Dr. Shohibul Itmam (berkaca mata) berdiskusi dengan Dr. Nur Said
KUDUS | GISTARA. COM – Dunia kampus dengan mimbar akademiknya selama ini menjadi pusat kajian keilmuan dan perumusan konsep untuk menjawab berbagai persoalan kemanusiaan. Namun, realitasnya, kampus kini dihadapkan pada beragam tantangan yang tidak ringan.
Pesatnya perkembangan dan perubahan sosial di lingkungan akademik menuntut para akademisi untuk terus memperbarui wawasan dan keilmuan, tanpa meninggalkan koridor keilmuan dan nilai-nilai dasar sebagai ilmuwan.
Menyikapi kondisi tersebut, sejumlah dosen UIN Sunan Kudus yang tergabung dan aktif dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) berkumpul untuk merancang sebuah gagasan penting: perlunya menjaga keseimbangan antara kajian intelektual dan spiritual.
BACA JUGA: Gubernur Jateng Minta Kader PMII Kawal Program Pemerintah
Keseimbangan ini dinilai krusial agar kampus tetap eksis sebagai pusat penyemaian gagasan, konsep, dan solusi atas berbagai persoalan empiris yang dihadapi masyarakat.
Sebagai respons atas apa yang dirasakan sebagai “kekeringan spiritual” di dunia akademik, para dosen PMII UIN Sunan Kudus merancang pelaksanaan Istighosah Hasyimiyyah. Dr. Shohibul Itmam salah satu penggagas menjelaskan, kegiatan ini diproyeksikan menjadi salah satu ikhtiar untuk merawat kesehatan batin dunia kampus sekaligus menyeimbangkan dinamika intelektual yang berkembang.
“Melalui ikhtiar tersebut, kampus diharapkan kembali menjadi ruang akademik yang sehat dan menyehatkan bagi seluruh sivitas akademika dalam menghadapi dan menyelesaikan persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan,” jelasnya pada gistara. com, Rabu (21/1/26).
Lebih lanjut, Dr. Itmam menejelaskan, Istighosah Hasyimiyyah yang dirancang juga dimaknai sebagai penguatan peran dosen Nahdlatul Ulama (NU) di lingkungan kampus. Para dosen NU didorong untuk terus melakukan transformasi sosial secara dinamis, baik dalam merespons perkembangan zaman maupun dinamika internal NU.
BACA JUGA: Investor Spanyol Tinjau Industri Mebel Jepara
Tak hanya istighosah, kegiatan ini direncanakan dirangkai dengan bedah kitab Muqaddimah Qanun Asasi. Keduanya bertujuan memperkuat kapasitas akademik sekaligus spiritual, khususnya bagi kader NU di kampus, agar mampu menjadi penyejuk dan peneduh di tengah berbagai gejolak yang terjadi, baik di internal NU maupun di masyarakat luas.
Selain sebagai penguatan kapasitas, istighosah dan bedah kitab ini juga diharapkan menjadi media silaturahmi yang saling menguatkan antarkader NU, sekaligus meneguhkan posisi kampus sebagai pusat kajian keilmuan yang seimbang antara intelektualitas dan spiritualitas.
“Kampus perlu dijaga keseimbangannya, agar kajian intelektual sejalan dengan kajian spiritual,” pungkas Dr. Itmam.(KA)