Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
GISTARA TV
Thursday, October 8, 2026
Top News
Mengenal Rubrik Penerbitan Surat Kabar, dan Majalah
Cuaca Terik, Penjual Es Teh di Jepara Berhamburan
Mengenal Nyai Hindun Anisah, Caleg DPR RI Dapil Demak, Kudus, dan...
Kolam Renang Cinta Candi Liyangan Temanggung Jawa Tengah Terbaru 2022
Fenomena Bodoh Deklarasi Kasyaf Lewat Foto
Ribuan Orang Hadiri Haul Mbah Sahil ke 18, Ini Biografinya
Sejarah Pantai Nampu Wonogiri Jawa Tengah Terbaru 2022
Peringati Hari Ibu, MIDEHA Festival Gelar Lomba Kolaborasi dengan Ibu
Tak Perlu ke Eropa, Main Salju Bisa di Dusun Semilir Bawen
Rancangan Dapil Pemilu 2024 di Jepara Tidak Berubah
Gistara
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Copyright 2021 - All Right Reserved
Opini

FOMO dan Pergeseran Makna Tahun Baru di Era Medsos

by Redaksi 04/01/2026
Redaksi 04/01/2026 288 views
288

Oleh: Eky Putri Febriyani

Ledakan kembang api di malam pergantian tahun kini tidak hanya menerangi langit, tetapi juga membanjiri lini masa media sosial (medsos). Perayaan tahun baru yang dahulu identik dengan kebersamaan, refleksi, dan harapan baru, perlahan bergeser menjadi ajang pembuktian eksistensi digital.

Hitung mundur, konser, dan pesta publik tidak lagi berhenti sebagai pengalaman personal, melainkan berubah menjadi konten yang harus dibagikan agar kehadiran sosial diakui.

Perubahan ini mencerminkan fenomena Fear of Missing Out (FOMO), yaitu kecemasan tertinggal dari pengalaman sosial yang dianggap penting. Di era media sosial, FOMO tidak lagi sekadar persoalan psikologis individu, melainkan gejala kultural yang diproduksi secara sistemik.

BACA JUGA: Jelang Nataru, UMKM Mitra Binaan PLN UIK Tanjung Jati B Borong Juara Lomba Produk Kopi Olahan Petani Kabupaten Jepara

Malam tahun baru menjadi momentum puncak, ketika media sosial menghadirkan standar perayaan yang seragam: ramai, meriah, dan layak ditampilkan. Siapa yang tidak hadir atau tidak membagikannya berisiko merasa tersisih.

Riset Przybylski dkk. (2013) menunjukkan bahwa intensitas penggunaan media sosial berkorelasi dengan meningkatnya FOMO dan menurunnya kepuasan hidup akibat perbandingan sosial yang terus-menerus.

Dalam konteks pergantian tahun, individu tidak hanya merayakan momen, tetapi juga mengelola citra diri. Perayaan bergeser dari pengalaman menjadi representasi. Yang penting bukan lagi apa yang dirasakan, melainkan apa yang terlihat.

Media sosial berperan besar dalam perubahan makna ini. Guy Debord menyebut kondisi ini sebagai society of the spectacle, ketika pengalaman sosial berubah menjadi tontonan dan nilai individu diukur dari apa yang tampak.

BACA JUGA: Punya Wisata dari Bahari hingga Religi, Kecamatan  Tahunan Digagas Jadi Wisata Terintegrasi

Pada malam tahun baru, logika ini bekerja dengan jelas. Lini masa dipenuhi unggahan kembang api, konser, dan hitung mundur massal. Sebaliknya, mereka yang merayakan secara sederhana, memilih diam di rumah, atau tidak merayakan sama sekali, kerap merasa “tidak ikut apa-apa”, meski secara faktual tidak kehilangan apa pun.

Fenomena ini terlihat nyata di lapangan. Tidak sedikit orang yang keluar rumah hanya untuk merekam kembang api, bukan untuk menikmatinya. Ada pula yang mengunggah ulang dokumentasi tahun sebelumnya agar tetap tampak hadir secara digital.

Eky Putri Febriyani

Dalam kondisi ini, absensi dari unggahan kerap disalahartikan sebagai absensi sosial. Media sosial menciptakan ilusi bahwa semua orang merayakan dengan cara yang sama, padahal realitas sosial jauh lebih beragam.

Dari sini tampak bahwa FOMO bekerja secara struktural. Ia bukan sekadar masalah individu yang kurang bersyukur atau terlalu sensitif, melainkan hasil dari ekosistem komunikasi digital yang mendorong visibilitas, perbandingan, dan validasi sebagai ukuran partisipasi sosial.

Akibatnya, makna perayaan mengalami penyempitan simbolik. Tahun baru tidak lagi dipahami sebagai momen refleksi, tetapi sebagai ajang tampil. Pengalaman personal kehilangan nilai ketika tidak diakui secara publik.

BACA JUGA: Gubernur Jateng Minta Kader PMII Kawal Program Pemerintah

Menghadapi fenomena FOMO di malam pergantian tahun, diperlukan kesadaran kolektif untuk menata ulang cara memaknai perayaan.

Pada level individu, penting untuk mulai bersikap lebih reflektif terhadap penggunaan media sosial. Tidak setiap momen perlu dibagikan, dan tidak setiap perayaan harus ditampilkan. Mengurangi dorongan untuk terus terlihat hadir secara digital dapat menjadi langkah kecil untuk mengembalikan perayaan sebagai pengalaman yang benar-benar dinikmati, bukan sekadar dikonsumsi secara visual.

Pada level sosial, keluarga dan komunitas perlu membuka ruang bagi keberagaman cara merayakan tahun baru. Perayaan yang sederhana, hening, atau bahkan tanpa perayaan sama sekali seharusnya tidak dianggap sebagai ketidakhadiran sosial.

Dengan demikian, tekanan simbolik untuk selalu tampil dapat dikurangi, terutama bagi generasi muda yang rentan terhadap perbandingan sosial di media digital.

Sementara itu, media sosial sebagai ekosistem komunikasi juga perlu dipahami secara lebih kritis. Literasi digital tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan platform, tetapi juga kemampuan untuk menyadari dampak psikologis dan kultural dari budaya visibilitas yang terus-menerus. Kesadaran ini penting agar media sosial kembali menjadi ruang berbagi, bukan arena kompetisi simbolik.

Harapannya, perayaan tahun baru ke depan tidak lagi diukur dari seberapa ramai unggahan di lini masa, melainkan dari seberapa bermakna pengalaman yang dijalani.

Eky Putri Febriyani,  Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam UNISNU Jepara

FomoMedia sosialPergeseran makna tahun baru
0 FacebookTwitterPinterestEmail
Redaksi

previous post
Bupati Jepara Usulkan Sekolah Terintegrasi di Karimunjawan kepada Mendikdasmen
next post
Polisi yang Terluka saat Kawal Demo di Jepara Dapat Kenaikan Pangkat

You may also like

Kekerasan Pasca 30 September 1965 di Pedesaan

01/10/2026

Karnaval “Satanic” Pekalongan, Sisa Spiritual yang Rapuh

29/09/2026

Merawat Marwah NU Jepara dari Keteladanan KH Ahmad Fauzan

25/09/2026

Peran MUI dalam Penguatan Mutu Pendidikan Islam dan Kompetensi Digital

18/09/2026

Undang-Undang Pesantren Dan Orientasi Pendidikan Indonesia

05/09/2026

Ketua PBNU dan Imperatif “Tajalli” Melampaui Intelektualisme Menuju Kejernihan Hati

03/09/2026

Terkini

  • Perkuat Jejaring Akademik Internasional, Prodi PAI UNISNU Jepara Kolaborasi Riset dengan IIUM Malaysia

    07/10/2026
  • Pemkab Jepara Salurkan BLT DBHCHT ke 4.813 Butuh dan Petani Tembakau

    07/10/2026
  • Cetak Instruktur yang Berkualitas, PC PMII Jepara Gelar Pelatihan Instruktur Cabang

    06/10/2026
  • Bimwin bagi Calon Pengantin, Wujudkan Keluarga yang Harmonis dan Berkualitas 

    06/10/2026
  • Pemkab Jepara Dorong BUMDesa Masuk Rantai Pasok Ritel

    06/10/2026
Gistara
  • Home
  • Nasional
  • Regional
    • Semarangan
    • Muria
    • Kedu
    • Banyumasan
    • Pantura
    • Solo Raya
  • Politik
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Kolom
    • Opini
    • Risalah
    • Tokoh
    • Cerpen
    • Catatan Redaksi
  • Lainnya
    • Budaya
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Info Grafis
    • Plesir
    • Kuliner
    • Religi
Sign In

Keep me signed in until I sign out

Forgot your password?

Do not have an account ? Register here

Password Recovery

A new password will be emailed to you.

Have received a new password? Login here

Register New Account

Have an account? Login here