Niswatur Rohmah Cahaya di Balik Pondok Pesantren Al Ikhlas

Niswatur Rohmah

JEPARA | GISTARA. COM – Kesuksesan seseorang sering kali lahir dari perjuangan yang panjang dan penuh pengorbanan. Hal itu tergambar dalam sosok Niswatur Rohmah, seorang pendidik pesantren yang lahir di Jepara, 6 Mei 1974. Ia dikenal sebagai pribadi yang baik, perhatian, lembut, sederhana, dan penyayang.

Dengan postur tubuh yang pendek, berkulit putih, serta penampilan yang sederhana, ia memancarkan keteladanan melalui akhlak, keikhlasan, dan semangat juangnya.

Di balik kesederhanaannya, tersimpan kisah perjuangan luar biasa dalam membangun keluarga, mendidik santri, serta mengembangkan lembaga pendidikan Islam hingga menjadi salah satu pesantren yang berkembang di Kabupaten Jepara.

Niswatur Rohmah lahir dan dibesarkan di Jepara sebagai anak pertama dari delapan bersaudara. Ia berasal dari keluarga yang hidup sederhana, tetapi sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama.

BACA JUGA: Situs Langgar Bubrah Diduga Peninggalan Era Ratu Kalinyamat, Bupati Jepara Siap Dukung Pelestarian Cagar Budaya

Sejak kecil, ia telah dididik untuk mencintai Al-Qur’an dan mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan dasarnya ditempuh di SD Krapyak, kemudian beliau mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Setelah lulus sekolah dasar, ia rela meninggalkan pendidikan formal demi memperdalam ilmu agama di Pondok Pesantren Mamba’ul Qur’an Mayong, Jepara.

Keputusan tersebut menjadi awal dari perjalanan hidup yang penuh makna. Berkat kecerdasan, ketekunan, dan semangat belajar yang tinggi, ia mampu menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an hanya dalam waktu sekitar dua setengah tahun, meskipun usianya masih sangat muda. Prestasi itu menjadi bekal utama dalam menjalankan dakwah dan pendidikan sepanjang hidupnya.

Di usia 17 tahun, ia menikah dengan Ahmad Syafi’in, seorang pemuda asal Purwodadi yang memiliki cita-cita yang sama dalam menyebarkan ilmu agama. Bersama sang suami, beliau mendirikan Pondok Pesantren Al Ikhlas yang berlokasi di Desa Krapyak, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara.

Membangun pesantren dari nol bukanlah perjalanan yang mudah. Dengan kondisi ekonomi yang terbatas, keduanya harus bekerja keras agar pesantren tetap berjalan dan kebutuhan keluarga dapat terpenuhi.

BACA JUGA: Kupas KDMP, PMII Jepara Ingatkan Pentingnya Tata Kelola Profesional

Selain mengajar para santri di pesantren, ia juga menjalankan usaha rumahan dengan membuat kue apem. Hampir setiap malam ia begadang untuk menyelesaikan pesanan pelanggan. Saat pagi hari ia mengajar santri di pesantren, kemudian melanjutkan mengajar di TPQ pada siang harinya.

Rutinitas yang padat tersebut dijalani tanpa rasa lelah ataupun mengeluh. Bagi beliau, setiap pekerjaan adalah bentuk ibadah yang harus dilakukan dengan penuh keikhlasan.

Cobaan hidup kembali datang ketika suami tercinta jatuh sakit. Pada saat itu ia harus merawat suaminya dengan sepenuh hati, sementara dirinya sedang mengandung anak kelima. Tidak lama kemudian, suaminya wafat dan meninggalkan amanah besar yang harus beliau lanjutkan seorang diri.

Dengan penuh ketabahan, beliau membesarkan kelima anaknya, yaitu Nurul Faticha, Badriyatus Shofa, Achmad Agus Miftach, Achmad Misbachul Munir, dan Ahnaf Arijul Mitski, yang memiliki jarak usia berdekatan. Di saat yang sama, ia tetap memimpin dan mengasuh puluhan santri serta santriwati yang belajar di Pondok Pesantren Al Ikhlas.

BACA JUGA: Multaqo LMY Kecamatan Jepara 2026 Ditutup, Tebar Kepedulian kepada Anak Yatim dan Guru TPQ
Perjuangan yang dijalani tidak pernah membuat ia kehilangan semangat. Sebaliknya, setiap ujian justru memperkuat tekadnya untuk terus mengembangkan pesantren yang telah dirintis bersama almarhum suaminya.Ia selalu menjaga hafalan Al-Qur’an sebagai sumber kekuatan dalam menghadapi setiap kesulitan. Berkat kerja keras, doa, serta dukungan putra-putranya, Pondok Pesantren Al Ikhlas kini berkembang sangat pesat.

Tidak hanya menjadi pesantren, tetapi juga telah memiliki berbagai lembaga pendidikan, seperti Madrasah Diniyah, MTs, dan MA. Saat ini, pesantren tersebut juga sedang membangun sebuah masjid sebagai pusat ibadah dan pembinaan umat.

Perjalanan panjang Niswatur Rohmah membuktikan bahwa keberhasilan bukanlah hasil dari keberuntungan semata, melainkan buah dari kesabaran, kerja keras, keikhlasan, dan keyakinan kepada Allah Swt. Sosok beliau menjadi teladan bahwa seorang perempuan mampu menjadi ibu, pendidik, pemimpin, sekaligus pejuang yang tidak pernah menyerah dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

BACA JUGA: Di Tengah Puing-Puing Rumah, BAZNAS Jepara Hadir Ringankan Kesedihan Pak Bungkus

Kisah hidup Niswatur Rohmah mengajarkan bahwa setiap kesulitan akan selalu disertai jalan keluar bagi mereka yang tetap berusaha dan berserah diri kepada Allah Swt.

Strategi sukses yang ia pegang sederhana namun bermakna, yaitu tidak pernah menyerah, terus berusaha, selalu berjuang, serta menjaga hafalan Al-Qur’an dalam keadaan apa pun.

Keteguhan hati itulah yang akhirnya mengantarkan Pondok Pesantren Al Ikhlas menjadi lembaga pendidikan Islam yang terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Ia selalu menyampaikan pesan yang menjadi pegangan hidupnya, “Jadilah wanita pejuang, tangguh, dan tetaplah istiqamah dalam hal-hal baik. Jagalah Al-Qur’anmu, karena semua akan Allah ganti dengan hal-hal yang lebih baik. Sepiro angelmu, semono ugo hasil sing ditompo.Pesannya saat diwawancarai (15/7/26).

Hal tersebut menjadi motivasi bahwa sebesar apa pun perjuangan yang dijalani, hasil yang diperoleh akan sebanding dengan usaha, kesabaran, dan keikhlasan yang diberikan. (KA)

Penulis: Noor Nella BeautyMahasiswa KPI Unisnu Jepara

Related posts

Jejak Pengabdian Eko Heri Purwanto

PKW Cetak Wirausaha Muda Penggerak Ekonomi Kreatif

Kupas KDMP, PMII Jepara Ingatkan Pentingnya Tata Kelola Profesional