JEPARA | GISTARA. COM – Suasana khidmat nan artistik menyelimuti Pendopo Alit, Rumah Dinas Wakil Bupati Jepara, pada Sabtu malam (11/04/2026). Di bawah langit Kota Ukir, Pengurus Cabang (PC) Lesbumi NU Jepara bersama Pengurus Wilayah (PW) Lesbumi NU Jawa Tengah menggelar “Malam Gelar dan Orasi Budaya” dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-64 Lesbumi NU dan sekaligus Hari Jadi ke-477 Kabupaten Jepara.
Acara dibuka dengan dentuman ritmis Terbang Telon. Kesenian tradisional yang mulai langka di telinga generasi muda ini sengaja dihadirkan oleh Lesbumi dan Ishari sebagai pengingat akan kekayaan akar rumput.
Kemeriahan pun berlanjut saat kelompok Sekar Lesbumi naik panggung, membawakan tembang-tembang sarat filosofi seperti Lir-ilir, Shokhibu Baiti, Syiir Tanpa Waton, Rampak Oseng, hingga Bang Bang Wetan.
BACA JUGA: Pameran TATAH 2026, Kuatkan Identitas Jepara sebagai Kota Ukir
Seni sebagai Jalan Tauhid dan Pengetahuan
Puncak acara diisi dengan orasi budaya yang memukau. Ketua PB Lesbumi NU, KH. Jadul Maula menegaskan bahwa seni bukanlah sekadar ekspresi kosong, melainkan penyajian cara berpikir yang menghasilkan ilmu pengetahuan.
Ia mengingatkan bahwa agama harus selaras dengan seni dan ilmu untuk menjaga hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Tak kalah penting, ia menegaskan bahwa Resolusi Jihad belum dicabut, sehingga menjaga kedaulatan adalah kewajiban mutlak.
Senada dengan itu, Ketua Tanfidziyah PCNU Jepara, KH. Charis Rohman, dalam sambutannya menyebutkan bahwa kehadiran Lesbumi adalah manifestasi dari pemahaman Islam terhadap kehidupan manusia yang mencakup sisi ilmuwan, ekonomi, hingga hiburan (budaya).

KH. Jadul Maula sampaikan orasi budaya
Pesan mendalam juga datang dari Ki Suryaningrat dalang wayang golek asal Pemalang, yang membedah simbolisme huruf “Ho”dan “Alif” sebagai penanda ketauhidan dalam gerak kebudayaan.
Sinergi Lintas Daerah dan Pelestarian Lokal
Momen ini juga menjadi saksi solidaritas Lesbumi se-Jawa Tengah. Tercatat, delegasi dari 10 PC Lesbumi hadir langsung untuk memberikan dukungan, yakni: PC Lesbumi Kudus, PC Lesbumi Pati, PC Lesbumi Rembang, PC Lesbumi Demak, PC Lesbumi Kendal, PC Lesbumi Batang, PC Lesbumi Kabupaten Pekalongan, PC Lesbumi Kota Pekalongan, PC Lesbumi Pemalang, PC Lesbumi Purworejo.
Selain itu, hadir pula Nur Hidayat Ketua Komisi C DPRD Jepara, Gus Fahsin PWNU Jateng, serta Kariyono Kabag Kesra Jepara yang mewakili pemerintah daerah dalam memberikan apresiasi atas peran Lesbumi sebagai garda terdepan pelestarian budaya.
Riset dan Apresiasi Seni
Di sela acara, dipaparkan pula peran Suluk Mantingan, divisi riset dan publikasi Lesbumi Jepara, yang tengah bersinergi dengan Dinas Kebudayaan untuk mengawal tradisi Todok Telok dari Kemojan agar diakui sebagai warisan budaya tak benda.
BACA JUGA: Halal Bihalal NU-Muhammadiyah, Sinergi Wujudkan Jepara MULUS
Malam semakin larut namun semangat tak luruh saat Aloeth PC Lesbumi Pati dan Sri Penny Latifah Habiba PW Lesbumi Jateng membacakan puisi yang menyentuh kalbu.
Pentas apik Ki Sugiyarto dan Ki Soleh dari Sanggar Putuh Langgar Langon menghibur hadirin dengan seni Kentrung sebuah pertunjukan tutur yang membawa penonton kembali ke masa keemasan tradisi lisan.
Kegaiayan diakhiri dengan tumpengan sebagai simbol rasa syukur atas perjalanan 64 tahun Lesbumi mengabdi pada seni dan Islam Nusantara. (KA)