JEPARA | GISTARA.COM — Suasana hangat dan penuh khidmah menyelimuti Pelatihan Kader Dasar (PKD) yang diselenggarakan oleh PMII Komisariat Sultan Hadlirin Jepara. Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari berbagai perguruan tinggi, di antaranya UNISNU Jepara, UIN Walisongo Semarang, Universitas Muhammadiyah Semarang, UIN Sunan Kudus, serta UIN Saifuddin Zuhri Purwokerto.
Dalam kegiatan tersebut, Khoirul Muslimin selaku narasumber menyampaikan materi bertajuk Analisis Sosial dan Rekayasa Sosial sebagai bagian dari upaya intelektualisasi kader PMII.
Ia menegaskan bahwa analisis sosial merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki setiap kader dalam membaca realitas masyarakat. Analisis sosial tidak hanya berhenti pada melihat fenomena, tetapi juga menuntut kader untuk memahami nilai, norma, serta struktur sosial yang membentuk suatu persoalan.
“Permasalahan sosial tidak cukup dilihat dari permukaannya saja. Kader harus mampu menemukan akar masalah agar solusi yang dihasilkan tepat sasaran,” ungkapnya saat menyampaikan materi di Rusunawa UNISNU Jepara, Ahad (31/5/2026).
BACA JUGA: Kartu Sarjana Jepara Dibuka, Berikut Cara Daftar dan Persyaratannya
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa rekayasa sosial merupakan tahap lanjutan dari analisis sosial. Jika analisis berfungsi untuk memahami, maka rekayasa sosial menjadi langkah konkret untuk melakukan perubahan melalui tindakan yang terencana dan sistematis.
Dalam pemaparannya, Khoirul Muslimin juga menguraikan pentingnya problem solving cycle sebagai pendekatan dalam menyelesaikan persoalan sosial. Tahapan tersebut meliputi identifikasi masalah, analisis penyebab, perumusan solusi, implementasi, hingga evaluasi. Dengan metode ini, kader diharapkan mampu bergerak secara terarah, sistematis, dan berkelanjutan.
“Kader PMII memiliki peran strategis sebagai agen perubahan (agent of change), pengontrol sosial (social control), serta bagian dari gerakan sosial (social movement). Karena itu, kader harus mampu menyeimbangkan antara kemampuan berpikir kritis dan keberanian untuk bertindak,” tegas Khoirul Muslimin, yang juga menjabat Wakil Dekan Fakultas Komunikasi dan Desain UNISNU Jepara.
Dalam kesempatan itu, ia meminta peserta untuk melakukan praktik analisis sosial terhadap isu aktual, yakni kasus kekerasan seksual di pondok pesantren. Diskusi ini bertujuan melatih kepekaan kader dalam membaca persoalan sosial secara lebih mendalam dan komprehensif.
BACA JUGA: PMII Soroti Akses dan Kualitas Pendidikan Jepara
Salah satu kelompok peserta menyampaikan bahwa hasil analisis mereka menunjukkan faktor penyebab utama, yakni ketimpangan relasi kuasa antara kiai dan santri, rendahnya keberanian korban untuk melapor, minimnya edukasi seks di lingkungan pesantren, serta lemahnya kontrol diri pelaku.
“Hasil yang didapat dengan pendekatan problem solving cycle menunjukkan bahwa akar masalah terletak pada relasi kuasa yang timpang dan kurangnya sistem perlindungan korban,” ungkap Angeli Apriliani Putri UIN Saizu Purwokerto perwakilan kelompok 4
Adapun solusi yang dirumuskan antara lain penguatan edukasi seks di lingkungan pesantren, peningkatan kesadaran calon santri dalam memilih lembaga pendidikan, penyediaan pendampingan bagi korban, penegakan hukum terhadap pelaku, serta integrasi pendidikan seks ke dalam kurikulum pesantren secara kontekstual dan edukatif.
Kegiatan PKD ini menjadi ruang strategis dalam membentuk kader yang tidak hanya aktif secara organisatoris, tetapi juga memiliki kapasitas intelektual dan kepekaan sosial yang tinggi. Selain itu, forum ini juga mendorong kader untuk tidak berhenti pada diskusi, tetapi berani mengambil peran nyata dalam merespons persoalan sosial di masyarakat.
Dengan materi yang disampaikan, diharapkan kader PMII mampu mengintegrasikan antara pemikiran dan gerakan. Sebab, kader sejati bukan hanya memahami realitas, tetapi juga mampu menghadirkan perubahan nyata di tengah masyarakat—dari wacana menuju aksi, dari analisis menuju transformasi sosial. (KA/KM)