JEPARA | GISTARA. COM – Festival Memeden Gadhu menjadi ruang pertemuan antara tradisi, kreativitas anak muda, dan kepedulian terhadap lingkungan. Kegiatan yang berlangsung meriah itu menghadirkan lokakarya seni pertunjukan bersama komunitas Anima Wayang dari Solo, workshop pembuatan Memeden Gadhu, hingga workshop zine yang dipandu komunitas Kultuju Jaringan dari Tegal, (23/5/26).
Ketua Program Memeden Gadhu Den Hasan mengatakan, Lokakarya Anima Wayang menjadi salah satu kegiatan yang paling menarik perhatian. Ada 100 pelajar sekolah dasar mengikuti workshop yang mengenalkan proses pembuatan karakter wayang hingga latihan pengisian suara.
“Anak-anak diajak memahami seni pertunjukan dengan cara yang menyenangkan sekaligus membangun keberanian dan kerja sama,” jelas Den Hasan
BACA JUGA: Taj Yasin Nilai Tradisi Perang Obor Miliki Potensi Jadi Destinasi Wisata Budaya Unggulan di Jateng
Lebih lanjut Den Hasan menjelaskan, dari seluruh peserta, terpilih 15 anak yang kemudian tampil pada malam harinya di hadapan ratusan penonton. Penampilan mereka menjadi bukti bahwa regenerasi pelaku seni tradisi dapat tumbuh sejak usia dini ketika diberikan ruang berekspresi dan pendampingan yang tepat.
Naskah pertunjukan yang dibawakan Anima Wayang juga mengangkat pesan tentang keseimbangan alam dan pentingnya menjaga lingkungan.

Penampilan seni tari tradisional yang memukau
Cerita mengenai kehidupan satwa hutan dan saling ketergantungan antar makhluk hidup menjadi pengingat bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga keberlanjutan alam.
“Pesan tersebut sejalan dengan semangat tradisi Memeden Gadhu yang sejak lama dekat dengan kehidupan masyarakat dan siklus alam,” imbuh Den Hasan
Den Hasan menjelaskan, workshop pembuatan Memeden Gadhu mengajak peserta memahami proses kreatif di balik tradisi tersebut, mulai dari bentuk, simbol, hingga makna budaya yang diwariskan turun-temurun.
BACA JUGA: Meriah, Perang Obor Tegalsambi Sedot Ribuan Wisatawan
Sementara workshop zine bersama komunitas Kultuju Jaringan Tegal membuka ruang bagi anak muda untuk mendokumentasikan gagasan, pengalaman, dan keresahan mereka melalui media visual dan tulisan independen.
Festival ini juga dihadiri Pamong Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jepara, Lia Supardianik, pegiat literasi M. Ali Burhan, serta pegiat budaya Didin Ardiansyah. Kehadiran mereka memperlihatkan dukungan terhadap upaya pelestarian budaya yang melibatkan generasi muda secara langsung.
Melalui Festival Memeden Gadhu, tradisi tidak hanya dipertontonkan, tetapi dihidupkan kembali sebagai ruang belajar bersama. Seni, lingkungan, dan regenerasi bertemu dalam satu perayaan budaya yang menegaskan bahwa tradisi dapat terus relevan ketika diwariskan dengan cara yang dekat dengan kehidupan generasi hari ini. (KA)