JEPARA | GISTARA. COM – Pawai Subuh Suci yang telah menjadi tradisi di Jemaat GITJ Margokerto, Bondo, Jepara sejak 28 tahun lalu dalam merayakan kebangkitan Tuhan Yesus kembali digelar hari Minggu (05/4/2026).
Pawai Subuh Suci yang mulai diselenggarakan pada tahun 1988 semula diprakarsai oleh Ketua Komisi Sekolah Minggu GITJ Margokerto Krisworini bersama guru sekolah minggu diantaranya Margaret Satumi, Sumarti, Hariyati, dan Sudarmi.
Prosesi Pawai Subuh Suci yang diikuti oleh ribuan jemaat ini dimulai pada pukul 03.30 WIB. Mereka terdiri dari warga jemaat mulai sekolah minggu, remaja, pemuda dan jemaat dewasa.
BACA JUGA: Tebar Kepedulian, BMT KOPIKANU Santuni Duafa dan Yatama
Acara pawai subuh suci dimulai di depan GITJ Margokerto dan dibuka dengan doa oleh pendeta Tri Atmono M.Th. Mereka keliling padukuhan Margokerto dengan membawa obor, lampion dan lilin. Mereka juga menaikkan pujian untuk kemuliaan nama Tuhan. Mereka juga memakai berbagai macam asesoris yang melambangkan kebangkitan Yesus
Suasana sakral begitu terasa, saat ratusan lampion, lilin dan juga obor dinyalakan dan mengiringi langkah mereka untuk melakukan pawai subuh suci.

Kemeriahan pawai subuh suci
Dengan membawa obor dan menyanyikan pujian bagi kebesaran Tuhan, jemaat berkeliling padukuhan Margokerto. Prosesi diakhiri dengan ibadah Subuh Suci di halaman belakang gereja yang dipimpin oleh Pdt. Tri Atmono dengan tema Menang Tanpa Perang yang diambil dari Roma 6: 9-10 Pada akhir acara dilakukan pembagian telur Paskah, makan bersama dan pembagian hadiah kepada peserta terbaik oleh ketua panitia, Kusbiyantoro.
Hadir juga pendeta Pentakosta Fani S.Th, Pendeta Rano Surita, Guru Injil Elia Dwi Apriyanti dan Ketua Majelis Eko Prasetyo bersama anggota majelis, dan para pengurus komisi dan kelompok.
BACA JUGA: Wisata Religi Masjid Mantingan, Jejak Sejarah Islam di Jepara
Sebelumnya telah dilakukan ibadah dan doa puasa pada 30 Maret – 01 April 2026 serta ibadah Jum’at Agung dan Perjamuan Kudus pada tanggal 3 April 2026.
Sejarah
Jemaat yang didirikan pada tahun 1901 oleh Guru Injill Esrom bersama 7 temannya ini merayakan paskah dengan menyelenggarakan prosesi ritual penyaliban hingga kebangkitan Tuhan Yesus. Prosesi ini disebut sebagai pawai subuh suci. Kini salah satu jemaat tertua ini memiliki warga jemaat sekitar 2.300 jiwa.
BACA JUGA: Haul Gus Dur ke-16 : Guru Bangsa yang Mencintai Tanpa Sekat
Menurut Ketua Umum Majelis GITJ Margokerto Eko Prasetyo prosesi pawai obor subuh suci ini merupakan tradisi yang digelar setiap tahun, sejak tahun 1988. Ritual itu tetap dipertahankan sampai sekarang karena dinilai sebagai cara yang tepat untuk merayakan kebangkitan Yesus sekaligus menjaga kebersamaan umat.
“Harapan kami ada semangat yang baru dalam semua lini pelayanan, kebersamaan, persekutuan, mengembangkan kreativitas sebagai media untuk kesaksian bagi warga masyarakat secara umum juga luar daerah,” pungkas Eko Prasetyo
Prosesi pawai Subuh Suci yang mulai digelar tahun 1988, semula hanya dilakukan oleh anak-anak sekolah minggu dan diselenggarakan oleh Komisi Sekolah Minggu GITJ Margokerto. Namun kemudian berkembang hingga melibatkan seluruh warga jemaat. (KA)