In

Keep me signed in until I sign out

Forgot your password?

Do not have an account ? Register here

Password Recovery

A new password will be emailed to you.

Have received a new password? Login here

Register New Account

Have an account? Login here