Senja di Beranda Tua

Karya: Nanda Azroul Aulia

Di ujung sebuah desa yang dikelilingi hamparan sawah, berdirilah sebuah rumah kayu yang telah dimakan usia. Catnya mengelupas, gentingnya berlumut, namun beranda rumah itu selalu menjadi tempat paling damai ketika senja tiba.Di situlah Kirana sering duduk seorang diri.

Setiap sore, ia membawa sebuah buku tua peninggalan ayahnya. Tak selalu dibaca, kadang hanya dipeluk erat sambil memandangi matahari yang perlahan tenggelam di balik perbukitan. Baginya, senja selalu membawa kenangan yang tak pernah selesai.

Suatu hari, seorang pemuda bernama Arga datang ke desa itu. Ia adalah guru baru yang ditugaskan mengajar di sekolah kecil dekat sungai. Berbeda dengan kebanyakan pendatang yang segera kembali ke kota saat hari libur, Arga justru gemar berjalan kaki menyusuri pematang sawah, menyapa siapa saja yang ditemuinya.

Perkenalan mereka terjadi tanpa sengaja.

“Apakah kau selalu duduk di sini setiap senja?” tanya Arga ketika melewati rumah itu.

Kirana mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis.

“Ya. Senja tak pernah lupa datang. Aku pun tak ingin lupa menunggunya.”

Jawaban itu membuat Arga terdiam sejenak.

Sejak hari itu, hampir setiap senja mereka berbincang di beranda tua. Mereka berbicara tentang buku-buku lama, hujan pertama di awal musim, aroma tanah selepas diguyur air, juga mimpi-mimpi yang diam-diam mereka simpan.

Tak ada kata cinta yang terucap.

Namun setiap percakapan terasa lebih hangat daripada secangkir teh yang mengepul di atas meja kayu.

BACA JUGA: BAZNAS Kabupaten Jepara Mengucapkan Dirgahayu RI ke-81

Musim berganti.

Padi menguning, lalu dipanen. Sungai yang semula penuh perlahan menyusut. Daun-daun jati mulai gugur tertiup angin kemarau.

Suatu sore, Arga datang dengan wajah yang berbeda.

“Aku mendapat kabar,” katanya lirih. “Tugasku dipindahkan ke kota.”

Kirana hanya mengangguk.

Ia tahu, setiap pertemuan telah membawa takdir perpisahannya sendiri.

“Kapankah kau berangkat?”

“Lusa pagi.”

Tak ada lagi percakapan setelah itu.

Mereka memilih menikmati senja yang perlahan berubah menjadi malam.

Keesokan harinya, Arga datang membawa sebuah buku bersampul cokelat.

“Aku tak punya banyak hal untuk dikenang dariku,” ucapnya. “Terimalah buku ini.”

Kirana menerimanya dengan kedua tangan.

Di halaman pertama tertulis sebuah kalimat sederhana.

“Barangkali jarak dapat memisahkan langkah, tetapi tidak dengan kenangan yang tumbuh dalam diam.”

Pagi keberangkatan tiba.

Kereta yang ditumpangi Arga perlahan menjauh meninggalkan desa.

Tak ada tangis.

Tak ada lambaian panjang.

Hanya sepasang mata yang memandang hingga bayangan kereta hilang di balik tikungan.

Tahun-tahun berlalu.

Rumah kayu itu tetap berdiri, meski usianya semakin renta. Beranda tuanya masih menghadap ke arah matahari tenggelam.

Kirana tetap datang setiap senja.

BACA JUGA: Dr. Hj. Hindun Anisah, MA., Anggota DPR RI Fraksi PKB Mengucapkan Dirgahayu Republik Indonesia ke-81

Rambutnya mulai panjang tergerai, wajahnya semakin dewasa, tetapi kebiasaannya tak pernah berubah. Ia masih membuka buku pemberian Arga, lalu membaca kalimat di halaman pertama seolah baru pertama kali melihatnya.

Orang-orang desa sering bertanya mengapa ia tak pernah meninggalkan rumah itu.

Kirana hanya tersenyum.

“Ada hal-hal yang tak harus dimiliki agar tetap hidup di dalam hati.”

Senja kembali turun.

Langit memerah seperti lukisan lama yang tak pernah pudar.

Angin membawa harum padi yang menguning.

Di beranda tua itu, Kirana memahami satu hal.

Bahwa cinta yang paling abadi bukanlah cinta yang selalu bersama, melainkan cinta yang tetap hidup meski hanya menjadi kenangan.

Dan sebagaimana senja yang selalu datang sebelum malam, kenangan akan selalu pulang kepada hati yang setia menunggu.

Malam-malam setelah kepergian Arga terasa lebih sunyi daripada biasanya.

Jam dinding tua di ruang tengah masih berdetak dengan irama yang sama, tetapi bagi Kirana, setiap detiknya seolah berjalan lebih lambat. Ia tetap menyeduh teh hangat menjelang senja, meletakkan dua cangkir di atas meja kecil di beranda, lalu tersenyum kecil ketika menyadari hanya satu cangkir yang akan disentuh.

Musim kembali berganti.

Pohon-pohon trembesi di sepanjang jalan desa tumbuh semakin rindang. Anak-anak yang dahulu diajar Arga telah beranjak remaja. Sebagian merantau ke kota, sebagian lagi memilih tetap tinggal menggarap sawah milik keluarga.

Sementara itu, Kirana mulai membuka perpustakaan kecil peninggalan ayahnya. Rak-rak yang dahulu dipenuhi debu kini tertata rapi. Setiap sore, anak-anak desa datang membaca cerita rakyat, kisah para pelaut, hingga buku-buku puisi yang mulai menguning.

Mereka memanggilnya dengan hormat.

“Bu Kirana, bolehkah saya meminjam buku ini?”

“Tentu,” jawab Kirana lembut. “Buku akan lebih bahagia jika dibaca.”

Perpustakaan kecil itu perlahan menjadi tempat yang hidup. Tawa anak-anak kembali memenuhi halaman rumah yang selama bertahun-tahun hanya ditemani desir angin.

Namun, ada satu kebiasaan yang tidak pernah berubah.

Setiap senja, setelah anak-anak pulang, Kirana duduk di beranda sambil memandang jalan setapak yang membelah hamparan sawah.

Bukan karena berharap.

Melainkan karena jalan itu telah menjadi bagian dari kenangan.

Pada suatu pagi di awal musim hujan, seorang lelaki tua datang ke perpustakaan membawa sebuah koper kulit yang tampak usang.

“Apakah benar ini rumah Nona Kirana?” tanyanya sopan.

“Benar. Ada yang bisa saya bantu?”

Lelaki itu mengangguk pelan.

“Saya dahulu bekerja bersama seorang guru bernama Arga.”

Nama itu membuat tangan Kirana yang sedang merapikan buku berhenti seketika.

Lelaki tua tersebut membuka kopernya, lalu mengeluarkan sebuah buku bersampul hijau yang diikat pita cokelat.

“Sebelum wafat, Tuan Arga menitipkan ini kepada saya. Beliau berpesan, jika suatu hari saya sempat kembali ke desa ini, buku ini harus sampai kepada pemiliknya.”

Dunia seakan berhenti berputar.

Kirana menerima buku itu dengan tangan gemetar.

“Beliau… telah tiada?”

Lelaki itu mengangguk perlahan.

“Beberapa tahun lalu. Sakitnya datang tiba-tiba. Namun hingga hari-hari terakhirnya, beliau masih sering menyebut desa ini.”

Setelah mengucapkan salam, lelaki tua itu pergi meninggalkan rumah.

Hujan turun perlahan.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Kirana menangis.

Bukan tangis yang meledak-ledak, melainkan tangis yang tenang, seperti hujan yang membasahi tanah tanpa suara.

————

Malam itu, ia membuka buku bersampul hijau tersebut.

Di halaman pertama tertulis tulisan tangan Arga.

“Jika buku pertama adalah kenangan, maka buku kedua adalah perpisahan.”

Lembar demi lembar berisi catatan perjalanan Arga selama mengajar di berbagai daerah.

Tentang murid-murid yang mengajarinya arti kesabaran.

Tentang desa-desa yang mengingatkannya pada rumah.

BACA JUGA: Kirab Budaya Gerakkan Ekonomi Wong Cilik

Dan hampir di setiap akhir catatan terdapat satu kalimat yang sama.

“Aku masih mengingat senja di beranda tua.”

Di halaman terakhir terselip sehelai bunga kenanga yang telah mengering.

Di bawahnya tertulis,

“Barangkali kita memang tidak ditakdirkan berjalan hingga ujung jalan yang sama. Namun aku bersyukur pernah berjalan bersamamu, walau hanya sejauh senja.”

Kirana menutup buku itu perlahan.

Ia memandang ke luar jendela.

Hujan telah reda.

Di langit timur, bulan muncul di sela awan.

Malam terasa begitu sunyi, tetapi untuk pertama kalinya kesunyian itu tidak lagi menyakitkan.

Karena ia mengerti, seseorang tidak benar-benar pergi selama namanya masih disebut dalam doa, dan kebaikannya masih hidup di hati orang-orang yang pernah ditemuinya.

Sejak hari itu, di sudut perpustakaan kecil tersebut, Kirana meletakkan dua buku berdampingan.

Satu buku peninggalan ayahnya.

Satu lagi buku peninggalan Arga.

Di bawah kedua buku itu terpasang sebuah papan kayu sederhana.

“Ilmu akan membuat nama seseorang hidup lebih lama daripada usianya.”

Dan setiap senja, ketika cahaya keemasan menyentuh beranda tua itu, anak-anak desa akan melihat Kirana tersenyum.

Bukan karena ia masih menunggu seseorang pulang.

Melainkan karena akhirnya ia memahami, ada cinta yang tidak meminta untuk dimiliki.

Cinta seperti itu cukup hidup dalam kenangan, tumbuh dalam kebaikan, dan abadi dalam waktu.

Nanda Azroul Aulia, Kelas XII MA NU Tengguli Bangsri Jepara

Related posts

Sepotong Sore

Untuk Siapa?

Sekolah Malam