KUBU RAYA | GISTARA. COM – Dua dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus, Dr. Shohibul Itmam, M.H. dan M. Maarif, M.H., melakukan penelitian lapangan di kawasan Sungai Kapuas, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, saat dalam perjalanan riset menuju Malaysia (25/6/26).
Selain menjalankan agenda penelitian, keduanya juga menyempatkan diri bertemu dengan sejumlah akademisi di UIN Pontianak untuk memperkuat jejaring akademik dan membahas berbagai peluang kerja sama di bidang pendidikan dan penelitian.
Dalam penelusuran di wilayah sekitar Sungai Kapuas, kedua dosen tersebut memperoleh berbagai informasi terkait dinamika sosial dan budaya masyarakat setempat. Salah satu narasumber yang ditemui adalah Toto Warsito, pensiunan perusahaan asing yang kini berprofesi sebagai pengemudi Grab.
BACA JUGA: Dadan Hindayana: Dari Akademisi, Kepala BGN hingga Berujung Ditangkap Kejagung
Menurut Toto, Kabupaten Kubu Raya dan sejumlah daerah lain di Kalimantan Barat memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan Sungai Kapuas. Masyarakat setempat selama puluhan tahun menggantungkan aktivitas ekonomi mereka pada sungai terpanjang di Indonesia tersebut.
“Pada era 1980-an hingga 1990-an, Sungai Kapuas menjadi aset utama perekonomian masyarakat. Salah satu sumber penghasilan warga saat itu berasal dari pemanfaatan pasir dasar sungai yang memiliki nilai ekonomi tinggi sebagai bahan bangunan,” ungkapnya.
Namun, memasuki era 2000-an, masyarakat di sekitar Sungai Kapuas mulai mengalami pergeseran budaya. Perubahan tersebut terjadi di tengah keberagaman etnis yang mendiami kawasan tersebut, mulai dari suku Dayak, Melayu, Tionghoa, Jawa, Madura, hingga Bugis. Suku Melayu dan Dayak merupakan penduduk asli yang telah lama menetap di wilayah tersebut.
Dari hasil pengamatan dan wawancara yang dilakukan, Dr. Shohibul Itmam dan M. Maarif menemukan bahwa perubahan budaya masyarakat berkaitan erat dengan meningkatnya tingkat pendidikan. Jika sebelumnya mayoritas penduduk hanya menempuh pendidikan dasar hingga menengah, kini sekitar 40 persen masyarakat telah mengakses pendidikan tinggi.
BACA JUGA: 850 Pekerja Kantongi Kartu Mebel Jepara, Hadirkan Perlindungan Kesehatan hingga Akses Kuliah
Peningkatan kualitas pendidikan tersebut dinilai turut mengubah pola pikir, cara pandang, dan orientasi ekonomi masyarakat yang sebelumnya sangat bergantung pada potensi alam Sungai Kapuas.
“Kemajuan pendidikan membuka peluang lahirnya inovasi dan pengelolaan sumber daya yang lebih modern. Hal ini menjadi faktor penting dalam proses transformasi sosial yang terjadi di masyarakat sekitar Sungai Kapuas,” ujar mereka.
Melalui temuan penelitian ini, kedua dosen UIN Sunan Kudus berharap Sungai Kapuas tidak hanya menjadi penopang kehidupan masyarakat secara tradisional, tetapi juga dapat berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat yang dikelola secara lebih modern, profesional, dan berkelanjutan melalui dukungan pendidikan serta penguatan sumber daya manusia. (KA/SI)